Tahun 2018 didominasi oleh gerakan #MeToo yang
sungguh mengguncang semua sendi masyarakat. Kaum perempuan yang lama diam dan
tunduk kini menemukan suaranya. Segala bentuk penghinaan, diskriminasi,
pelecehan dan kekerasan yang mereka alami sejak mereka lahir, entah di tempat
kerja, di sekolah, atau bahkan di rumah mereka sendiri dimana mereka seharusnya
merasa aman, kini menjadi tak tertanggungkan. Mereka
menuntut keadilan.
Bermula dari Amerika Serikat, gerakan #MeToo menyebar
ke seantero dunia. Gaungnya pun sampai ke Indonesia, walau tidak
sekeras di AS. Misalnya kasus pemerkosaan Agni, seorang mahasiswi dari
Universitas Gadjah Mada, yang tidak hanya menarik perhatian publik tetapi juga
memercikkan kampanye anti kekerasan seksual di banyak kampus lainnya.
Namun
yang terutama gerakan #MeToo mendorong banyak orang untuk bertanya
mengenai akar penindasan terhadap kaum perempuan dan solusi terhadapnya. Kaum
perempuan yang matanya mulai terbuka tidak bisa tidak bertanya mengenai
posisinya dalam masyarakat. Partisipasi kaum perempuan dalam masyarakat, entah
dalam ranah politik, ekonomi, kebudayaan, sains, dsb., sepanjang sejarah
umumnya sangat rendah. Ini merupakan indikator posisi perempuan dalam
masyarakat, yang terjebak dalam kungkungan persalinan dan dapur.







