Sejak runtuhnya kekhilafahan Utsmaniyah, kaum sekuler
mengumandangkan kejayaannya. Tetapi beberapa pemikir Islam modern kembali
mengumandangkan Islam politik, seperti Jamaluddin El Afghani dan Muhammad
Abduh. Keduanya membuat konsep Pan Islamisme yang belakangan menjadi kiblat
bagi pergerakan Sarekat Islam. Tak ketinggalan, Hasan Al Banna dan Sayyid Qutbh
pun mendirikan Ikhwanul Muslimin di Mesir dan mulai bersaing dengan partai
sekuler Mesir.
Tetapi rupanya Lenin dan kawan-kawannya di Komintern
meyakinkan kita bahwa Pan Islamisme sesungguhnya bentuk Imperialisme agama.
Apakah benar demikian? Kebijakan Komintern tersebut - pada akhirnya - membuat
pergerakan Sarekat Islam pecah. Hasan Sho'ub, Muhammad Thaha, dan beberapa
pemikir Islam lainnya sependapat dengan tesis Komintern tersebut. Menurut
mereka sudah seharusnya Islam jauh dari politik.
Mengutip pernyataan dalam situs Dakwatunna, Islam adalah agama
yang menyeluruh sehingga ia dapat berpolitik jua. Hasan Al Banna juga
menyatakan bahwa tidak lengkap Islamnya seseorang ketika ia tidak berpolitik,
"Setiap muslim harus berpolitik". Beberapa pemikir Islam - termasuk
Jamaluddin El Afghani - banyak mengutip ayat Alqur'an - yang sebenarnya - tidak
ada hubungannya dengan politik seperti ayat yang menyatakan bahwa Allah
menciptakan manusia untuk dijadikan khalifah di bumi.







