Grunge sejatinya memang berbicara soal depresi, melankolis,
dan kecenderungan akan nihilis yg tinggi. Namun Grunge tidak akan hadir kalau
tidak ada penyebab materiilnya. Dalam sejarahnya, Grunge lahir sebagai
antithese dari perang dingin yg berkepanjangan, krisis moneter dunia, dan
kesenjangan sosial yg menggila. Keadaan-keadaan yg demikian membentuk
karakter-karakter pemuda di Seattle yg ekspresif. Mereka merespons semua hal
tersebut dengan menciptakan karya-karya rock n' roll yg minus atribut. Para
Grungies seringkali melakukan pemberontakan terhadap keadaan melalui
karya-karyanya tersebut.
Wajar saja jika Grunge pada akhirnya sangat ditakuti oleh para
orang tua. Sejatinya para pemuda di masa itu sangat membenci orang tua mereka
yg hanya peduli pada kehidupan kapitalistik yg mereka jalani. Pada dasarnya,
para pemuda Grungies menjalani kehidupan mereka dengan melawab arus struktural
kehidupan yg ada. Itu sebabnya muncul istilah bahwa para Grungies adalah para
pelopor praktik Postmodernisme. Walaupun gagasan Postmodernisme sebenarnya
lebih tua lagi ditemukan dari karya-karya Nietzche hingga Mazhab Frankfurt.







