Saturday, October 22, 2016 0 comments

​PERGUMULAN MALAM


Biarkan ku sendiri memahami seluruh manusia
Walau rasanya sepi
Sunyi
Berharap adalah obat yg terbaik
Jangan lagi memanggilku Sosialis
Ketika aku menikmati egoku
Sepi
Namun ramai dalam kerumunan pemikiran
Lalu otakku bimbang
Akan segala putusan yg ambigu
Penat
Ketika mondar-mandir mencipta gelisah
Dan kontra memantapkan tembok pemisah
Aku dan keramaian seakan musuh
Dan penengahnya ialah setan-setan
Mereka tertawa bersama malaikat
Di perjamuan malam
Hari raya Qurban
Atau segala kisah suci keagamaan
Mampus
Biarkan diriku membusuk dalam kesepi


Saturday, October 15, 2016 1 comments

DUNIA PETERNAKAN


"wanita itu siapa, pagi-pagi dia sudah menyapu membersihkan daun jelatang di pelataran kampus", tanyaku kepada satpam kampus yg daritadi matanya hanya mengawasi tiap orang yg masuk area kampus. Matanya tanda bahwa ia sedang waspada, mungkin ia sedang mencari orang yg mulutnya lebar. Kabarnya kemarin, orang yg bermulut lebar itu meludahi seseorang yg menjual buku Islam dan Sosialisme saat bazaar di kampus.
"dia adalah orang yg diludahi oleh orang yg bermulut lebar kemarin nak", jawab si satpam kepadaku.
"siapa orang yg bermulut lebar itu?"
satpam tidak menjawab, matanya terus waspada memperhatikan para mahasiswa yg masuk ke kampus satu per satu. Aku pun jadi tak menghiraukan lagi pertanyaan tadi. Aku berjalan menghampiri si wanita yg memunguti daun jelatang satu per satu itu. Aku bertanya:
"siapa yg meludahimu kemarin, kawan?", bukannya menjawab, wanita itu malah meludahiku dan pergi dari hadapanku. Aku pun kesal, tetapi aku bersabar. Aku pun menjauhinya dan pergi ke kelas seperti biasa. Saat aku masuk kelas, aku terkejut karena kelas kosong, hanya ada dosen yg sedang ceramah soal metode sejarah, seolah-olah dihadapannya sedang ada mahasiswa yg memperhatikannya.
Aku duduk di belakang dan seperti biasa aku tertidur sambil bersandar di tembok. Tak lama kemudian si wanita tadi masuk dan duduk di depan. Ia seolah tak menganggap bahwa aku dan dosen ada di kelas.
------------
Friday, October 7, 2016 0 comments

​Pemerintahan Rakyat: Opini Tentang Topeng Suci Birokrasi, Borjuasi dan Kaum Agamawan


Hari ini, kita sebagai masyarakat Indonesia dan Asia Tenggara dipaksa siap menghadapi MEA. MEA dengan dalih kesejahteraan masyarakat Asia Tenggara dengan slogan, "bangga dengan produk lokal" - kata kaum birokrat - dipastikan mampu mengatasi kesenjangan yg terjadi secara ekonomi. Tetapi bagaimana caranya? Kesejahteraan kan tercipta dari semangat kompetisi antar produk dan tenaga kerja yg ada. Ini jelas merupakan penipuan yg fatal.
Rakyat kita dibuat bersiap menghadapi eksploitasi dan persaingan besar-besaran dengan mengadu domba kelas pekerja kita dan negara lainnya. Seperti kata Ted Sprague, kelas pekerja kan menjual kemampuan kerjanya seharga es cendol. Murahnya harga kemampuan kerja disebabkan para pekerja takut akan pengangguran. Indonesia secara tidak sadar menuju pada masa dimana pengangguran kan tercipta dimana-mana.
Kita tinggalkan sejenak masalah MEA. fokus utama dari tulisan ini adalah bagaimana kelas borjuasi, birokrat, dan kaum agamawan menggunakan topeng "pemerintahan rakyat" untuk mengeruk keuntungannya. Kita melihat - terutama kaum birokrat dan borjuasi - sebuah pergerakan menuju pada penghisapan halus terhadap negara-negara sosialis dengan dalih melawan Amerika.
Saturday, October 1, 2016 0 comments

​G 30 S 50th : Renungan Proletariat dan Peran Agama


50 tahun yg lalu, kita-kaum revolusioner kelas pekerja-diguncang oleh suatu peristiwa reaksioner terbesar sepanjang sejarah dunia (bagaimana tidak besar, korbannya bahkan lebih banyak dari korban Perang Vietnam) yaitu pemusnahan kelas pekerja revolusioner oleh kekuatan Kapitalis yg dibonceng oleh rezim militer. Kita patut merenungi kejadian yg telah melemahkan kekuatan kita sehingga kita tidak lebih dari kerikil kecil yg mudah ditumpas, bahkan hingga kini hegemoni yg tercipta telah memainkan peranan yg besar dalam meninabobokan kekuatan revolusioner kita. Sebuah peristiwa sekali pukul akibat kudeta G30S-begitulah para intelektual borjuis menyebutnya-akhirnya melahirkan lompatan dialektis.
Bukanlah lompatan kuantitas menuju lompatan kualitas, malahan sebaliknya. Ini akibat tidak terlaksananya penuntasan revolusi oleh vanguard party kita akibat terlalu puas dibawah panji Nasakom. Bagaimana bisa kaum revolusioner menikmati berlindung dibawah kekuatan revisionis dari borjuasi nasional?
Sunday, September 25, 2016 0 comments

Percakapan yang Tidak Bermakna


seorang marxis yg terkenal mumpuni MDHnya mendatangiku seraya berkata,
"lu marxis apaan? kagak sejati lu ah! masa lu masih megang paham Ketuhanan yg jelas-jelas idealis itu! Lu sama aja ngasih contoh ke buruh kalo lu kena nina bobo agama juga!"
aku yg sedang duduk-duduk sendiri nikmati alam Sekitar di atap kosan lalu menjawab,
"iyadeh yg tulen mah Maha Benar! Gua mah cuma Marxis abal-abal yg ke kamus-kamusan lagi! Ekletisis banget kan?"
"Iye lu mah harus perlu belajar lagi lebih mendalam soal ajaran Marxisme tuh!"
di suasana senja yg indah, aku dan rokok ku mencoba berduel menciptakan atraksi asap yg mengepul ke langit. Marxis yg tulen itu pun kusuguhkan rokok. Setelah itu, aku coba menyanggah perkataannya,
"Emang Tuhan juga lawannya para marxis ya?"
sambil menghisap rokok, si marxis menjawab,
"ya bukanlah, kan lu tau sendiri lawan marxis itu ya kaum borjuis"
"oooh, sekarang coba lu pulang, cari-cari dah literatur soal persahabatan manusia dengan Tuhan sama kolaborasi mereka dalam membela kaum yg lemah! Sorry, gua bukan dogmatis kayak lu yg jadiin MDH itu agama, gua aja bukan orang beragama! Yakali gua jadiin MDH itu agama. Sarana transendental gua ya Tuhan dan segala aktivitasNya. Gua mau pergi dulu ya, gua mau ngobrol sama buruh PRP dulu soal diskusi mereka yg kemaren"
Aku pun pergi meninggalkan dia dan berangkat ke Bandung. Sedangkan dirinya seperti menahan malu. Belakangan aku mengetahui bahwa dia hanyalah penikmat tulisan Marx, rupanya dia belum paham soal praktek. Sama sepertiku yg belum paham teori.

Sunday, September 18, 2016 0 comments

​IDUL ADHA & REFORMA AGRARIA


Ada yg terlupa dari hari ini, yaitu momentum ketika para petani menuntut kesejahteraan sosial melalui reforma agraria. Rupanya, Idul Adha tahun ini membawa spesialnya tersendiri bagi kaum tani yg tertindas sistem Kapitalisme. Karena Idul Adha tahun ini saya ucapkan spesial pada mereka karena hari ini adalah hari mereka yg hidup dari persawahan dan perkebunan. Para petani yg bekerja dan tidak pernah berharap pada negara. Mereka adalah pahlawan pangan sejati karena mereka lah yg akhirnya mencukupi salah satu kebutuhan pokok kita setiap hari. Tetapi mereka masih saja tertindas.
Para petani ditindas bukan oleh kelas kapitalis secara langsung, melainkan oleh para tuan tanah yg memperkerjakan mereka secara tidak sadar. Secara tidak sadar? Ya, karena mereka bekerja setiap hari demi menumbuhkan padi selama 4 bulan lalu hasilnya tidak seberapa karena upah mereka bahkan tidak cukup untuk membeli beras, apalagi untuk menyekolahkan anak mereka. Selain itu, permainan harga di pihak tengkulak membuat mereka semakin terpuruk. Alhasil, tidak ada yg namanya perbaikan nasib bagi mereka. Jalan satu-satunya ialah mereka harus menuntut reforma agraria. Inilah program yg sempat tertunda akibat rezim militer mengambil peran politik sejak 1965. Bahkan, mereka yg menuntut demikian dibantai habis dengan dalih keamanan negara. Mereka dibantai rezim demi melindungi aset-aset kapitalis yg terpelihara dari tahun ke tahun. Sedangkan siklus 'boom' dan 'bust' yg mereka ciptakan membuat sengsara kaum buruh, terlebih lagi bagi kaum tani.
Saturday, September 10, 2016 0 comments

​BERITA PAGI HARI


Dengar saksama
Komunis meradang, agamis melarang
Fanatisme menikam, ketenangan jadi kelam
Terkadang hanya bendera kita mati
Hanya tulisan kita hilang
Hanya grafiti kita di siksa
Sedangkan agamis bawa klewang dipuja
Teriakan "Allahu Akbar" serasa suci mereka kumandangkan
Teriakan "bantu rakyat miskin" wacana kosong bagi mereka
Bengis beringis
Itu si Pak Kyai Mahmud bawa AK47 naik mercy
Teriak "Anti Amerika, ganyang komunis"
Goblok!!
 
;