Showing posts with label Puisi. Show all posts
Showing posts with label Puisi. Show all posts
Wednesday, December 9, 2020 0 comments

Membayangkan Ekonomi Dunia Setelah Korona


 “Modal bukanlah benda, melainkan proses yang hanya ada dalam gerak. Ketika sirkulasi berhenti, nilai lenyap dan keseluruhan sistem menjadi runtuh. …

Tidak ada kapitalisme tanpa gerak.”

—David Harvey, A Companion to Marx’s Capital, 2010, 12

PERUBAHAN besar sedang terjadi di seluruh dunia. Kekayaan dari sebuah dunia di mana moda produksi kapital-finansial mendominasi tampil dalam wujud unggunan surat-surat: kontrak dagang, kontrak kerja, kontrak kerjasama finansial. Seluruh surat-surat itu ditutup dengan sebuah pasal tentang keadaan kahar (force majeure): “apabila terjadi hal-hal yang berada di luar kendali para pihak, maka perjanjian ini dinyatakan tidak berlaku selama hal-hal itu terjadi.” Seorang pekerja tidak bisa dituntut untuk terus bekerja seturut kontrak apabila, misalnya, gempa bumi menelan habis pabriknya. Perekonomian dunia saat ini sedang dihadapkan pada keadaan kahar itu: COVID-19. Berbeda dengan keadaan kahar biasanya, kali ini kita menghadapi sebuah keadaan kahar universal, suatu universal state of exception.

Friday, March 30, 2018 0 comments

​HEGEMONI


Banyak orang tidak sadar dengan angin
Apakah dia jahat atau baik
Manusia hanya mengerti bahwa angin itu lembut
Ia mengandung hegemoni
Yg membunuh tiap pemikiran
Karena angin tidak suka di ganggu
Ia lebih suka diikuti alurnya
Banyak orang tidak sadar akan matahari
Kebanyakan mereka mengejarnya
Tetapi kemunafikan cahaya pun mereka tidak tahu
Hebatnya matahari berpijar
Menutupi kesucian sirius di tempat yg jauh
Matahari lebih suka di puja
Namun itulah pujaan paling hina
Banyak orang tidak sadar akan hujan
Balatentara Mikail sang pembawa rahmat
Satu hal yg tersembunyi dari rintikan
Yaitu rintihan suci daripada kebenaran
Sedang tetes menyapu setiap pendengaran

Friday, June 9, 2017 0 comments

​Bakar Indonesia



Di sudut ruang yg berikan kesegaran
Kini tercipta neraka yg beri penghakiman
Terhadap orang-orang yg dicap tertindas
Kepada keluarga mereka yg tak punya apa-apa
Lalu di sudut ruang lainnya yg ciptakan api
Tuan-tuan berperut besar tertawa puas hingga lemas
Menonton para penari telanjang yg menangis
Karena keluarganya tewas sesak napas
Paru-paru dunia kini berwarna merah
Dapat kiriman api dari tangan kartel dan penguasa
Yg dengan santainya menghitung laba di jakarta
Saudara kami malah hitung korban di palangkaraya
Bahkan belum lah habis riau dan jambi bercerita
Sudah banyak yg melapor anaknya terkena ISPA
Sudut ruang mati perlahan karena rintih derita
Sudut lainnya malah merokok sambil bercanda
Apa lagi
Neraka jahannam tak lagi utopis
Surga saqar jakarta malah menepis
"itu bukan ulahku, Tuhan lah yg kirim azab"
Apa kau percaya Tuhan itu
Ia tertawa tipu rakyat yg menderita
Setelah jumpa pers usai beri kebohongan
Sampai kapan kita akan terus diam?
BUNUH BUNUH BUNUH BUNUH BUNUH BUNUH
ITU YG MELANGGAR SEHATNYA PARU-PARU WARGA
JANGAN DIAMKAN MEREKA BAKAR INDONESIA!
Thursday, December 15, 2016 1 comments

​KIRI MELAWAN



Ah iya, lupa liku
Salam perjuangan tak membisu
Sudah seharusnya pembela kaum buruh
Mati karena letusan peluru
Maaf ku kepada para serdadu
Kiri tanganku terkepal kaku
Tuk menancapkan kepala mereka paku
Karena birokrat itu batu
Maaf cintaku
Lindungi aku dengan doamu
Saturday, November 26, 2016 0 comments

​KISAH TENTANG DENDAM


Banyak orang yg sok mengerti
Ia tidak menyadari
Bahwa setiap kata punya arti
Yg dilihat hanya fakta diri
Tanpa mau selami makna hati
Banyak yg berkata soal kehebatan
Tetapi sedikit yg hebatnya kelihatan
Karena mereka sibuk dengan kesombongan
Tentang menilai orang dan dinilai keadaan
Juga cerita-cerita soal kehidupan
Banyak yg menantang dengan kata-kata
Masalah, ancaman kisah dan ceritera
Bermain hegemoni tuk pertahankan asa
Tanpa mau hancur karena dialektika
Mereka terjebak para setan logika
Coba maknai aku
Lalu engkau akan tahu
Bahwa aku adalah hantu
Dengan tertawa mu itu
Maka aku diam berlalu
Saturday, October 22, 2016 0 comments

​PERGUMULAN MALAM


Biarkan ku sendiri memahami seluruh manusia
Walau rasanya sepi
Sunyi
Berharap adalah obat yg terbaik
Jangan lagi memanggilku Sosialis
Ketika aku menikmati egoku
Sepi
Namun ramai dalam kerumunan pemikiran
Lalu otakku bimbang
Akan segala putusan yg ambigu
Penat
Ketika mondar-mandir mencipta gelisah
Dan kontra memantapkan tembok pemisah
Aku dan keramaian seakan musuh
Dan penengahnya ialah setan-setan
Mereka tertawa bersama malaikat
Di perjamuan malam
Hari raya Qurban
Atau segala kisah suci keagamaan
Mampus
Biarkan diriku membusuk dalam kesepi


Saturday, October 15, 2016 1 comments

DUNIA PETERNAKAN


"wanita itu siapa, pagi-pagi dia sudah menyapu membersihkan daun jelatang di pelataran kampus", tanyaku kepada satpam kampus yg daritadi matanya hanya mengawasi tiap orang yg masuk area kampus. Matanya tanda bahwa ia sedang waspada, mungkin ia sedang mencari orang yg mulutnya lebar. Kabarnya kemarin, orang yg bermulut lebar itu meludahi seseorang yg menjual buku Islam dan Sosialisme saat bazaar di kampus.
"dia adalah orang yg diludahi oleh orang yg bermulut lebar kemarin nak", jawab si satpam kepadaku.
"siapa orang yg bermulut lebar itu?"
satpam tidak menjawab, matanya terus waspada memperhatikan para mahasiswa yg masuk ke kampus satu per satu. Aku pun jadi tak menghiraukan lagi pertanyaan tadi. Aku berjalan menghampiri si wanita yg memunguti daun jelatang satu per satu itu. Aku bertanya:
"siapa yg meludahimu kemarin, kawan?", bukannya menjawab, wanita itu malah meludahiku dan pergi dari hadapanku. Aku pun kesal, tetapi aku bersabar. Aku pun menjauhinya dan pergi ke kelas seperti biasa. Saat aku masuk kelas, aku terkejut karena kelas kosong, hanya ada dosen yg sedang ceramah soal metode sejarah, seolah-olah dihadapannya sedang ada mahasiswa yg memperhatikannya.
Aku duduk di belakang dan seperti biasa aku tertidur sambil bersandar di tembok. Tak lama kemudian si wanita tadi masuk dan duduk di depan. Ia seolah tak menganggap bahwa aku dan dosen ada di kelas.
------------
Saturday, September 10, 2016 0 comments

​BERITA PAGI HARI


Dengar saksama
Komunis meradang, agamis melarang
Fanatisme menikam, ketenangan jadi kelam
Terkadang hanya bendera kita mati
Hanya tulisan kita hilang
Hanya grafiti kita di siksa
Sedangkan agamis bawa klewang dipuja
Teriakan "Allahu Akbar" serasa suci mereka kumandangkan
Teriakan "bantu rakyat miskin" wacana kosong bagi mereka
Bengis beringis
Itu si Pak Kyai Mahmud bawa AK47 naik mercy
Teriak "Anti Amerika, ganyang komunis"
Goblok!!
Sunday, August 14, 2016 0 comments

​MALAM MINGGU


krik krik
Malam minggu suara jangkrik
Walau ramai terdengar pula
Krik krik
Sepi jadi hantu jadi-jadian
Muncul ketika bulan menyambut longlongan serigala
Serial seri setiap malam minggu
Begitulah
Guk guk guk auuuuuuu serigala menangis
Srek srek dikanan suara semak mesra kekanak-kanakan
Manja
Yeaaah, rock must go on, disco merambat di kiri jalan
Lalu .....
Krik krik krik
Jangkrik memanggil cahaya malam kota
Namun tak ada yg peduli
Krik krik
Gerayangi harapan akan hadirnya seorang pasangan
Mimpi s e m u, dibaca semu
Sangat semu
O iya, kabari angin, gunung, dan pepohonan
Ku butuh tempat untuk teriak
Friday, August 5, 2016 0 comments

​MALAM KOSONG


Malam lagi temani sepiku
Seperti infrasonik dalam makam kisah-kisah
Kelam
        Meniti jalan diantara pohon cemara
Lupakan
        Kuasar yg memanggil tuk kembali
Kisah klasik
Bersama suara akordian perang dunia II
Dalam kisah Anne Frank dan syair Goethe
Romantisasi masa lalu
Masa depan
Waktu
Sekarang hanyalah persepsi
Dan mimpi-mimpi yg tak terbeli
Biarlah terasing dalam konflik antara nyata dengan ghaib
Bual bualan buaian buas masa lalu
Walau tercermin ku biarkan
K o s o n g tak bercerita
Ku bosaaaaaan!!
Sekarang hanyalah kesendirian
Kesepian
Kesunyian
Hening
Diam
Detak
Hilang
Tak terasa
Dan akhirnya harapan
Hanyalah menunggu kenyataan
                  Menunggu kepastian yg abadi
                                      Kelak
Kelakar masa lalu
Kan jadi kenyataan
Matiiiiiiii
Biarlah
Friday, July 29, 2016 0 comments

​MAWAR PUTIH KU

Bagaimana aku bisa memahami kesucian
Diantara kotornya rerumputan
Tanganku bau, tak pantas menyentuhnya
Nanti ia bisa layu
Tetapi aku mencintainya
Suatu hal yg tak terjelaskan pola pikir
Aku mencintainya
Seperti aku mencintai kalam
Yg habis di cerna oleh perasaan pujangga
Lalu aku harus apa
Cinta hadir begitu lembut membelariku
Ranah logika habis terbabat cinta
Sebegitu lembutnya
Hingga tangan kasarku hanya bisa berisyarat
Tak mampu kah ku jangkau putihnya
Nanti ia berubah menjadi rerumputan
Aku tidak mau
Tenggelam lah dialektika dalam samudra perasaan
Thursday, July 21, 2016 0 comments

​ WARNA

Warna itu banyak
Tapi engkau hanya mau menyukai salah satunya
Engkau tak peduli hias lainnya
Statis
Warna itu bergerak
Gelombang Quanta
Tapi engkau berhenti pada satu kenikmatan
Tak lagi cipta karsamu menjelajah
Warna itu dinamis
Komplementer
Jangan lah engkau merasa sendiri
Manusia picis berhenti
Di spektrum hitam putih
Lihat kanan kiri
Belakang
Maka arahmu lurus
Warna itu sangat cantik
Seandainya engkau mau mengerti


Wednesday, July 13, 2016 0 comments

​Tuhan Berkata, "Telanjanglah kalian!"


ku tinggalkan polemik
ku tanggalkan raga
ku tanggulkan hasrat
ku sepi dalam telanjang
aku kotor, malu
saat mataMu melihatku
dan bulan di malam ini
siratkan kecerobohan
Diam!
hey, diam saja kita dahulu!
dalam batas waktu yg terus berputar
jangan pakai baju!
kita mandi dalam tirta banyubiru
jangan membantah! cukup senyum!
pola itu rumit, rumitkan selebrum
tutup dulu mata itu, coba lihat!
tutup dulu telinga itu, coba dengar!
khas dalam satu warna, bau, dan rasa
hanya saja jangan terjebak keadaan
coba dengar penjelasan dalam syair qiyas
senandung-senandung tak terurai
ikuti dulu, baru kita paham!
telanjang! jangan tidak!
sebab Dia mengacuhkan kita
:(


Friday, July 8, 2016 0 comments

​Kepada...


kepada siapa aku berkata
kepada siapa terima cerita
kepada sawah yg dirundung kesepian
kepada sungai kecil berombak air mata
di kala mega telah reda menunjukkan senja
maka mengalirlah angin merenda-renda
terlihat sangka menyangka sangkakala
meniup tanda hari telah menguap ke semesta
sedangkan aku masih disini menunggu peraba
yg simak sketsa tanpa keras kepala
tak mengangguk tanda formalitas belaka
kepada mereka yg mengaku jernih hidupnya
dan saksi-saksi yg mencintai sakitnya siksa
aku menunggu untuk menuturkan kisah
namun malam membisu tak tertarik bahasa
aku masih diam mendengarkan suara serangga
bernyanyi tanda selesai hujan menyiram kita
tanda alam masih sayang kepada manusia
namun tidak untukku yg dihakimi oleh mereka
alam masih derita hilang kesuciannya
bersamanya, aku menangis ditengah merebaknya jelaga
sedang cerita tak lagi ada makna
sekitarku tertawa, menuntutku ceria
kepada siapa lagi aku mengungkap kata
mengapa?
merasa bingungkah engkau dengan semua
mengapa? aku bahkan belum bersenandung
layaknya katak memanggil hujan
layak kah aku memanggil kebahagiaan?
cerita telah habis maknanya
dan mereka pun bahagia di alam persaksian
aku bahkan harus menyaksikan alam mereka
dengan diam dan ratapan
apa ada yg salah?
atau memang terciptanya diri harus merasa
diam dan terus mengutuk diri bersalah


Friday, May 27, 2016 0 comments

​Angin Pembunuh



semalam angin berhembus kencang
menerbangkan angan-angan utopiaku
dan kini aku tau bahwa bisikan malam itu jujur
suara gonggongan anjing beradu
seakan mengusir hitam dan kelabu
tapi hitam dan kelabu tak sendu
ia tetap hancurkan malam ku
semalam angin berhembus kencang
aku terjaga menunggu kelam
kini jiwaku hilang
aku lemah
tinggal hitung waktu saja
kapan sekiranya aku ke neraka
sebagai simbol pengorbanan bahagia
semalam angin membuatku lelah
kini aku ditinggal semua
ya, karena aku selalu bersalah
kita lihat siapa yg mati pertama
takkan kubiarkan angin membunuh kalian
dan kubiarkan kalian menghakimiku


Friday, May 20, 2016 0 comments

​Mengamini Tuduhan


mereka yg berkata dan aku mengamininya
bukan karena kesalahan, namun karena pengakuan
terlepas itu salah atau tidak, tak jadi soal
persoalannya adalah dampak dari sikap ku
bagaimana mempertanggungjawabkannya
aku malu pada diriku sendiri
pada buruh yg disiplin di pabrik-pabrik
pada tani yg tak mengeluh saat mencangkul
aku malu pada pena yg tak protes,
ketika aku menggoreskan raganya di atas kulit kayu
betapa luka hitamnya semakin mengalir
dan aku semakin paham
bahwa memang luka lah yg membentuk tulisan
aku mengamini mereka yg protes
soal realitas yg terlihat dan tak terlihat
dibalik tirai, aku berlari bersama mereka yg tereksploitasi
dalam pandangan inderawi, aku hanyalah pecundang tolol kelas kakap
pantas sajalah mereka protes sedemikian rupa
ah sudah lah, untuk apa puisi ini!
toh, aku mengamini semua ejekan mereka
yg merasa benar dan senang dalam kubangan kebenaran
sedangkan aku, tertawa melihat kubangan itu
sungguh kotor,
penuh dengan legitimasi dan klaim-klaim
semoga mereka bahagia dalam cerita
tak jadi soal, siapa individu, siapa massa
tak masalah kalau kami mati atau tidak
toh, aku mengamininya
jujur tak hanya lewat pena


Thursday, May 12, 2016 0 comments

​Bayang-bayang Ketidak-aturan dalam Keteraturan


di ruang yang gelap dalam kamar yang lembab
dalam aroma malam serta latar yang sangat haru
melarutlah aku dalam kuasa renungan akan suatu masa
suatu sejarah dimana senyum bisa menutupi deru
suatu masa dimana mawar putih adalah pelita
maka meneteslah air mata larung sendu biru
disanalah ku menemukan suatu kisah panjang
tentang sebuah keluguan yang bernama bayangan
yang mengajarkan ku banyak hal soal kehidupan
yang kini hilang karena aku merindukan kenyataan
karena mimpi lagi-lagi hanyalah harapan
ku tinggalkan bayangan bernama harapan dalam sejarah
saat siap kenyataan mengambilalih cerita-cerita
dan hilanglah sendiri ku yang penuh surga dunia
datanglah keramaian yang menyeretku tega
mimpi menghilang, datanglah kerja-kerja utopia
sayangnya, kenyataan tak seindah alam semesta di kepala
sayangnya pula, kenyataan tak seburuk kisah yang aku rangkai
kenyataan berkisah soal struktur-struktur indah semesta
bergerak teratur, layaknya arus konstan dari tenangnya sungai
sedang bayang-bayang adalah soal perbaikan diri dari masa ke masa
Sayang aturan adalah tempat bergantung manusia
dan batas wajar kenyamanan adalah cita-cita per kepala
namun bayang-bayang memberikan persepsi soal ritma
harmonia kisah yang memberiku pelajaran soal menyikapi semua
mengajarkan ku menjadi satu padunya makhluk dengan semesta
sayang, aku hanya merenungi dalam diam, dalam melankolia
dalam rindu tanpa ada upaya yang kunikmati tuk menuju kesana
aku terjebak cerita palsu soal bahagia menjadi pegawai atau pengusaha
sayang, memori hanyalah memori yang tak memaafkan kita
hanya datang pada saat rindu dan pergi hanya begitu saja


Friday, April 29, 2016 0 comments

​Dimanakah Surga


==============
aku pernah bertanya sesuatu pada kehidupan
"dimana letak surga?"
kehidupan menjawab
"dimana dan kapanpun kebahagiaan ada, disanalah surga"
masalahnya ialah aku adalah orang berdosa
apakah itu alasan mengapa aku tak bahagia
atau memang benar perkataan para ulama
dimana azab itu memang suatu kebenaran
tapi dimana letak kebahagiaan orang mendapat ujian
karena mereka adalah orang-orang beriman
kehidupan bilang kepadaku
"mereka adalah para fatalis yg hanya inginkan surga"
sejenak aku terdiam ...
aku pun bertanya lagi,
"apakah memang tidak ada manusia yg sejati?"
atau manusia sejati hanyalah lelucon Tuhan
kehidupan bilang kepadaku,
"mereka lah yg tidak inginkan surga dan menderita untuk kebahagiaan orang"
tetapi bagaimana dengan orang yg dibahagiakan mereka
atau sebenarnya mereka hanyalah katalis
kehidupan menjawab,
"seandainya mereka paham, mereka itu harus mutualisme"


Thursday, April 21, 2016 0 comments

KARTINIKU

Sumber: google

Aku dalam buku harianmu
cakapkah memerankan tokoh antagonis?
Sedangkan kamu dalam buku harianku
selalu saja menjadi tokoh utama yang teramat luar biasa.
Ada baiknya jika kita saling meminjamkan,
untuk pengganti diskusi yang tak pernah lagi kita melakukannya
atau memang, lebih baik kita menguburnya dalam-dalam
sehingga kebenaran terlahir dari kemestian yang tidak dapat dibicarakan?
apa salahnya kita berpelukan sebelum lebih dalam membahas soalan emansipasi dan patriarki,
kita yang saling memiliki peran penting untuk memakmurkan bumi ini
sudah seharusnya melengkapi satu sama lain
begitupun kamu, sebagaimana aku menjalankan tabiatnya!
namun bila kamu memiliki bakat memerankan tugas lelaki
walaupun seorang lelaki akan malu, janganlah sungkan untuk menjelaskan sebuah keahlian, karena hal itu merupakan kewajaran, keseimbangan dan adil-adil saja
Sudah sejauh mana kamu menuliskan tentang Raja lalim yang sewenang-wenang!?
Sempat kamu bertanya tentang hal yang tidak dapat kamu terima, 
sebab katamu Adam pasangan hidupnya hanyalah Hawa
kamu tak pernah dapat mengerti mengapa harus ada poligami
Sebagai seorang calon permaisuri tentu kamu akan cemburu!
Bukan, bukan atas nama pribadi katamu, tetapi kamu hanya ingin tahu pada saat itu dimanakah akal, dimanakah nurani?
Sebagai seorang lelaki tentu akan sangat bangga apabila memiliki istri seumpamanya Kartini,
yang ia berjuang demi hak wanita. Bukan, bukan ia yang memperjuangkan soal kewanitaannya, kiraanku tentang ini mengingatkan aku pada surat Anisa
Ternyata hakikatnya wanita adalah perkasa jua.
Suami yang hendak mempersunting dua, tiga atau empat istri tidak boleh timpang. 
tidak boleh kejalangan birahinya menjadikan ayat suci untuk berdalih, sementara keadilan bilapun murah dirafalkan bukanlah ia barang murahan.
keadilan adalah syarat pelik, karena itu aku inginkan hanyalah kamu sebagai permaisuri, kartiniku
tetapi kamu terlanjur menuliskan tentangku dalam buku harian
Kamu bilang "Arogan dan melulu ingin menang"
Padahal apa salahnya jika kita saling meminjamkan, 
sebagai pengganti diskusi yang tak pernah lagi kita melakukannya
atau kamu sudah cukup senang menertawakan?
Menertawakan aku yang kerap bicara sendirian sambil dikulumi kemistisan sebagaimana kamu menduganya selama ini!


 
;