Showing posts with label TotalitasPerjuangan. Show all posts
Showing posts with label TotalitasPerjuangan. Show all posts
Friday, October 16, 2020 0 comments

Prakerja, Cilaka, Minerba: Memanjakan Kapitalis, Menindas Pekerja

 

Virus Covid-19 tak hanya cepat menular dan membunuh manusia. Ia juga dengan gesit menggerogoti jantung perekonomian kapitalisme. Imbasnya, kapitalis tidak mempunyai jalan lain selain memecat sepihak buruhnya demi mengantisipasi kebangkrutan. Mayoritas buruh dipecat tanpa diberi pesangon. Mereka kemudian berduyun-duyun ke jalan, menggalang aksi menuntut pesangon serta nasib mereka kelak.

Dalam situasi kalut itu, pemerintah lalu meluncurkan kartu prakerja, yang sebenarnya merupakan program Jokowi dalam kampanyenya setahun silam. Kartu ini diharapkan menjadi solusi mengentaskan masalah para buruh sekarang.

Pada saat bersamaan, pemerintah juga mengesahkan RUU Minerba yang telah dibahas oleh panja RUU Minerba Komisi VII DPR RI dari Februari-Mei. Selain itu, pemerintah juga membahas RUU Cilaka (Cipta Lapangan Kerja) atau Cika. Kedua RUU tersebut ditargetkan pemerintah untuk menciptakan lapangan pekerjaan guna mengatasi pengangguran.

Thursday, October 1, 2020 0 comments

Perjuangan Kelas dan Omnibus Law

 

Keputusan rejim Jokowi-Ma’ruf membuat payung hukum sapu jagat atau Omnibus Law cilaka (Cipta Lapangan Kerja) hendaknya dipahami sebagai sikap kepatuhan terhadap kepentingan pasar bebas atau neoliberalisme. Eksplisit, sikap itu terefleksi dalam pernyataan presiden di pelbagai kesempatan, bahwa perkembangan pasar yang begitu dinamis, mengharuskan para pemangku kebijakan mengambil keputusan-keputusan kepentingan yang cepat. Hal itu hanya dimungkinkan manakala problem obesitas regulasi yang tumpang tindih, segera diatasi lewat kebijakan omnibus law.

RUU Omnibus Law dibuat dalam rangka merampingkan, menyederhanakan dan menghapus regulasi setingkat UU guna menarik investasi sebesar-besarnya demi terbukanya lapangan pekerjaan. Dengan demikian, pertumbuhan ekonomi nasional dapat meningkat. Betapapun agenda ini sangat problematik. Bila berkaca pada kebijakan Jokowi sebelumnya, tak jarang kebijakan yang dibuat berujung pada pengebirian hak-hak warga negara.

Wednesday, September 23, 2020 0 comments

Upaya Kuba Bersolidaritas Melawan Corona

 

Beberapa bulan terakhir manusia dihadapkan oleh kenyataan bahwa dirinya tak sekuat yang dibayangkan selama ribuan tahun. Suatu kekuatan tak kasat mata yang enggan diusir lewat mantra dan jampi-jampi kini berdiri di ambang pintu peradabannya. Virus. Ia pernah menghantui bumi beberapa kali dengan berbagai wujudnya, namun tak semengerikan hari ini. Sampai tulisan ini diketik, virus korona yang sempat diremehkan mulai unjuk gigi menampar keangkuhan manusia dengan mencabut puluhan ribu nyawa. Generasi ini menyaksikan langsung kekuatannya yang menyapu berbagai ibukota dunia, yang biasanya bergelimangan cahaya lampu kini bagaikan kota hantu. Sihirnya memblejeti kemahsyuran kapitalisme. Perekonomian dan panggung politik makin terguncang, dan rakyat pekerjalah yang tetap terkena imbasnya.

Ketika segenap penduduk bumi bersiaga, negara-negara mulai kewalahan dengan jumlah korban jiwa, satu negara pulau di sebelah utara Karibia tak gentar dan malah berani ambil sikap. Pertengahan Maret 2020, kapal pesiar MS Braemar dari Britania Raya dengan kurang lebih 700 penumpangnya ditolak merapat di setiap pelabuhan di kepulauan Karibia karena diduga membawa penumpang yang terinfeksi virus korona. Aneh tapi nyata, Kuba malah mempersilahkan kapal tersebut bersandar di Havana. Selain membantu evakuasi mereka pun mengirimkan tenaga medis untuk menanganinya. Setelah itu mereka bahkan menerbangkan tenaga medisnya ke Italia dan Spanyol.

Thursday, September 3, 2020 0 comments

Belajar Realisme dari Master Sun

SEJARAH mencatat kekalahan demi kekalahan dari setiap perjuangan kelas pekerja di dunia sejak dua abad terakhir. Setidaknya hampir semua perjuangan, kalau saja sempat berhasil, takkan bertahan lama dan menjadi terkucil. Kita bisa mengingatnya sejak letupan senjata pada Revolusi Prancis, Revolusi 1848 di Eropa, Komune Paris, Spartakus di Jerman dan berbagai perjuangan kelas di belahan dunia lainnya.

Tentu ada pengecualian, seperti kemenangan gilang gemilang gerakan revolusioner para Bolshevik dalam Revolusi Oktober di Russia, perjuangan Tentara Merah Tiongkok melawan fasis Jepang dan oportunis Kuomintang, gerilya Gerakan 26 Juli yang menumbangkan diktator Batista dalam Revolusi Kuba, dan tentu saja para Vietcong yang dapat membikin Amerika Serikat angkat kaki dari Indochina dalam satu dua pukulan, meski episode-episode kemenangan tersebut juga tak lepas dari banyak tantangan.

Friday, April 17, 2020 0 comments

Kritik Marx terhadap Sosialisme Awal


I. Sumbangsih Kaum Sosialis Awal
MENYUSUL terjadinya Revolusi Prancis, sejumlah teori mulai beredar di Eropa yang berusaha menjawab tuntutan keadilan sosial yang tak terjawab oleh Revolusi Prancis dan untuk mengoreksi ketidakseimbangan ekonomi dramatis yang ditimbulkan oleh penyebaran revolusi industri. Kemajuan demokratis setelah pendudukan, Bastille, memberikan pukulan yang menentukan bagi aristokrasi. Tapi situasi baru itu hampir tidak mengubah ketidaksetaraan kekayaan antara kelas populer dan kelas dominan. Ambruknya monarki dan pendirian republik, ternyata tidak mencukupi untuk mengurangi kemiskinan di Prancis.
Inilah konteks dimana teori-teori sosialisme ‘utopis-kritis’, sebagaimana didefinisikan oleh Marx dan Engels dalam Manifesto Partai Komunis (1848), menjadi terkenal. Keduanya menganggap mereka ‘utopis’ karena dua alasan: pertama, para eksponennya, dengan cara yang berbeda, menentang tatanan sosial yang ada dan melengkapinya dengan  teori yang mengandung apa yang mereka yakini sebagai ‘elemen paling berharga untuk pencerahan kelas pekerja’; dan, kedua, para eksponen itu mengklaim bahwa bentuk alternatif organisasi sosial dapat dicapai hanya melalui identifikasi teoritis ide-ide dan prinsip-prinsip baru, ketimbang melalui perjuangan konkret kelas pekerja. Menurut Marx dan Engels, para pendahulu sosialis itu percaya bahwa
tindakan historis (harus) tunduk pada tindakan inventif pribadi mereka, yang secara historis menciptakan kondisi-kondisi  emansipasi pada yang fantastis, dan organisasi kelas proletariat berkembang secara bertahap dari yang spontan ke organisasi masyarakat yang secara khusus dirancang oleh para penemu ini. Sejarah masa depan menyelesaikan dirinya sendiri, dalam pandangan mereka, ke dalam propaganda dan tindakan praktis dari rencana sosial mereka.
Thursday, April 9, 2020 0 comments

30 Tahun Runtuhnya Tembok Berlin: Selamat Datang Kembali Lenin!


Setelah runtuhnya Tembok Berlin borjuasi merayakan apa yang disebut sebagai “Akhir dari Sejarah”. Mereka mencoba meyakinkan semua orang bahwa kontes ideologi telah dimenangkan kapitalisme. 30 tahun setelah runtuhnya Tembok Berlin semua dengan cepat berubah. Euforia segera menjadi suasana pesimisme. Peringatan akan bahaya-bahaya krisis yang lebih besar di hari mendatang mulai bersahutan, bukan dari seorang Marxis, tapi dari para pakar ekonomi borjuis dan para ideolog pembelanya. Di mana-mana kita menyaksikan bahwa tahun mendatang akan jauh lebih buruk dari tahun kemarin. "Aku berkata kepadamu, jangan tertipu oleh setiap berita baik dan jangan euphoria”. Begitu kata mereka.
Krisis 2008 belum terselesaikan sampai hari ini menimbulkan konsekuensi yang menyakitkan. Kapitalisme hanya hidup melalui suntikan uang seperti seorang yang ada di ruang pesakitan yang tergantung pada peralatan medis. Pertumbuhan dan minat ekspor yang rendah berkepanjangan adalah indikator bahwa sistem ini telah kehilangan semua kekuataannya untuk hidup. Di puing-puing reruntuhan Tembok Berlin sekarang berdiri ancaman reruntuhan yang baru. Di Jerman sendiri meskipun bisa menghindari krisis Euro masih menyimpan potensi krisis yang dalam. Keterikatan antara bank-bank dan industri Jerman terhadap negara-negara yang sedang krisis sangat tinggi, sehingga membuat tidak mungkin bagi Jerman untuk lepas dari krisis ini.
Friday, March 27, 2020 0 comments

Menjernihkan Manipulasi Kata Radikalisme


KATA Radikalisme sedang mengalami deformasi luar biasa. Maknanya sudah bergeser jauh dari positif dan progressif menjadi sangat negatif dan reaksioner. Dalam konteks Indonesia, kata “radikal” muncul dari diskusi tentang terorisme. Terminologi yang sebetulnya telah lama digunakan di Indonesia ini kembali marak menguak setelah kasus terorisme di Surabaya, Sidoarjo, dan Riau pada Mei 2018 lalu.
Media-media masa baik cetak maupun elektronik pejabat negara, dan berbagai kalangan mengalamatkan kekerasan yang dilakukan para pelaku teror kepada satu sebab, yakni radikalisme. Kemudian bermunculan berbagai analisis yang menuding radikalisme sebagai pangkal dari terorisme dan intoleransi. Sampai-sampai, pemerintah membangun sebuah gerakan baru untuk melawan ancaman terorisme, yakni program “de-radikalisasi”. Apa sebenarnya radikalisme itu, sehingga dituduh punya relasi adekuat dengan actus terorisme? Tulisan ini coba melihat radikalisme dengan kacamata positif.

Memahami Radikalisme
Secara etimologis, term “radikal” berasal dari kata bahasa Latin, yakni “radix/radici”, yang berarti “akar”. Akar berarti dasar. Bertolak dari pemahaman ini, dalam konteks politik, istilah “radikal” mengacu pada individu, gerakan atau partai yang memperjuangkan perubahan sosial atau sistem politik secara mendasar atau keseluruhan.
Saturday, October 5, 2019 0 comments

Editorial: Reformasi yang dikhianati


Buruh, tani, kaum miskin kota, dan terutama kaum mahasiswa di seluruh Indonesia tengah bergerak bersama untuk menentang pemerintahan Jokowi. Belum lagi dilantik untuk masa jabatannya yang kedua, rejim ini sudah mencoba memaksakan sejumlah kebijakan yang jelas represif dan menindas rakyat, di antara lainnya revisi UUK, revisi UU KPK, RUU KUHP, dan RUU pertanahan.
Motivasi dari kebijakan-kebijakan ini sudah kita dengar dari pidato kenegaraan Jokowi pada 16 Agustus lalu, yakni untuk “berebut investasi.” Untuk menarik investasi ini, Jokowi katakan bahwa “cara-cara lama yang tidak kompetitif tidak bisa diteruskan. Strategi baru harus diciptakan. Cara-cara baru harus dilakukan.” Kita telah melihat dengan mata kepala kita sendiri apa yang dimaksud Jokowi dengan cara-cara baru ini.
Lewat revisi UUK, pemerintah dapati cara baru untuk memeras lebih banyak keringat dan darah buruh, demi profit yang lebih besar bagi investor. Ini wajar-wajar saja dalam sistem kapitalisme. Investor mana yang tidak mengharapkan iklim bisnis dimana upah murah dengan jam kerja panjang dan buruh mudah di-PHK tanpa pesangon. 
Wednesday, October 2, 2019 0 comments

Represi September: Konsolidasi Kapitalisme dan Gelombang Perlawanan Rakyat


GELOMBANG perlawanan rakyat dari berbagai elemen terhadap sejumlah kebijakan pemerintah yang semakin oligarkis dan anti-demokrasi begitu menonjol dalam beberapa minggu terakhir. Di luar perhitungan kalangan gerakan sosial, aksi-aksi massa ini ditanggapi secara represif oleh aparatus keamanan negara. Mobilisasi jalanan oleh berbagai organisasi dan kolektif gerakan rakyat segera disambut oleh represi – peserta aksi digebuki, ditangkapi, dan bahkan difitnah. Bisa dikatakan bahwa represi yang terjadi akhir-akhir ini secara kualitatif merupakan represi dengan skala yang cukup besar dan karenanya cukup memukul perjuangan rakyat. Tetapi, gelombang perlawanan rakyat yang kembali muncul ini, terlepas dari segala dinamika dan kekurangannya, berupaya menjaga momentum perjuangan hingga detik ini.
Dinamika inilah yang menarik untuk dilihat lebih lanjut dan dijadikan acuan untuk pergerakan kita ke depan. Di sini, kita memerlukan suatu kerangka baca untuk memahami manuver-manuver liar yang diambil oleh para elite akhir-akhir ini dan mengevaluasi pola perlawanan kita. Tanpa kerangka baca yang lebih komprehensif, maka langkah kita ke depan akan cenderung defensif dan reaktif, lupa bahwa di tengah-tengah dominasi elite ada ruang-ruang di mana kita bisa lebih jauh memajukan tuntutan kita dengan strategi yang tepat.
Friday, September 13, 2019 0 comments

Kaum Muda Hong Kong Melawan UU Ekstradisi


Sambil menggunakan masker gas air mata dan mengacungkan tinju ke atas kaum muda memenuhi jalanan kota di Hong Kong. Bentrokan tidak bisa dihindari. Polisi kebingungan mengatasi kerumunan orang yang datang dari segala arah. Setelah kucing-kucingan dengan polisi, mereka berkumpul di satu bagian kota hanya untuk bubar dan berkumpul di tempat lain. Mereka mencapai beberapa target titik aksi secara bersamaan. Demonstran semakin pintar mengecoh aparat. Aksi semakin tampak  terorganisasi. Mereka mendorong pagar penghalang dan melemparkan batu bata, botol dan tongkat pada polisi. Ketika polisi mengarahkan gas air mata ke arah mereka, mereka mengejar tabung yang mengeluarkan asap dan menyiramnya dengan air. Inilah gambaran kondisi Hong Kong.
Selama 10 minggu berturut-turut belum ada tanda-tanda gerakan ini akan berakhir. Para demonstran mengubah kota-kota di Hong Kong menjadi medan pertempuran. Ini adalah demonstrasi terbesar sepanjang 15 tahun terakhir. Demonstrasi semakin meluas dan sulit dipadamkan. Kondisi ini melemparkan Hong Kong pada krisis politik. Hampir dua juta dari tujuh juta orang berpartisipasi dalam demonstrasi ini. Mereka menyerukan pemerintah untuk menarik undang-undang yang diusulkan yang memungkinkan ekstradisi ke daratan Tiongkok.
Wednesday, June 12, 2019 0 comments

Gerakan Payung Hong Kong








Hong Kong tengah memasuki situasi bergejolak. RUU Ekstradisi yang tengah digodok oleh pemerintah dikecam keras oleh rakyat. Kecaman ini mewujud dalam barisan ratusan ribu orang yang turun ke jalan-jalan guna menentang RUU ini. Dalam sepekan terakhir setidaknya terjadi tiga demonstrasi dalam jumlah massa yang kian membesar mencapai jutaan orang. Demonstrasi ini bahkan diklaim sebagai aksi terbesar dalam sejarah Hong Kong, yang bahkan lebih besar dari ‘gerakan payung’ 2014 lalu.
Isi RUU Ekstradisi ini mengatur agar siapapun yang ditengarai sebagai penjahat dapat diekstradisi ke daratan Tiongkok. Meski tidak mencakup pembangkang politik, namun mengingat pemerintah Tiongkok yang bisa secara bebas menculik warga Hong Kong dimanapun mereka suka, RUU ini memungkinkan rejim Tiongkok bergerak lebih lancar lagi dalam menangkapi aktivis-aktivis yang kritis terhadapnya di bawah label ‘penjahat’. Tidak sulit untuk membayangkan Tiongkok akan menemukan cara untuk membersihkan lawan-lawan politiknya di Hong Kong dan menyeret mereka ke pengadilan sebagai ‘penjahat’.
Thursday, March 14, 2019 0 comments

Thesis Mahasiswa Menurut Analisis Marxis


Pengamatan terbaru terhadap mahasiswa saat ini :
1.      Saya kecewa ketika para mahasiswa tidak bertindak sebagai mahasiswa lagi. Pengungkapan 3 konsep fungsi mahasiswa yang pernah saya tulis dan saya sampaikan tidak lagi dijiwai oleh para mahasiswa tersebut.
2.      Beberapa missal sederhana tentang bobroknya mahasiswa masa kini salah satunya adalah membaca presentasi bukan mempresentasikan bacaan. Hal ini adalah salah satu bukti kemunduran intelektual mahasiswa. Padahal tugas mahasiswa sebagai pengembang ilmu sudah sepantasnya memberikan pengajaran argumentatif dengan kajian yang sudah cukup mendalam.
3.      Memang diakui, kreatifitas mahasiswa saat ini mencapai tingkat yang inovatif, berarti para mahasiswa berhasil mengembangkan kemampuan seni dan verbalistiknya secara tajam dan mendalam.
4.      Beberapa mahasiswa secara sadar merubah dirinya menjadi seorang yang revolusioner juga mengaku sebagai motor penggerak rakyat, tetapi sekali lagi mereka melupakan salah satu fungsi pokok mahasiswa yaitu berpikir kritis solutif.
5.      Adapun yang berpikir kritis, tetapi hanya menjadi bumbu omong kosong yang nyata. Apalagi disertai dengan tindakan yang tidak mencerminkan mereka sebagai seorang intelektual terdidik.
6.      Beberapa sanggup mengembangkan ilmu hingga ke tingkat yang paling membanggakan, tetapi mereka salah menafsirkan sehingga muncul persepsi egoisitas dan hilangnya rasa Sosialisme Intelektual di kalangan mereka.
7.      Beberapa dari mereka mencoba bergabung atau membentuk organisasi berlatar belakang paham kiri. Mahasiswa seperti ini sadar akan tujuan dari oposisi pemerintahan, tetapi tidak disertai kajian yang dalam, kita mengetahui bahwa jika paham merah tersebut tidak di mengerti dengan benar akan menimbulkan salah artian atau persepsi negative yang menjurus ke tindakan ekstrimitas yang ceroboh.
8.      Karena semakin maraknya Universalisme dalam paham Kapital – Liberal, maka mahasiswa sebagai garda depan tidak luput dari imbas tersebut. Hasilnya mereka semakin individualistis dan tidak lagi mencerminkan Sosialitas, jauh dari asas pokok bangsa Indonesia yang pernah di sampaikan Bung Karno yaitu “Gotong Royong”.
9.      Beberapa mahasiswa yang saya apresiasi adalah karena mereka mencoba memurnikan ajaran Pancasila. Seperti yang kita ketahui, merebaknya Universalisme Liberal telah mengubah arah dari filsafat Pancasila yang tidak lagi murni seperti pada awalnya.
10.  Organisasi – organisasi Mahasiswa masa kini yang berbeda asas dan paham seringkali bertikai, lebih parahnya lagi mereka mengakui hal itu terjadi karena atas nama rakyat.
11.  Pokok – pokok yang terjadi di atas adalah karena mereka kehilangan salah satu asas pokok kehidupan mansia yaitu agama. Mereka mencoba menyalahkan agama atas apa yang telah terjadi di kalangan masyarakat, yaitu pertentangan antar kelas, atau lebih parahnya lagi pertikaian, mengacu kepada pemikiran Marx yang disalah artikan oleh mereka.
12.  Pokok – pokok tersebut harusnya di kritisasi sehingga menghasilkan suatu solusi dari arah pergerakan mahasiswa Indonesia kedepannya, bukan menjadi suatu These yang tiada artinya sama sekali.

Antithese dari These Tentang Mahasiswa saat ini
1.            Mengembangkan 3 fungsi pokok kemahasiswaan yang pernah saya sampaikan pada forum diskusi atau tulisan – tulisan sebelumnya.
2.            Menghilangkan dan menghindari arus Universalisme paham Kapital – Liberal yang tidak sesuai dengan asas bangsa Indonesia yaitu “Gotong Royong”.
3.            Menerapkan prinsip Sosialisme Intelektual dengan menilik dari ajaran Robert Owen, Marx, Engels, dan para tokoh pergerakan Indonesia pada masa awal kemerdekaan.
4.            Mengembangkan salah satu asas pokok kehidupan manusia yaitu keagamaan, tentunya bukan berarti kita harus menelan mentah – mentah ajaran agama, tetapi melalui kajian yang dalam sehingga kita paham apa sebenarnya fungsi agama tersebut di masyarakat.

Synthese Mahasiswa saat ini
“ Menciptakan mahasiswa yang memiliki modal yang cukup untuk menjadi pengemban intelektual ilmiah yang berasaskan Sosialisme Agama dan menjadi motor penggerak bangsa Indonesia yang berada di garda depan dalam membawa arus masyarakat ke kehidupan yang modern dan sejahtera serta bisa bersaing dengan bangsa yang lainnya di dunia.”
Thursday, February 28, 2019 0 comments

Dibalik Peristiwa Malari, 1974



Ali Moertopo adalah salah satu dari elite militer yang menduduki posisi-posisi penting pada masa pemerintahan Soeharto. Beliau merupakan seorang yang sangat dekat dengan Soeharto, seseorang yang selalu berusaha menyingkirkan lawan politiknya orde baru. Beliau terkenal sangat Macchiavelis dan terkenal jenius dalam menyingkirkan lawan. Beberapa posisi penting yang pernah ia duduki antara lain : Deputi Kepala Operasi Khusus (1969 – 1974), Wakil Kepala Bidang Intelijen (1974 – 1978), Penasihat Badan Pemenangan Pemilu Golkar, dan Menteri Penerangan RI (1978 – 1983). Sosoknya dikenal sangat dekat dengan Soeharto. Kedeketan mereka terjalin sejak Ali membantu Soeharto dalam menduduki jabatan sebagai Pangdam Dipenogoro dengan pangkat kolonel, sebagai imbalan atas naiknya Soeharto tersebut, Ali ditunjuk sebagai Asisten Teritorial.
Dibalik kekejamannya terhadap lawan politik Orde Baru saat itu, Ali juga banyak melakukan reformasi di bidang intelijen Negara, mendirikan CSIS (Centre of Strategic and International Studies), dan menerbitkan tulisan Dasar-dasar Pemikiran Tentang Akselerasi Modernisasi Pembangunan 25 Tahunyang selanjutnya diterima oleh MPR pada saat itu sebagai strategi pembangunan jangka panjang. Jelas, karya-karya Ali tersebut sangat berpengaruh bagi kelangsungan dunia pemerintahan Indonesia hingga sekarang.
Friday, January 12, 2018 0 comments

“Arti Revolusi Bagi Seorang Marxis”

Belakangan ini kita mengalami suatu masa dimana Demonstrasi menjadi satu-satunya jalan untuk menyatakan aspirasi rakyat. Kenapa saya berkata demikian, itu karena penyampaian aspirasi lewat tulisan hampir tidak pernah di dengar oleh pemerintah, padahal penyampaian aspirasi lewat tulisan lebih mengkaji mendalam soal kebijakan-kebijakan pemerintah dan dampaknya bagi rakyat. Pemerintah sekarang telah tuli atau buta (atau dibutakan) sehingga lewat tulisan pun tidak mampu untuk merubah sikapnya yang egois dan tidak memikirkan rakyat.
Terlepas dari penyampaian aspirasi lewat tulisan yang tidak pernah di tanggapi serius, Pemerintah terus mengeluarkan kebijakan-kebijakan luar biasa yang dampaknya membuat rakyat memutar otak untuk mengkajinya. Selain itu, pemerintah dengan beberapa kebijakannya yang luar biasa itu kadang menipu rakyat dengan dampak-dampak positif yang merupakan fakta belaka (sebagian besar). Kita tidak memunafikkan beberapa kebijakan yang memang pro rakyat seperti menurunkan harga BBM atau menaikkan UMR bagi kaum buruh dan kita juga tidak bisa memunafikkan kebijakan negatif yang katanya berdampak baik juga bagi rakyat nantinya seperti munculnya UU MD3 atau tentang investasi asing di Indonesia.
Tuesday, December 19, 2017 0 comments

Menelaah Kembali Arti Demokrasi Terpimpin

Demokrasi merupakan bentuk pemerintahan dimana semua warga negara memiliki hak yang setara dalam pengambilan keputusan bernegara dan kehidupan sehari-hari, namun demokrasi di Indonesia ini mengalamin degradasi makna yang sangat jauh dari arti sebenarnya. Kata demokrasi berasal dari dua suku kata dari Bahasa Yunani yaitu demos dan kratos. Demos yang berarti rakyat dan kratos berarti pemerintahan. Jika, disambungkan kedua suku kata itu menjadi democracy, yang berarti pemerintahan rakyat, rakyat berdaulat didalam pengambilan keputusan untuk dirinya dalam kehidupan social bermasyarakat.
Demokrasi itu pada hakikatnya adalah ‘pemerintahan rakyat’, namun dalam praktiknya di Indonesia saat ini, bukanlah demokrasi bagi rakyat, melainkan rakyat diperuntukkan bagi demokrasi. Jelas terlihat bahwa rakyat tidak diberi hak dalam proses pencalonan yang akan menduduki kursi legislatif(DPR) maupun eksekutif(Presiden), semuanya hak absolut dari permainan partai politik(parpol) yang artinya rakyat tak mempunyai pilihan lain selain memilih calon-calon yang ditentukan oleh para elit politik(Parpol).
Marilah kita ingat akan bagaimana kadang-kadang palsunya semboyan demokrasi, yang tidak menolong rakyat-jelata malah sebaliknya mengorbankan rakyat-jelata, membinasakan (menindas) rakyat-jelata sebagaimana telah terjadi pada fenomena di Indonesia selama ini penggusuran dimana-mana atas nama pembangunan, perampasan hak-hak rakyat atas penentuan nasibnya sendiri, dsb. Marilah kita awas, jangan sampai rakyat-jelata Indonesia tertipu oleh semboyan ‘demokrasi’ yang digembor-gemborkan oleh partai-partai borjuis, yang akhirnya ternyata hanya diperkuda belaka oleh segolongan orang yang memiki modal besar(lihat saja ketua-ketua parpol sekarang siapa yang tak memiliki kekayaan berlimpah?) yang hanya mencari kekuasaan sendiri, keenakan sendiri, keuntungan sendiri!.
Wednesday, March 29, 2017 0 comments

“Pemahaman Agama Sebagai Filsafat Dalam Perspektif Materialime”


Agama merupakan sesuatu yang sangat sakral untuk di perdebatkan dan di kritik, namun tampilnya Descartes dan Kant membuka jalan atas kritik agama yang juga menjadi jalan pengubah keadaan sosial politik di Eropa pada masa itu. Sebelum tampilnya mereka berdua sebagai seorang filsuf, Eropa di liputi kegelapan agama yang sangat pekat sehingga setiap aspek kehidupan merupakan bagian dari agama. Eropa diliputi dengan ajaran bahwa semua berasal dari Tuhan dan akan kembali kepada Tuhan. Pemikiran ilmiah seperti pemikiran Galilean dan Copernican di berangus habis demi melanggengkan kekuasaan agama di Eropa.
Bagaimana dengan dunia timur? Di dunia lama, agama dijadikan alat kekuasaan bagi para kaum Feodal untuk melegalkan monarki absolut. Sering kita dengar bahwa para raja di dunia timur merupakan titisan Dewa ataupun Tuhan, maka bagi siapa yang menentang kerajaan, dia akan mendapat hukum Tuhan yang absolute. Yang demikian merupakan pemerintahan bentuk Monarki Teokrasi. Beda lagi, ketika Feodal di berangus sejak adanya Revolusi Perancis, agama di jadikan alat untuk melanggengkan kekuasaan atas ekonomi masyarakat. Maka tidak heran kita menyatakan bahwa agama adalah alat penindasan kaum bawah.
Saturday, March 4, 2017 0 comments

​Umat islam dalam ninabobo westernisasi

قال الإمام الشافعى رحمه الله تعالى"مامن حادثة وقعت او ستقع إلى يوم القيامة الا و لها فى كتاب الله عز وجلّ وسنة رسوله صلى الله عليه وسلم، منزع و مأخذ، علمه من علمه وجهله من جهله.
Iman syafi'i rohimahullahu berkata "tidaklah setiap peristiwa yang telah terjadi atau akan terjadi sampai hari kiamat terkecuali bagi peristiwa tersebut didalam kitab Allah Swt dan sunnah Rosul Saw tempat rujukan dan tempat pengambilan,  mengetahui hal itu orang-orang yang tahu,  tidaklah mengetahui orang-orang yang tidak tahu.
Berangkat dari sini,  bukanlah hal yang aneh bagi setiap muslim yang berpegang teguh pada ajaran Alquran dan Alhadist menghadapi berbagai macam problematika yang disuguhkan dimuka bumi ini   semuanya telah tersirat tinggal kita intropeksi dan menggambil hikmah didalamnya.
Permadani sejarah telah memaparkan berbagai macam pristiwa, yang tentu saja mempengaruhi keberlangsungan hidup umat manusia abad ini,  berpijak pada warisan umat manusia yang terakhir membangun masa emas peradabannya dimasa lampau,  dua masa renaissanse Timur dan barat menjadi pengantar pemikiran dalam tulisan ini. Di abad pertengahan terjadi masa renaissanse pertama,  dimana saat itu umat islam mencapai puncak kejayaannya, ilmu pengetahuan dan kebudayaan berkembang pesat.
Saturday, January 14, 2017 0 comments

​Ekonomi Soekarnois (Ekonomi Terpimpin)


Dalam pemahaman ekonomi berbasis Sukarnois, perputaran ekonomi dikendalikan negara, pemegangnya adalah unit unit Serikat Kerja. Jutaan hektar tanah tidak boleh dimiliki swasta, tapi dimiliki negara, namun Serikat Kerja yang mengelola dengan sistem ekonomi Gotong Royong. Rumah Sakit dan Sekolah Sekolah berbasis "Kerja Sosial" tak ada fungsi fungsi Kapital di dalamnya. Pelayanan publik harus memiliki kualitas tinggi, rakyat sebagai pemegang saham utama kepemilikan negara dilayani selayaknya manusia terhormat.
Anak anak bersekolah dijamin oleh negara. Negara melarang Kapitalisme di dunia pendidikan, dan juga melarang adanya eksploitasi yang menghambat akses akses pendidikan dan pencerdasan rakyat. Dalam ekonomi berbasis Sukarno misalnya, dengan konteks jaman sekarang, Jaringan internet dan gelombang internet semustinya gratis disediakan negara karena itu masuk sebagai barang modal bukan barang konsumsi, tingkat pengembalian biaya jaringan informasi adalah produktivitas ekonomi masyarakat yang bergerak karena adanya jaringan internet gratis.
Sunday, August 21, 2016 0 comments

Mahasiswa kok kalah sama OSIS :p



Video yang direkam tahun 2008 ini, baru diunggah kepublik pada 19 Agustus lalu oleh akun youtube yus uda sedikit dari kita yang tahu, video ini sempat membuat saya bahagia sekaligus haru. Bangga karena ada generasi muda yang berani menjebol system yang dzolim(merusak), haru harena tidak terjadi dikampusku. Walau pun status meraka siswa SMA(pada tahun 2008) mereka berani membongkar praktek korupsi di lingkungan sekolah mereka, dengan diawali dengan keingin tahuan transparasi dana kegiatan organisasi.
Namun, kita? Setingkat Mahasiswa dengan sederet julukan yang membusungkan dada(Agent of change, iron stock, moral force dan entah apalagi sebutannya yang disebutkan dari Bahasa asing), yang dianggap manusia-manusia yang terdidik/berintelektual tak mampu mempertanyakan “Berapa dana yang diterima yayasan? Berapa dana yang dialokasikan kepada kegiatan mahasiswa?”  intinya mempertanyakan transparasi dana yang telah setiap semester kita bayarkan. Masa BEM kalah dengan siswa SMA yang mempertanyakan anggaran mereka dipotong semaunya. Tidak usah banyak ketikan langsung saja liat videonya dibawah ini:
Monday, August 15, 2016 0 comments

[Impian] Badan Eksekutif Mahasiswa yang Hendak Kita Wujudkan (Bagian 2)


HIDUP MAHASISWA..!!!
“sudah habis waktu tuk mengabdi kepada Almamater ini, keadaan tak mendukung untuk berbuat lebih. Semoga tulisan(pemikiran/gagasan) ini dapat menjadi peta(gambaran) serta bekal untuk membantu adik-adik berjuang dimasa yang akan datang…MERDEKA!!!”
Pada tulisan sebelumnya saya menuangkan gagasan tentang program jangka panjang (Disini) yang dapat digunakan untuk membangun pergerakan, pengkoordinasian dan cipta kondisi alur kerja(Birokrasi) organisasi Lembaga eksekutif tingkat Universitas (BEM Kema Tel-U) dalam jangka empat tahun. Jika dianalogikan kita ingin membangun sebuah rumah, maka kita harus memulai membangun pondasi rumah terlebih dahulu. Maka selama empat tahun ini kita membangun pondasi yang kuat, agar dikemudian hari rumah yang kita bangun ini kokoh dalam menghadapi badai dan guncangan.
 Setelah pondasi yang kita bangun ini sudah kuat, maka tahap berikutnya kita serahkan kepada generasi- penerus untuk meneruskan membangun rumah(Tel-U) agar dapat menjadi sebuah rumah perjuangan yang nyaman serta kondusif untuk memajukan Almamater, Kesejahteraan rakyat dan Bangsa Indonesia.
 
;