Kau tak akan pernah membayangkan betapa gerimis bulan maret bakal seruncing ini, va. Kau tak akan pernah tahu suara beduk magrib pada hari
kemarin teramat mengiris dan adzan yang
berkumandang menjelang magrib itu
mengingatkanku pada kebodohanmu memaknai bendera-bendera kemenangan yang
terpancang di langit yang memerah.
Tentu saat itu gerimis tak sedang mendera medan perang
yang riuh oleh denting pedang atau tombak yang sedang beradu. Tentu kilat juga
tak sedang menyambar-nyambar di keriuhan ringkik kuda dan debu-debu yang
beterbangan seperti abu. Namun, siapa pun tahu, serupa gerimis, anak panah-anak
panah dari busur-busur buta itu kian mendesing, mengabaikan jerit, mengabaikan
mayat-mayat yang telah mengonggok di bukit berbatu.
Dan kau, Va, mengapa masih mengasah pedang juga? Mengapa
pada saat tak ada burung-burung ababil melintas di atas kuburan kau tetap
mengenang pertempuran sengit di bukit itu? Bukankah telah kau hentikan
segala dahaga dan sakit yang mengharu-biru?






