Showing posts with label Pemahaman. Show all posts
Showing posts with label Pemahaman. Show all posts
Wednesday, December 30, 2020 0 comments

Pandemi Korona Menguak Wajah Kita

 

Dua fenomena yang muncul saat wabah korona merambah di Indonesia adalah sulitnya mengatur penjarakan sosial (social distancing), namun pada saat yang sama muncul pula gerakan volunterisme yang dianggap sebagai cerminan gotong royong. Masyarakat berbondong membuka dapur umum, menyisihkan uang dan barangnya untuk membelikan masker, APD, ventilator. Pertanyaannya adalah, mengapa penjarakan sosial cukup sulit di lakukan di Indonesia? Apakah gotong royong dan voluntarisme, adalah sifat alami dari masyarakat Indonesia atau ia reaksi terhadap kondisi politik ekonomi saat ini?

Mengapa Social Distance Sulit Diterapkan

Sulitnya penerapan social distancing bukan karena watak esensial masyarakat kita yang komunal. Kerekatan sosial adalah reaksi terhadap corak pemerintahan kita yang selama ini minim dalam menyediakan sistem kesejahteraan terhadap masyarakatnya.

Thursday, December 24, 2020 0 comments

Santa Claus dan Jack Skellington

 

MARI kita bermain teka-teki di penghujung tahun ini. Untuk Anda yang sedari kecil merayakan Natal pastinya sudah tak lagi asing dengan sosok pria tua gemuk berjanggut putih mengenakan pakaian musim dingin berwarna merah dan putih. Dari cerita kakek nenek atau ayah ibu, Anda pasti mendengar bahwa pria itu datang ke rumah anak-anak baik hati untuk membagikan kado yang dibawanya pada malam Natal. Konon, beliau mengendarai kereta kuda terbangnya dari Kutub Utara, mendarat di atap-atap rumah lalu masuk melalui cerobong asap, menaruh kado-kado di sebelah pohon Natal dan menitipkan pesan singkatnya kepada anak-anak baik yang dihadiahinya.

Orang memanggilnya Santa Claus, Sinterklas atau hanya memanggilnya dengan sebutan Santa. Santa sangat terkenal khususnya pada hari Natal di belahan dunia Eropa dan Amerika Serikat. Siapakah sesungguhnya pria tua berjanggut putih itu? Dari mana kado-kado itu berasal? Siapakah yang membuatnya? Bagaimana membuatnya? Meski anak-anak tak pernah mempertanyakannya, tapi anak kecil yang dulu menerima kisah itu dengan pengharapan, kini kepalanya penuh dengan pertanyaan.

Wednesday, December 9, 2020 0 comments

Membayangkan Ekonomi Dunia Setelah Korona


 “Modal bukanlah benda, melainkan proses yang hanya ada dalam gerak. Ketika sirkulasi berhenti, nilai lenyap dan keseluruhan sistem menjadi runtuh. …

Tidak ada kapitalisme tanpa gerak.”

—David Harvey, A Companion to Marx’s Capital, 2010, 12

PERUBAHAN besar sedang terjadi di seluruh dunia. Kekayaan dari sebuah dunia di mana moda produksi kapital-finansial mendominasi tampil dalam wujud unggunan surat-surat: kontrak dagang, kontrak kerja, kontrak kerjasama finansial. Seluruh surat-surat itu ditutup dengan sebuah pasal tentang keadaan kahar (force majeure): “apabila terjadi hal-hal yang berada di luar kendali para pihak, maka perjanjian ini dinyatakan tidak berlaku selama hal-hal itu terjadi.” Seorang pekerja tidak bisa dituntut untuk terus bekerja seturut kontrak apabila, misalnya, gempa bumi menelan habis pabriknya. Perekonomian dunia saat ini sedang dihadapkan pada keadaan kahar itu: COVID-19. Berbeda dengan keadaan kahar biasanya, kali ini kita menghadapi sebuah keadaan kahar universal, suatu universal state of exception.

Wednesday, December 2, 2020 0 comments

Pandemi Covid-19 dan Mendesaknya Internasionalisme Proletariat

Hingga tulisan ini disusun, tercatat sudah 2,5 juta lebih kasus infeksi dan 170 ribu korban meninggal di seluruh dunia karena pandemi Coronavirus desease 2019 (Covid-19). Dampak dari pandemi ini juga meluas ke berbagai sektor: ekonomi, politik, dsb.

Yuval Noah Harari menyatakan ini adalah krisis global terbesar dalam generasi kita yang datang secara mendadak. Tahun kemarin, mayoritas penduduk dunia belum mengenalnya. Kini, Covid-19 memperparah krisis sistemik  dalam kapitalisme yang sudah terjadi di tahun-tahun sebelumnya. Datangnya Covid-19 meluluhlantakkan perhitungan-perhitungan ekonom dalam menghadapi krisis sebelum datangnya Covid-19.

Bisa kita lihat melalui berbagai media, sendi-sendi penopang kehidupan manusia mulai mengalami kekacauan. Industri-industri kalang-kabut, kerugian dalam jumlah besar meluas, dan potensi sebagian besar bangkrut. Sementara itu, saat tulisan ini direview, jutaan buruh telah di-PHK [1] dan jutaan lainnya mengantri. Kita, mayoritas dari bagian penduduk dunia, berada dalam kondisi paling terancam (tertular virus, terkena PHK, tidak bisa memenuhi kebutuhan, dst.).

Thursday, October 29, 2020 0 comments

Judicial Review: Cara Penguasa Menjinakkan Gerakan Anti-Omnibus Law

 

PENGESAHAN Rancangan Undang-undang (RUU) Omnibus Cipta Kerja pada 5 Oktober silam telah memicu lahirnya gelombang demonstrasi di berbagai wilayah di Indonesia. Undang-undang yang hingga kini naskah akhirnya tidak kunjung dapat ditunjukkan baik oleh pemerintah maupun Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) telah memuat banyak ketentuan bermasalah.

Banyak kajian akademik dan hasil penelitian berbagai lembaga independen telah mengupas pokok-pokok persoalan dari setiap kluster topik undang-undang tersebut. Namun, pemerintah dengan gigih membantah berbagai kritik terhadap UU Cipta Kerja sebagai hoaks dan disinformasi. Kritik terhadap kecacatan proses penyusunan undang-undang terkait partisipasi juga telah dibantah dengan mengklaim bahwa pemerintah dan DPR telah mengakomodasi representasi kelompok kepentingan yang berbeda.

Penting dicatat, pemerintah memiliki instrumen yang lebih memadai dan canggih dalam memanipulasi kesadaran publik: membantah berbagai bentuk kritik serta mendomestifikasi dan mengerdilkan perlawanan dengan mengarahkan tuntutan ke jalur-jalur yang telah direkayasa untuk memperlemah gerakan.

Friday, October 16, 2020 0 comments

Prakerja, Cilaka, Minerba: Memanjakan Kapitalis, Menindas Pekerja

 

Virus Covid-19 tak hanya cepat menular dan membunuh manusia. Ia juga dengan gesit menggerogoti jantung perekonomian kapitalisme. Imbasnya, kapitalis tidak mempunyai jalan lain selain memecat sepihak buruhnya demi mengantisipasi kebangkrutan. Mayoritas buruh dipecat tanpa diberi pesangon. Mereka kemudian berduyun-duyun ke jalan, menggalang aksi menuntut pesangon serta nasib mereka kelak.

Dalam situasi kalut itu, pemerintah lalu meluncurkan kartu prakerja, yang sebenarnya merupakan program Jokowi dalam kampanyenya setahun silam. Kartu ini diharapkan menjadi solusi mengentaskan masalah para buruh sekarang.

Pada saat bersamaan, pemerintah juga mengesahkan RUU Minerba yang telah dibahas oleh panja RUU Minerba Komisi VII DPR RI dari Februari-Mei. Selain itu, pemerintah juga membahas RUU Cilaka (Cipta Lapangan Kerja) atau Cika. Kedua RUU tersebut ditargetkan pemerintah untuk menciptakan lapangan pekerjaan guna mengatasi pengangguran.

Wednesday, October 7, 2020 0 comments

Siksa Kapitalisme dalam Omnibus Law RUU Cilaka

Ancaman resesi ekonomi akibat dari pelbagai macam faktor ketidakpastian rupanya bukan sekadar asumsi para ekonom belaka. Melambatnya pertumbuhan ekonomi global selama satu dekade terakhir, turut membuat resah dan khawatir para pemangku kepentingan. Baru-baru ini, Organisasi untuk Kerja Sama Ekonomi dan Pembangunan (OECD) kembali merevisi ramalan pertumbuhan ekonomi global 2020, dari sebelumnya ditaksir 3,0 persen menjadi 2,9 persen. Bagi Indonesia, kondisi ini bukan sesuatu yang mudah.

Jokowi di pelbagai kesempatan turut menegaskan akan tantangan berat yang sedang dan akan dihadapi ekonomi nasional – kendati ia tak lupa menekankan agar selalu optimis. Tentu saja tidak enteng menghadapinya. Apalagi kenyataan di periode pertama kekuasannya, (2014-2019) pertumbuhan ekonomi nasional stagnan di angka 5 persen. Ini membuktikan kalau paket kebijakan deregulasi yang diorbitkan semasa 2015-2019 nyaris tak memenuhi ekspektasi pertumbuhan 7 persen (seperti dijanjikan dalam kampanye pemilu 2014).

Menurut catatan Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM), sepanjang 2014-2018, misal, realisasi investasi—baik itu penanaman modal dalam negeri (PMDN) maupun penanaman modal asing (PMA)—secara umum, mengalami peningkatan. Kendati ada peningkatan, tapi realisasinya cenderung

Thursday, September 17, 2020 0 comments

Jejak Ketua Mao dalam Kitab Gerilya TNI 

            SEBUAH tesis setebal 156 halaman diuji pada 1 Juni 2001 dan dinyatakan lulus. Penulisnya, Michael Boden, kembali memperoleh titel master setelah mendapat yang pertama dari Vanderbilt University pada 1997.

Penelitian Boden menguak kiprah Friedrich Engels sebagai pemikir dan praktisi militer. Dalam bab pembuka, ia memaparkan betapa besarnya jarak antara Engels dan kolaboratornya, Karl Marx, ketika membicarakan perang. Engels selalu menapak di bumi. Sementara Marx selalu melontarkan “argumen khas debat kusir yang sama sekali tak menyentuh pertimbangan rasional militer”.

Ketika membahas Pertempuran Września, misalnya, Marx hanya mampu merutuki kelicikan balatentara Prusia: “Serdadu Prusia kabur ke tempat di mana mereka bisa memuntahkan pelor, granat berisi 150 biji gotri, dan peluru meriam, padahal yang mereka hadapi cuma tombak dan sabit yang niscaya tak efektif dipakai dari jauh”.

Thursday, September 3, 2020 0 comments

Belajar Realisme dari Master Sun

SEJARAH mencatat kekalahan demi kekalahan dari setiap perjuangan kelas pekerja di dunia sejak dua abad terakhir. Setidaknya hampir semua perjuangan, kalau saja sempat berhasil, takkan bertahan lama dan menjadi terkucil. Kita bisa mengingatnya sejak letupan senjata pada Revolusi Prancis, Revolusi 1848 di Eropa, Komune Paris, Spartakus di Jerman dan berbagai perjuangan kelas di belahan dunia lainnya.

Tentu ada pengecualian, seperti kemenangan gilang gemilang gerakan revolusioner para Bolshevik dalam Revolusi Oktober di Russia, perjuangan Tentara Merah Tiongkok melawan fasis Jepang dan oportunis Kuomintang, gerilya Gerakan 26 Juli yang menumbangkan diktator Batista dalam Revolusi Kuba, dan tentu saja para Vietcong yang dapat membikin Amerika Serikat angkat kaki dari Indochina dalam satu dua pukulan, meski episode-episode kemenangan tersebut juga tak lepas dari banyak tantangan.

Wednesday, August 12, 2020 0 comments

Masih Relevankah Membaca Das Kapital Pada Membaca Situasi Saat Ini?

            Das Kapital merupakan bacaan yang tak asing bagi Anda yang gemar membaca literatur bertema ekonomi dan politik. Buku ini berisi kritik atas teori serta sistem ekonomi kapitalisme yang ditulis oleh Karl Marx satu setengah abad yang lalu. Volume pertamanya terbit pertama kali pada tahun 1867 dan dua volume selanjutnya dilanjutkan lalu diterbitkan pada tahun 1885 serta 1889 oleh kawan baiknya, Friedrich Engels.

Apabila Charles Darwin menulis Origin of Species untuk menjelaskan asal-usul kehidupan mahkluk hidup di bumi, Marx menjelaskan asal-usul sistem ekonomi yang menjadi landasan kehidupan dunia modern lewat Das Kapital. Dari banyaknya tulisan Marx-Engels, buku ini merupakan kunci yang menghantarkan kita kepada pintu realitas riil dari cara kerja sistem kapitalisme. Lalu bagaimana untuk Anda yang jarang bersentuhan dengan kajian ekonomi dan politik? Buku tebal berisi ribuan kata dan rumus itu sudah pasti tak mencuri perhatian Anda. Apabila disejajarkan karena ketebalannya, ketimbang membaca Das Kapital tentu saja Anda pastinya lebih memilih membaca buku A Song of Ice and Fire alias Game of Thrones.

Friday, May 29, 2020 0 comments

Memaknai Ulang Tentang Revolusi yang Cenderung ‘Berdarah-darah’

Kata ‘revolusi’ seringkali terdengar ketika seseorang semakin merasa jengkel atau bahkan ketika kekesalannya sudah memuncak akibat tindak-tanduk penguasa yang semakin tak mengenakan hati. Kata ini seakan menjadi obat dari segala keburukan dan segala kesewenang-wenangan, seakan-akan setelah revolusi maka sejarah berhenti untuk berputar kembali.

Revolusi yang dimaksud di sini adalah revolusi politik, revolusi-revolusi yang datang dengan wajah menakutkan karena ia membawa darah-darah untuk dikorbankan. Revolusi-revolusi seperti di Amerika, Prancis, Rusia, dan negara-negara lain yang kita barangkali sudah sangat familiar di buku sejarah.

Jika melihat dari anggapan umumnya, suatu perubahan yang besar dan cepat, maka siapa yang tidak tergiur revolusi jika dirinya termasuk dari golongan yang tidak beruntung? Membayangkan suatu tatanan yang lebih baik terasa begitu melegakan tetapi juga menyakitkan karena hal tersebut hanya berhenti sebagai harapan. Demonstrasi-demonstrasi yang belakangan terjadi tak luput dari harapan revolusi ini karena melihat bahwa tak ada harapan lagi untuk perubahan secara perlahan, harus ada aksi nyata yang signifikan.

Friday, May 1, 2020 0 comments

May Day: Arti Penting Persekutuan Kaum Muda dan Rakyat Pekerja

 

Dalam momentum May Day kali ini, kita akan menyaksikan kaum buruh di seluruh dunia berbondong-bondong keluar dari pabrik, meninggalkan mesin-mesin produksi, untuk memperingati perjuangan kaum buruh sebelumnya. Kaum buruh akan menunjukkan kekuatannya di hadapan pemilik modal. Menggetarkan jantung kelas pemodal berkali-kali lipat lebih kencang. Kelas pemilik modal, telah meninggalkan topeng suci semua jabatannya dengan penuh kekhidmatan. Pemilik modal, tidak bisa hidup tanpa mencuri jam kerja dan tenaga yang dicurahkan oleh kelas buruh. Dengan begitu, nasib pemilik modal sangat ditentukan oleh produk yang diciptakan rakyat pekerja.

Tepat 1 Mei 131 tahun yang lalu, sebuah momentum bersejarah bagi kaum buruh di seluruh dunia telah lahir. Saat dimana ratusan ribu kaum buruh dari berbagai sektor pekerjaan di Amerika Serikat pada tahun 1886 turun ke jalan. Dengan semangat luar biasa, kaum buruh menyerukan perjuangan untuk menuntut 8 jam kerja, dari jam kerja rata-rata hingga 18 sampai 20 jam. Momentum bersejarah tersebut kemudian dikenal sebagai Hari Buruh Sedunia, yang biasa disebut sebagai May Day.

Di Indonesia, peringatan May Day diperingati pertama kali di kota Surabaya tahun 1918 oleh Serikat Buruh Kung Tang Hwee Koan, yang juga tercatat dalam sejarah sebagai peringatan May Day pertama yang diperingati di Asia. Awalnya, peringatan May Day di Indonesia dijadikan sebagai medium perlawanan terhadap kolonialisme Belanda. Sejak tahun 1918 hingga 1926, peringatan May Day dilakukan oleh gerakan buruh saat itu dengan melakukan pemogokan-pemogokan besar, menuntut pengurangan jam kerja, upah yang layak, pemutusan hubungan kerja, dan sebagainya. Bukan hanya itu, gerakan buruh jugalah yang menjadi pelopor pemberontakan pertama secara besar-besaran di berbagai daerah melawan kolonialisme pada tahun 1927. Meskipun terjadi kekalahan dan diiringi dengan gelombang reaksi, hingga May Day dapat diperingati kembali pasca revolusi kemerdekaan tahun 1945. Peristiwa tersebut menunjukkan kepeloporan kelas buruh dalam melawan sistem yang menindas mereka. Demikianlah semangat awal adanya peringatan May Day.

Kini, peringatan May Day di berbagai negara talah kehilangan makna perjuangannya. Di Indonesia, Rezim Jokowi-JK mengeluarkan surat edaran Menteri Tenaga Kerja yang berupaya membatasi aksi kaum buruh dalam memperingati Hari Buruh Sedunia. Bahkan, beberapa hari sebelum May Day berlangsung, beberapa elit birokrasi serikat buruh di undang makan oleh Jokowi. Dampaknya, bisa kita saksikan beberapa serikat buruh seperti Serikat Pekerja Panasonic Gobel (FSPPG) menjadikan momentum May Day sebagai “Happy Day” yang kegiatannya akan di isi dengan olahraga, donor darah dan kegiatan fun outdoor lainnya [1]. Namun sebagian serikat buruh lainnya sepakat akan mengadakan aksi besar seperti Konfederasi Serikat Pekerja Indonesia (KSPI)[2] yang di perkirakan akan menurunkan sebanyak 500 ribu buruh untuk memperingati May Day kali ini. Meskipun beberapa waktu yang lalu, KSPI telah melakukan aksi besar dengan tuntutan rasis “tolak tenaga kerja asing” yang justru dapat melemahkan persatuan sesama kelas tertindas, kelas buruh sedunia.

enyimpangan makna dari peringatan May Day hingga kini adalah dampak dari hegemoni Negara borjuis yang terus saja mendistorsi ilmu pengetahuan. Mereka tidak menginginkan kelas buruh sebagai kekuatan produktif yang menggerakkan proses produksi mengetahui, bahwa May Day adalah sejarah perlawanan tanpa ampun kelas buruh melawan kelas penguasa (baca: borjuis) dan sistem yang menindas. Oleh karena itu, kita berkepentingan mengambil kembali semangat momentum May Day kali ini untuk membangun kekuatan kelas buruh dalam mewujudkan tatanan masyarakat yang lebih baik.

Kelas buruh merupakan kekuatan produktif yang berkepentingan mewujudkan revolusi sosialis. Hal ini dikarenakan kelas buruhlah yang bersentuhan langsung dalam proses produksi dan merasakan langsung penindasan sistem kapitalisme. Perkembangan kapitalisme diberbagai negara akan membuat kelas buruh semakin besar dan terkonsentrasi. Kapitalisme telah menyatukan kaum buruh di seluruh dunia. Berkembangnya industri, tidak saja bertambah jumlah; ia menjadi terkonsentrasi dalam jumlah yang lebih besar, kekuatannya tumbuh dan ia semakin merasakan kekuatannya. Sebagaimana dikatakan Marx bahwa “Kelas Buruh tidak memiliki tanah air”.

Bukan buruh Indonesia saja yang merasakan upah yang tidak layak, PHK, jam kerja yang lebih banyak, dan sebagainya. Namun buruh di seluruh dunia juga merasakan hal yang sama. Apapun suku, agama, jenis kelamin, dan di negara manapun berada kelas buruh akan dihisap tenaganya oleh pemilik modal dalam sistem kapitalisme. Oleh karenanya persatuan kelas buruh tidak bisa dibangun berdasarkan nasionalisme dan identitas tertentu, melainkan harus berdasarkan Internasionalisme Ploretar. Membangun persatuan kelas buruh diseluruh dunia.

Kalau buruh sedunia bersatu mogok menolak perang, pemerintahan kapitalis dan pemilik modal tidak akan punya satupun serdadu yang bisa mereka kirim ke garis depan; tidak akan ada senjata yang bisa terproduksi kalau buruh mogok; minyak yang dibutuhkan untuk kapal perang dan tank akan mengering karena buruh migas mogok. Perang Dunia II pun terjadi karena tidak adanya internasionalisme buruh yang kokoh, yang bisa mengatakan kepada buruh bahwa musuh mereka bukanlah buruh dari negeri lain, tetapi kapitalis seluruh dunia[3].

Bukan sembarangan Karl Marx mengatakan “Buruh Sedunia Bersatulah”. Pelajaran baik dari Internasionalisme kelas buruh dapat dilihat pada proses revolusi kemerdekaan Indonesia tahun 1945. Ini dibuktikan dengan banyaknya dukungan atas kemerdekaan Indonesia dari organisasi-organisasi buruh berbagai negara. Bahkan kelas buruh pelabuhan Australia telah ikut berperan dalam melakukan pemogokan untuk memboikot kapal-kapal pembawa persenjataan imperialis Belanda ke Indonesia setelah proklamasi tahun 1946.

Pembebasan kaum buruh tidak akan dapat diwujudkan dengan hanya membebaskan kaum buruh di satu-dua negara saja. Kaum buruh yang tidak menyatukan perjuangannya pada semangat internasionalisme hanya akan membawa perjuangan kaum buruh pada kepungan, gempuran dan serangan kelompok-kelompok borjuis dan pemilik modal. Maka menjadi keharusan dalam peringatan May Day kali ini sebagai kelas tertindas kita akan menyerukan perjuangan dan persatuan dibawah semangat internasionalime. Agar kelak seluruh kaum buruh di dunia dapat mendapatkan kemenangan hakiki yang berujung pada pembentukan negaranya kelas tertindas, Negara kelas pekerja.

Arti Penting Persekutuan Kaum Muda Dan Rakyat Pekerja

Di lain hal kita juga menyaksikan semakin banyak kaum muda yang tertarik dengan ide-ide pembebasan. Tidak jarang kita temukan gerakan kaum muda bersama kelas buruh dan kaum tertindas lainnya menyatukan diri, bergerak bersama untuk melawan tirani yang melanggengkan penindasan dimuka bumi. Namun, tidak jarang pula kita saksikan gerakan kaum muda, memisahkan dirinya dari perjuangan kelas buruh dan rakyat tertindas lainnya. Untuk itu, marilah kita mencari tahu lebih dalam, apa makna May Day bagi kaum muda dan arti penting persekutuan kaum muda dan rakyat pekerja.

Semangat baja dan militansi dalam menggerakkan roda sejarah, harus dipahami oleh segenap kaum muda. Camila Vallejo seorang revolusioner dari Chile pernah mengatakan bahwa “Kaum muda jika tidak revolusioner adalah cacat mental”. Kaum muda pada dasarnya adalah elemen yang dengan mudah menerima segala macam paham dan ide. Termasuk gagasan-gagasan dari ideologi borjuis, seperti rasis, seksis, hedonis, dan sebagainya. Sebagai akibat dari kesalahan dalam menentukan ideologi dan politik pejuangannya, kaum muda juga dapat menjadi bagian dalam melanggengkan penindasan terhadap rakyat. Dalam sejarahnya, kebanyakan kaum revolusioner menemukan jalan pada sosialisme dan perjuangan kelas buruh pada usia muda.  “Massa kaum revolusioner adalah kaum muda”, begitu kata Jhon Percy, Sekretaris Nasional Democratic Soialist Party (DSP) dalam sambutannya untuk Konferensi Nasional ke 29 Resistance, di Melbourne, tahun 2000.

Kaum muda juga telah menunjukkan dalam sejarahnya bahwa mereka merupakan kelompok sosial yang paling sensitif terhadap kekacauan sosial akibat anarki produksi kapitalisme. Pada tahun 1968, lapisan kaum muda mengubah kota-kota di Prancis menjadi lautan massa.  Demonstrasi-demonstrasi yang dilakukan oleh kaum muda di kampus meluas menjadi sebuah demonstrasi umum. Kekecewaan akibat kebijakan yang menghentikan kegiatan “studi anti-imperialis” dan displiner yang dikenakan kepada sejumlah mahasiswa, dengan segera merembet pada pemogokan di pabrik-pabrik. Dalam waktu sekejab demonstrasi kampus berubah menjadi pemogokan massa. Kejadian tersebut mengancam rezim yang berkuasa pada saat itu.

Begitupun di Rusia sebelum momentum bersejarah yang menggoncangkan dunia pada revolusi oktober 1917. Semangat kaum muda memiliki peran penting dalam menyebarkan ide-ide tentang pembebasan. Para pemuda dan mudi-kebanyakan dari mereka adalah mantan pelajar- dalam jumlah ribuan berangkat ke seluruh penjuru Rusia untuk mewartakan propaganda sosialis. Kekuasaan otokrasi yang korup dan bangkrut, birokrasi yang opresif, mistisisme dan konservatisme relijius yang merasuki semua hal, membangkitkan semua kekuatan hidup dalam masyarakat saat itu untuk memberontak. Pemberontakan melawan perbudakan ini mendorong para pelajar muda revolusioner untuk mencari jalan keluar. Dengan semangat “turun kebawah” kaum muda saat itu menunjukkan bahwa mereka tidak lahir sebagai birokrat-birokrat baru, melainkan sebagai prjurit-prajurit rakyat rusia.

Di Indonesia, bisa kita saksikan peran kepeloporan kaum muda sepanjang sejarah. Sebelum kemerdekaan, banyak kaum muda terpelajar yang mempelopori gerakan perlawanan terhadap kolonialisme. Seperti Semaun, Hatta, Kartini, Tan Malaka dan banyak lagi pemuda lainnya yang menyatakan kebencian, bahkan meninggalkan asal-usul kelas keluarganya sebagai seorang bangsawan. Banyak kaum muda militan yang juga menjadi pelopor dalam mendorong kemerdekaan Indonesia tahun 1945. Peran historis kaum muda, bukan hanya melulu tentang perjuangan militan untuk membebaskan rakyat dari penindasan.

Kaum muda dan mahasiswa juga mempunyai catatan sejarah yang buruk pada tahun 1965 bersama militer dan CIA Amerika dalam melakukan kontra revolusi, mereka memiliki pengaruh besar dalam melegitimasi pemenjaraan dan pembantaian jutaan rakyat yang dituduh komunis, serta membuka jalan rezim militer orde baru untuk berkuasa disertai dengan masuknya kapitalis internasional menguasai sumber daya alam. Kaum muda dan mahasiswa jugalah yang mempelopori jatuhnya rezim militer orde baru pada tahun 1998, dengan mobilisasi yang menjadi senjata utama, bersama rakyat lainnya mereka berhasil memaksa rezim militer untuk turun dari kekuasaan, sehingga kran demokrasi cenderung lebih terbuka hingga sekarang ini.

Namun sekarang, semangat dan konsistensi saja tidaklah cukup. Sejarah telah mencatat betapa berbahayanya kaum muda yang hanya memiliki semangat dan konsistensi dalam melegitimasi kekuasaan rezim militer kontra revolusi pada tahun 1965. Kaum muda dan mahasiswa sekarang harus memiliki landasan ideologi dan politik tepat. Teori yang dimaksud tentu saja adalah Sosialisme Ilmiah, yang berlandaskan pada perjuangan kelas buruh. Sebagaimana dikatakan sebelumnya, kelas buruh adalah kekuatan tenaga produktif yang berkepentingan mewujudkan masyarakat adil dan makmur secara ilmiah, menumbangkan tatanan masyarakat kapitalis melalui revolusi sosialis.

 

Makna May Day Bagi Kaum Muda

Dalam momentum May Day kali ini, sudah seharusnya digunakan oleh kaum muda bersama kelas buruh sedunia menembus sekat-sekat kebangsaan memperkuat persatuan revolusioner untuk mewujudkan tatanan masyarakat baru. Menuntut kesejahteraan ekonomi seperti upah yang layak, jam kerja yang lebih pendek, cuti haid maupun melahirkan bagi perempuan, subsidi dan fasilitas yang baik, dan sebagainya. Selain itu juga berkepentingan merebut kendali politik dari kapitalis dengan membangun dewan-dewan buruh atau dewan Rakyat, sebagai embrio dari pembentukan Negara kelas pekerja.

Hal ini penting dilakukan oleh kaum muda bersama kelas buruh. Terkhusus pada mahasiswa di berbagai universitas, yang notabane jutaan lulusannya di berbagai belahan dunia akan menjadi kelas tertindas baru (buruh) yang dihisap tenaganya untuk akumulasi modal kapitalisme. Jutaan mahasiswa setelah lulus tentu akan menggantungkan nasibnya di berbagai institusi kapitalis besar (termasuk negara), tidak akan ada cukup lowongan bagi mahasiswa untuk menjadi manajer atau kelas penindas baru. Oleh karena itulah perjuangan yang dilakukan oleh kaum muda/mahasiswa dan kelas buruh tidak dapat dipisahkan. Selanjutnya, kelas buruh dan kaum muda revolusioner (pemuda mahasiswa, pemuda buruh, pemuda tani, dsb) yang sadar kelas, perlu mengintegrasikan dirinya kepada pembangunan organisasi muda sosialis dan partai revolusioner. Dengan organisasi demikian, kelas buruh akan mendapatkan jalan dalam melawan musuh-musuh kelasnya, merebut demokrasi seutuh-utuhnya, menuju tatanan masyarakat adil dan makmur: Sosialisme.

Selamat Memperingati Hari Perlawanan Kelas Buruh!

Kaum Muda Revolusioner dan Kelas Buruh Sedunia Bersatulah!

Bangkitkan Semangat Internasionalisme!

Bangun Organisasi Muda Sosialis dan Partai Revolusioner!

 

[1] http://www.antaranews.com/berita/623850/buruh-sambut-may-day-is-a-happy-day

[2] http://bisnis.liputan6.com/read/2927505/500-ribu-buruh-bakal-turun-ke-jalan-pada-peringatan-mayday

[3] http://www.militanindonesia.org/analisa-politik/8412-internasionalisme-yang-terlupakan-dalam-hari-buruh-internasional.html

 

Monday, April 27, 2020 0 comments

Bagimu Kejulidanmu, Bagiku Monetisasiku

 

            RIA Ricis pamit. Ria Ricis kembali. Selanjutnya apa? Ria Ricis pamit sambil sumpah pocong tak akan kembali lagi? Lakukanlah. Dan kembalilah lagi tanpa tahu malu.

Saya jamin, penonton Ria Ricis tetap membeludak.

Kita hidup di hari-hari yang menjengkelkan. Ria Ricis bukan satu-satunya influencer kondang yang lidahnya lebih licin ketimbang arena ice skating. Kita punya Awkarin yang, wow, pernah menghadiahkan akun media sosialnya kepada dirinya sendiri. Ada pula Atta Halilintar yang mengelabui warganet dengan keisengan yang seolah-olah spontan namun sudah disiapkan di muka.

Kalau ketiganya sudah pensiun kelak—yang, sayangnya, mungkin bisa lebih lama dari hidup Anda—kita dipastikan punya banyak penggantinya.

Berulang kali saya mendapati teman-teman saya geleng-geleng dengan cita-cita entah keponakan, entah anak tetangga mereka. Anda, pasti, sudah bisa menebaknya. Pangkal masalahnya selalu sama: anak-anak ini bercita-cita menjadi YouTuber.

“Adek, mau jadi apa kalau sudah besar nanti?” teman saya suatu hari bertanya kepada keponakannya.

“YouTuber!” sang keponakan membalas tanpa tedeng aling-aling.

Teman saya kontan kecewa—mungkin dia awalnya berharap mendapati cita-cita klise ingin menjadi pilot, dokter, insinyur, atau SJW.

Persoalannya, di hari-hari ini, kejengkelan kita dengan YouTuber pengemis perhatian sama sekali tidak punya arti. Anda bisa merampas masa depan seseorang di kantor atau bidangnya dengan kejulidan—dengan menggunjingkan penuh dengki keburukan-keburukannya bersama para kolega. Anda, sekurang-kurangnya, dapat merampas ketenangan hidupnya. Akan tetapi, hal yang sama tak berlaku untuk para selebritas digital. Kejulidan justru mengganjar mereka dengan reputasi dan, pada akhirnya, mempertebal koceknya.  

Berapa banyak, toh, orang yang tetap memutar video Ria Ricis, Awkarin, Atta Halilintar meski sekadar untuk marah-marah belaka? Di antara kita saja, saya yakin, tak sedikit, dan dengannya kita sudah menyumbangkan secuil umur kita untuk menonton iklan di lamannya. Anda julid dan merasa sudah melakukan sesuatu dengan memaki-maki para selebritas digital? Mereka, bisa jadi, malah punya prinsip hidup digital yang jauh mengangkangi segenap kejulidan Anda—“bagimu kejulidanmu, bagiku monetisasiku.”

Ada beberapa orang yang saya benci hingga ke ubun-ubun di jagat Twitter. Salah satunya ialah Tengku Zulkarnain. Kombinasi rutin antara ujaran kebenciannya dengan kesemerawutan berbahasanya benar-benar membuat saya ngegas. Dan terka saja apa yang terjadi: Twitter terus-menerus menjejalkan cuit-cuitnya ke linimasa saya terlepas saya tak mengikutinya.

Twitter, saya yakin, membaca durasi waktu saya membaca cuitnya yang lebih lama ketimbang cuit-cuit lain. Tak ingin membuat laman awal YouTube saya cemar dengan video para influencer tak bermutu, saya biasanya sekuat tenaga menghindari memencet unggahan mereka. Begitu YouTube mendapati saya singgah ke laman video Atta Halilintar, katakanlah, ia takkan henti menjajakan video-videonya yang tak saya perlukan (persis telemarketing asuransi Sukatelpon).

Rupanya, di Twitter saya lengah. Saya secara naluriah terpantik, membaca cuit Tengku Zulkarnain dengan saksama, marah, lalu membacanya lagi, lalu ingin mendebatnya, lalu lagi-lagi membacanya. Meskipun pada akhirnya saya hanya membalasnya dengan peta sebuah daerah di Prancis, algoritme Twitter sudah telanjur membaca kecenderungan saya berkutat dengan provokasi Tengku Zulkarnain. Mereka, mungkin, langsung menerka saya akan berlama-lama dengan penuh sukacita di Twitter bila saya terpapar terus-menerus cuit semacam.

Dan Twitter, saya mesti mengakui dengan berat hati, tak sepenuhnya keliru. Cuit-cuit yang diselundupkannya secara gelap ke linimasa saya acap berhasil membuat saya berlama-lama di platformnya (meski tidak dengan penuh sukacita). Menyusul Tengku Zulkarnain, linimasa saya pun disusupi dengan cuitan-cuitan Haikal Hassan Baras dan Mustofa Nahrawardaya. Nyaris semuanya sukses memancing emosi dan perhatian penuh saya yang mahal.

Dan, bukan kebetulan seharusnya bertepatan dengan penerapan siasat algoritmik semacam ini, Twitter mulai mencetak keuntungan. Keuntungan di dunia media baru setara dengan waktu yang dihabiskan pengguna—tak peduli mereka menghabiskannya dengan kerelaan hati atau tidak. Kini saya memang berkubang di Twitter lebih lama—acapkali sambil murka menyaksikan influencer bermulut limbah. Mungkin demikian juga dengan Anda.

Di hari-hari yang menjengkelkan ini, Anda sebenarnya tak bisa membanggakan kejulidan sebagai benteng perlawanan warganet. Sistem pertahanan dan keamanan berbasis kenyinyiran warganet? Omong kosong. Kelakuan semacam justru menjadikan warganet mangsa empuk para influencer, perusahaan platformnya namun, lebih tepatnya lagi, kapitalisme surveilans. Untuk apa membaca pesan muak warganet kalau persekongkolan gawat ini punya akses membaca segenap aktivitas warganet di dunia maya—durasi melihat, jumlah kunjungan, kata kunci kegemaran, dan lain-lain? Untuk apa meratapi pedasnya kritik warganet kalau ia justru bisa dieksploitasi guna menagih perhatian konstan mereka?

Dalam struktur yang demikian, Atta Halilintar sesungguhnya berhak sesumbar menggoda Anda menggunakan kata-kata Thanos, sang titan ungu. “I am inevitable.” Atta akan mendatangi kehidupan Anda, yang sebagian besar akan dihabiskan di depan layar, lagi dan lagi. Semakin besar keinginan Anda untuk menyingkirkannya, ia semakin tak mungkin tersingkir dari kehidupan Anda. Tengku Zulkarnain takkan hilang dari kehidupan saya di masa mendatang. Semakin banyak kritik dan kecaman yang diterimanya, semakin santer namanya. Ia semakin merasa diperlakukan bak pahlawan dan calon martir—sementara para pembencinya tergulung dalam ekosistem digital Twitter.

Kita tak sendirian. Warganet di mana-mana sedang berlari dalam roda hamster yang sama. Roda hamster yang membesarkan influencer yang mengecer keisengan provokatif dan tipu muslihat. Roda hamster yang boleh jadi telah mendudukkan Donald Trump di kursi kepresidenan.

Fakta menyedihkan untuk menutup tulisan yang sudah di pengujung paparannya ini? Kita belum punya Iron Man yang dapat merampas dari tangan kekuatan jahat ini kuasa atas eksistensi daring kita.

Yang kita punya adalah kejulidan semata

.***

Thursday, April 9, 2020 0 comments

30 Tahun Runtuhnya Tembok Berlin: Selamat Datang Kembali Lenin!


Setelah runtuhnya Tembok Berlin borjuasi merayakan apa yang disebut sebagai “Akhir dari Sejarah”. Mereka mencoba meyakinkan semua orang bahwa kontes ideologi telah dimenangkan kapitalisme. 30 tahun setelah runtuhnya Tembok Berlin semua dengan cepat berubah. Euforia segera menjadi suasana pesimisme. Peringatan akan bahaya-bahaya krisis yang lebih besar di hari mendatang mulai bersahutan, bukan dari seorang Marxis, tapi dari para pakar ekonomi borjuis dan para ideolog pembelanya. Di mana-mana kita menyaksikan bahwa tahun mendatang akan jauh lebih buruk dari tahun kemarin. "Aku berkata kepadamu, jangan tertipu oleh setiap berita baik dan jangan euphoria”. Begitu kata mereka.
Krisis 2008 belum terselesaikan sampai hari ini menimbulkan konsekuensi yang menyakitkan. Kapitalisme hanya hidup melalui suntikan uang seperti seorang yang ada di ruang pesakitan yang tergantung pada peralatan medis. Pertumbuhan dan minat ekspor yang rendah berkepanjangan adalah indikator bahwa sistem ini telah kehilangan semua kekuataannya untuk hidup. Di puing-puing reruntuhan Tembok Berlin sekarang berdiri ancaman reruntuhan yang baru. Di Jerman sendiri meskipun bisa menghindari krisis Euro masih menyimpan potensi krisis yang dalam. Keterikatan antara bank-bank dan industri Jerman terhadap negara-negara yang sedang krisis sangat tinggi, sehingga membuat tidak mungkin bagi Jerman untuk lepas dari krisis ini.
 
;