Saturday, August 1, 2020 0 comments

Konsepsi Marx tentang Komunisme (Bagian I)


I.                   Di mana dan Mengapa Marx Menulis tentang Komunisme

MARX menetapkan bagi dirinya sendiri tugas yang sepenuhnya berbeda dengan kaum sosialis sebelumnya; prioritas mutlaknya adalah ‘menyingkapkan hukum gerak ekonomi masyarakat modern’. Tujuannya ialah mengembangkan kritik menyeluruh atas moda produksi kapitalis, yang akan mendukung kaum proletar, subjek revolusioner yang utama, dalam menggulingkan sistem sosial-ekonomi yang ada sekarang.

Selain itu, karena ia sama sekali tak berharap untuk menciptakan agama baru, Marx menahan diri untuk tidak mempromosikan gagasan yang menurutnya secara teoretis tidak berfaedah dan secara politis kontra-produktif: model universal masyarakat komunis. Karena alasan inilah, dalam ‘Penutup Edisi Kedua’ (1873) dari Kapital, Volume I (1867), ia menjelaskan bahwa dirinya tidak punya minat untuk ‘menulis resep-resep bagi toko-toko masakan di masa depan’. Ia juga menerangkan maksud pernyataan terkenal ini dalam ‘Catatan-Catatan Kecil untuk Wagner’ (1879-80), di mana sebagai respon atas kritik dari ekonom Jerman Adolph Wagner (1835-1917), ia menegaskan bahwa dirinya tak pernah ‘menegakkan suatu ‘sistem sosialis’.

Wednesday, July 22, 2020 0 comments

Jalan Terbuka Materialisme Historis

            Setelah beberapa bulan membahas krisis COVID-19 dan Gerakan Black Lives Matter, kali ini saya baru berkesempatan untuk memberikan tanggapan atas analisis yang sangat apik dari Hendra Manggopa. Alangkah bahagianya ketika mengetahui bahwa tulisan saya dibaca dan ditanggapi oleh salah satu intelektual libertarian kanan Indonesia yang ahli dalam tradisi pemikiran Mazhab Austria.

Dalam tulisan di website Suara Kebebasan yang berjudul Jalan Buntu Materialisme Historis, Hendra Manggopa mengupas cara berpikir khas Marxian yaitu materialisme historis. Selain itu, dia juga meringkas soal bagaimana masyarakat kapitalisme dijelaskan lewat Das Kapital Volume I (1867) oleh Marx. Rangkuman apik ini bersepakat dengan analisis libertarian kanan Djohan Rady, Marxisme: Narasi Ideologis yang Tak Faktual bahwa menurutnya Marxisme adalah narasi ideologis ketimbang kajian sosial ilmiah yang mempunyai basis material dan empiris. Klaim inilah yang kiranya menarik untuk dibahas.

Thursday, July 16, 2020 0 comments

Siapakah Lumpen-proletariat?

 RAKYAT miskin, terutama mereka yang tidak menjadi bagian dari kelas pekerja, merupakan salah satu objek diskusi yang mungkin masih penuh dengan ketidakjelasan dalam tradisi Marxisme (lihat Bussard 1987; Draper 1972). Ini terutama terkait dengan ekspresi politik mereka, yang dalam tulisan Karl Marx dan Friedrich Engels sering disebut dengan nada negatif dan peyoratif sebagai lumpen-proletariat. Pengertian umum, terutama yang mengacu pada Manifesto Komunis (1848), amat tegas menyebutkan lumpen-proletariat sebagai kelas yang reaksioner, konservatif, dan berbahaya bagi perjuangan kelas karena mereka mudah disuap untuk mendukung kepentingan kelas kapitalis. Tapi apa dan siapa sebenarnya yang disebut oleh Marx sebagai lumpen-proletariat? Mengapa Marx dan Engels amat sinis menjelaskan peran politik lumpen-proletariat dalam masyarakat kapitalis?

Para teoretisi Marxis selama ini telah keliru memahami lumpen-proletariat sebagai kelompok sosial (underclass, non-kelas) dengan bentuk keagenannya yang spesifik, yakni yang reaksioner dan berbahaya. Kekeliruan itu sama persis dengan pandangan yang secara eksklusif menempatkan kelas pekerja sebagai agen transformatif yang utama dan satu-satunya.

Friday, July 10, 2020 0 comments

Marxisme dan Neurosains

  

APA yang ada di bayangan kamu ketika mendengar neurosains? Sebelum mengetahuinya dari dosen dan teman sekampus, saya pasti berpendapat bahwa itu adalah semacam ilmu pengetahuan eropa. Karena euro dan sains, lalu huruf n-nya kira-kira apa ya? Intinya tidak semua orang mengetahui neurosains. Bukan karena tidak gaul atau kurang update. Tapi memang ilmu ini belum menjadi salah satu bahasan utama di masyarakat kita, khususnya Indonesia. Padahal kajian ini cukup seru dan penting. Pernahkah kalian tahu jikalau jantung kita itu dikendalikan oleh bagian otak yang bernama medulla oblongata? Atau kesadaran dan tidur kita dikendalikan oleh bagian otak yang bernama thalamus? Lewat neurosains inilah hal-hal aneh tersebut dibahas. Apa Anda tertarik? Atau tidak sama sekali? Kalau tidak tertarik lebih baik lanjut lagi scroll Twitter atau Instagram Anda.

Thursday, July 2, 2020 0 comments

Marxisme dan Meditasi

 

APAKAH ada di antara Anda yang mengatahui soal meditasi atau bahkan pernah bermeditasi? Ya, betul. Duduk bersila, memangku tangan di pangkuan, memejamkan mata sambil mengatur nafas pelan-pelan. Jika belum pernah mencoba, barangkali Anda minimal pernah mengetahuinya. Jika kurang jeli, mungkin terlihat sedikit tak berbeda dengan berdoa, bertapa atau mungkin tertidur. Padahal sebenarnya sungguh berbeda. Meditasi dalam KBBI didefiniskan menjadi pemusatan pikiran dan perasaan untuk mencapai sesuatu. Secara umum, meditasi merupakan praktik seorang individu atau kelompok dengan menggunakan berbagai Teknik. Misalnya dengan penuh perhatian, memfokuskan pikiran, atau mengamati suatu objek sepenuhnya dalam melatih kesadaran hingga mampu mencapai ketenangan fisik dan batin. Praktik ini telah lazim digunakan dalam budaya timur sejak sebelum masehi, khususnya di India lewat tradisi Hindu dan Buddha. Para Sadhu-Sadhvi dan Bhiksu-Bhiksuni masih mempraktikannya sampai hari ini. Tujuannya tentu saja untuk mendapatkan ketenangan batin dan mencapai suatu pencerahan.

Thursday, June 25, 2020 0 comments

Marxisme dan Pisau Dapurnya

 

APAKAH Anda pernah menonton acara memasak yang dibintangi oleh Chef Farah Quinn atau Chef Marinka? Jika ya, coba perhatikan ketika para chef itu secara cekatan memotong bahan masakan dengan pisau. Rasa-rasanya sungguh membuat kita seketika menelan air liur, karena lapar tentunya. Lalu apa hubungannya memasak dengan tulisan ini? Tulisan ini saya niatkan sebagai tanggapan atas tulisan Fathul Purnomo yang, menurut saya, cukup menarik dan penting untuk didiskusikan lebih lanjut.

Alangkah baiknya langsung kita mulai saja. Beberapa dari Anda mungkin memiliki laptop dan smartphone, minimal handphone. Sempat terpikirkah dari mana dan apa yang memungkinkan handphone ada bersama dengan Anda sekarang di toilet? Meski tidak terlalu penting, barangkali sambil, melamun cobalah sekali-sekali Anda renungkan, karena hal ini yang akan saya bahas dalam tulisan ini.

Manusia dan Teknologi

Wednesday, June 17, 2020 0 comments

Che dan Strategi Gerilyanya

 

PADA tanggal 9 Oktober 52 tahun yang lalu, seorang laki-laki berambut panjang berantakan, berpakaian lusuh dan kotor tergeletak tak bernyawa setelah dimuntahi tiga timah panas oleh salah seorang sersan tentara Bolivia. Dikarenakan beberapa anggota pasukannya mati di pertempuran, sersan ini secara sukarela mengajukan diri menjadi algojo dalam pengeksekusian di La Higuera pagi itu. Laki-laki yang terbaring berlumur darah di lantai kamar itu tak lain merupakan Ernesto ‘Che’ Guevara.

Sang revolusioner kelahiran Argentina itu membantu Fidel dan Raul Castro menyingkirkan rezim Fulgencio Batista di Kuba. Dibandingkan kemenangannya yang gemilang di Santa Clara, kisahnya di Bolivia kala itu sungguh tragis dan berbeda. Terlepas dari beragam kontroversinya, setengah abad telah berlalu namun wajahnya hingga kini masih terpampang dari alun-alun Havana sampai menghiasi cover buku di salah satu toko buku di Jakarta. Lewat potretnya yang legendaris itu ia menjadi figur yang sangat populer, tak hanya di dunia aktivisme namun juga dalam budaya pop. Ia menjadi suatu simbol perlawanan di satu sisi dan menjadi suatu brand di sisi yang lain. Kisah heroiknya sudah banyak kita baca dan beberapa lainnya kita tonton di dalam film. Soal keberanian nan heroiknya, kita patut angkat topi. Perihal pemikiran kritisnya, tentu harus kita pelajari.

Tak hanya angkat senjata dan bergerilya di hutan belantara melawan tentara Batista, Che ternyata juga gemar membaca buku dan menuangkan gagasannya ke dalam tulisan. Dari beberapa karyanya, yang paling dikenal mungkin buku rangkuman pengalamannya dalam keikutsertaannya selama perang gerilya di Kuba. Salah satu rangkuman itu dibukukan pada tahun 1961 dan diberi judul La Guerra de Guerrillas atau dalam bahasa Inggris Guerrilla Warfare yang artinya Perang Gerilya. Selain Mao Zedong dan Ho Chi Minh, Che Guevara adalah salah satu revolusioner dari Amerika Latin yang berkontribusi dalam merumuskan kembali semangat perjuangan bersenjata dan metode perang gerilya dalam rangka perebutan kekuasaan, khususnya untuk kondisi geografis serta sosio-ekopol di Benua Amerika pertengahan abad ke-20. Che juga melanjutkan tradisi panjang analisis Kiri tentang persoalan militer yang dirintis Engels.

 
;