Showing posts with label Resensi Novel. Show all posts
Showing posts with label Resensi Novel. Show all posts
Wednesday, December 2, 2020 0 comments

Pandemi Covid-19 dan Mendesaknya Internasionalisme Proletariat

Hingga tulisan ini disusun, tercatat sudah 2,5 juta lebih kasus infeksi dan 170 ribu korban meninggal di seluruh dunia karena pandemi Coronavirus desease 2019 (Covid-19). Dampak dari pandemi ini juga meluas ke berbagai sektor: ekonomi, politik, dsb.

Yuval Noah Harari menyatakan ini adalah krisis global terbesar dalam generasi kita yang datang secara mendadak. Tahun kemarin, mayoritas penduduk dunia belum mengenalnya. Kini, Covid-19 memperparah krisis sistemik  dalam kapitalisme yang sudah terjadi di tahun-tahun sebelumnya. Datangnya Covid-19 meluluhlantakkan perhitungan-perhitungan ekonom dalam menghadapi krisis sebelum datangnya Covid-19.

Bisa kita lihat melalui berbagai media, sendi-sendi penopang kehidupan manusia mulai mengalami kekacauan. Industri-industri kalang-kabut, kerugian dalam jumlah besar meluas, dan potensi sebagian besar bangkrut. Sementara itu, saat tulisan ini direview, jutaan buruh telah di-PHK [1] dan jutaan lainnya mengantri. Kita, mayoritas dari bagian penduduk dunia, berada dalam kondisi paling terancam (tertular virus, terkena PHK, tidak bisa memenuhi kebutuhan, dst.).

Thursday, November 26, 2020 0 comments

Virus dan Kapitalisme

 

TAHUN 2020 ini akan tercatat sebagai sebuah babak penting dalam sejarah. Bukan karena pamitnya Ronald McDonald dan kawan-kawan dari Sarinah atau karena tiga musisi legenda Indonesia baru saja meninggalkan kita untuk selamanya, tapi karena diberhentikannya sejumlah besar pekerja dari satu-satunya sumber penyambung hidupnya. Tahun ini juga penting karena tersadarnya banyak pemilik modal bahwa dirinya juga merupakan manusia hidup yang sesungguhnya tak selalu butuh keuntungan, namun selalu perlu makan. Tamparan ini datang dari kekuatan berukuran mikroskopik yang ternyata lebih berbahaya ketimbang jentikan jari Thanos. Dunia sains mengenalnya dengan sebutan virus, suatu mikro-organisme yang beberapa kali dalam sejarah hampir saja meluluhlantahkan peradaban manusia.

Kisah serupa pernah dialami umat manusia sekitar tujuh abad silam ketika dunia diporak-porandakan oleh wabah Bubonik yang oleh banyak orang disebut Black Death. Merenggut kurang lebih 200 juta jiwa, wabah ini bahkan menjadi salah satu kekuatan yang ikut berkontribusi menyudahi sistem feodalisme di Eropa pada abad pertengahan. Selain pada zaman pertengahan, wabah juga menyerang dunia modern.

Wednesday, September 9, 2020 0 comments

Black Panther Sebagai Simbol Perlawanan Terhadap Rasisme

               SLOGAN “Wakanda forever!” mungkin tak asing lagi buat kita yang pernah menonton Black Panther atau Avengers: Infinity War, film superhero adaptasi komik Marvel garapan almarhum Stan Lee. Kalimat itu merupakan semboyan para pejuang Kerajaan Wakanda yang biasanya dipekikkan sebelum pertarungan. Salah satunya oleh Raja T’challa yang juga dikenal sebagai sang Black Panther, jagoan berkulit hitam yang memiliki kekuatan super kombinasi unsur mistis dan kemajuan teknologi. Ditulis pada 1966, Stan Lee dan Jack Kirby terpengaruh oleh nuansa gerakan persamaan hak-hak sipil (civil rights) di Amerika Serikat saat itu. Dekade itu diramaikan antara lain oleh gerakan perjuangan hak sipil seperti yang diinisiasi Martin Luther King Jr., Malcolm X, hingga Black Panther Party.

Namun apa betul dua komikus itu menceritakan salah satu organisasi politik revolusioner kulit hitam di Oakland tersebut? Tentu saja tidak. Meski memiliki kesamaan nama dan saling berkelindan, Black Panther-nya Stan Lee dan Jack Kirby berbeda dengan Black Panther yang diinisiasi oleh Bobby Seale dan Huey Newton. Black Panther Party for Self-Defense atau Black Panther Party (BPP) dibentuk oleh dua orang mahasiswa kritis Bobby Seale dan Huey Newton pada Oktober 1966 di Oakland, California. Organisasi ini awalnya merupakan sebuah perkumpulan yang didirikan untuk mengkoordinir patroli bersenjata para warga setempat untuk memantau perilaku petugas kepolisian Oakland yang pada masa itu terkenal sewenang-wenang.

Friday, March 6, 2020 0 comments

Tetralogi Pulau Buru: Menjadi Manusia Melalui Karya Besar Pramoedya


A. Roman Sebagai Dokumen Sosial
Penyebutan roman sebagai dokumen sosial menimbulkan masalah yang menyangkut hubungan antara penulisan sejarah dan sastra secara umum. Keterpautan penulisan sejarah dan roman sebagai karya sastra adalah sama-sama merekam realitas. Disadari atau tidak diantara keduanya juga terdapat perbedaan yang jelas. Roman sebagai dokumen sosial mempunyai konsekuensi yang penting dalam pemakaian karya sastra dan karya sejarah. Adakalanya roman disebut sebagai dokumen sosial dan walaupun dari segi tertentu ada benarnya, hal itu tidak berarti bahwa roman manapun dapat dipergunakan langsung sebagai dokumen. Justru dalam tiap karya sastra ada keterpaduaan antara kenyataan dan khayalan. Orang harus sangat hati-hati dalam upaya mengambil data faktual yang terdapat dalam roman.
Roman memang dapat disebut sebagai dokumen sosial dan sering kali jauh lebih baik daripada tulisan-tulisan sosial mana pun, roman dapat menghayati eksistensi manusia dengan segala permasalahannya. Salah satu jenis roman yang dapat dikategorikan sebagai dokumen sosial adalah roman sejarah. Roman sejarah merupakan karangan prosa yang melukiskan
Monday, December 4, 2017 0 comments

Analisa Materialisme Dialektika Dan Historis Versi Tan Malaka


Alan Woods dan Ted Grants, seorang revolusioner yg berasal dari International Marxism Tendency (yg merupakan kelanjutan dari Internationale IV) telah mengarang buku yg menjelaskan bagaimana MDH berlaku dalam alam semesta dan kehidupannya - Reason on Revolt. Kedua orang tersebut telah berhasil merangkum seluruh ilmu pengetahuan dan menganalisanya teori-teori tersebut dengan analisa MDH. Alhasil, banyak kesimpulan-kesimpulan yg briliant yg bisa kita ambil dari buku tersebut, yaitu kebenaran Darwinisme, Dialektika tanpa akhir yg berlaku terhadap alam semesta, Dialektika dalam geologi, dan hancurnya nilai mistisme dalam kehidupan. Tak segan-segan, kedua orang tersebut bahkan menuduh Stephen Hawking sebagai seorang idealis tanggungan. Tetapi sebelum mereka berdua membuat buku tersebut, Tan Malaka pada awal kemerdekaan Indonesia telah membuktikan kebenaran MDH melalui analisanya yg berjudul MADILOG.
MADILOG, banyak orang yg menyatakan bahwa risalah tersebut merupakan pemikiran Tan Malaka yg orisinil. Bahkan, tidak sedikit yg menyatakan bahwa risalah tersebut adalah MDH ala Indonesia atau lebih kejamnya lagi menyebut risalah tersebut sebagai kumpulan pemikiran yg revisionis. Agaknya terlalu berlebihan jika kita menyebut Tan Malaka sebagai seorang revisionis. Pasalnya, Tan Malaka adalah seorang yg amat mengagumi analisa Lenin dan Revolusi Oktober, terlebih lagi, ia amat membenci Stalin namun tidak mau disebut Trotskyis. Alhasil, ia dibenci partai komunis serta blok imperialis.
Friday, June 10, 2016 0 comments

​Catatan Harian : Ahmad Wahib


Buku catatan hariannya ditemukan setelah ia wafat. Ia terus menulis dalam buku catatan itu, meskipun tidak konstan, sejak pertama kali ia tiba di Yogya pada 1961. Catatan-catatanya itu bertambah detail dan serius pada sekitar 1966 dan, sejak akhir 1968, sedikit demi sedikit mengambil bentuk esai-esai pendek mengenai berbagai aspek kehidupan budaya, keagamaan dan politik di Indonesia. Buku catatan ini kemudian disunting kawan dekat dan koleganya di HMI, Djohan Effendi, yang bersamanya menyatakan keluar dari organisasi tersebut, pada hari yang sama dan dengan alasan-alasan yang juga sama. Catatan-catatan yang dipilih untuk diterbitkan itu kemudian dibagi-bagi ke dalam empat tema besar: “ Ikhtiar Menjawab Masalah Keagamaan”, “Meneropong Politik dan Budaya Tanah Air”, “Dari Dunia Kemahasiswaan dan Keilmuan” dan “Pribadi yang selalu gelisah”.
-------
Terutama paling penting adalah catatan-catatan Wahib tentang agama. Salah satu kunci gagasan-gagasan keagamaannya adalah seperti yang ditulisnya pada 15 Juli 1969:
"Saya malah berpendapat bahwa andaikata Nabi Muhammad datang lagi di dunia sekarang, menyaksikan bagian-bagian yang modern dan yang belum, serta melihat pikiran-pikiran manusia yang ada, saya berkepastian bahwa banyak di antara hadits-hadits Nabi yang sekarang ini umumnya dipahami secara telanjang oleh pengikut-pengikutnya, akan dicabut oleh Nabi peredaran dan diganti dengan hadits-hadits lain."
--------
Wahib sepenuhnya sadar bahwa ia harus menghadapi sendiri masalah-masalah yang menurutnya tak bisa diatasi para ulama tersebut. Masalah itu adalah: bagaimana menerjemahkan wahyu, dari yang seberang masa dan mengatasi segala waktu, ke dalam bentuk yang cocok dengan waktu dan tempat tertentu, tanpa bersikap tidak jujur dan tidak adil terhadap asal-usulnya yang suci dan tak terciptakan. Maka, pada 28 Maret 1969, Wahib menulis demikian:
"Aku belum tahu apakah Islam itu sebenarnya. Aku baru tahu Islam menurut HAMKA, Islam menurut Natsir, Islam menurut Abduh, Islam menurut ulamaulama kuno, Islam menurut Djohan, Islam menurut Subki, Islam menurut yang lain-lain."
"Dan terus terang aku tidak puas. Yang kucari belum ketemu, belum terdapat, yaitu Islam menurut Allah, pembuatnya. Bagaimana? Langsung studi dari Qur‟an dan Sunnah? Akan kucoba. Tapi orang-orang lain pun akan beranggapan bahwa yang kudapat itu adalah Islam menurut aku sendiri. Tapi biar, yang penting adalah keyakinan dalam akal sehatku bahwa yang kupahami itu adalah Islam menurut Allah. Aku harus yakin itu!"
--------
Pada 17 Januari 1969, ia menulis:
"Kita orang Islam belum mampu menerjemahkan kebenaran ajaran Islam dalam suatu program pencapaian. Antara ultimate values (nilai-nilai pokok –Red.) dalam ajaran Islam dengan kondisi sekarang memerlukan penerjemahan-penerjemahan. Dan ini tidak disadari.... Karena seperti itulah kita menjadi orang yang selalu ketinggalan dalam usaha pencapaian dan cenderung ekslusif"
-------
Pada 16 Agustus 1969:
"Bagi kita, Teis dan ateis bisa berkumpul Muslim dan Kristiani bisa bercanda, Artis dan elit bisa bergurau. Kafirin dan muttaqin bisa bermesraan. Tapi, Pluralisme dan anti pluralisme tak bisa bertemu"
------
Pada 1970, ia lagi-lagi berefleksi mengenai sikap defensif konyol beberapa pemikir Muslim. Simaklah catatannya tertanggal 10 April:
"Sikap apologetik, yang selalu ingin mengadakan pembenaran pembenaran (pembelaan-pembelaan) timbul karena:
1.       Kekurang kematangan umat Islam setelah baru saja lepas dari tindakan umat-umat di luarnya; 
2.       Proses timbal-balik yang terjadi masih menempatkan umat Islam sebagai kekuatan kecil yang terkempung dari segala arah. Serangan-serangan terhadap umat Islam mengakibatkan mereka apologis. Sikap apologis mengakibatkan mereka eksklusif dan karenanya lebih terkepung dan sebagainya."
----
Menurut Wahib, obat buat penyakit ini adalah kebebasan total dalam berpikir. Kebebasan yang juga tidak dibatasi oleh formulasi-formulasi ajaran keagamaan. Ini sudah disarankannya dalam catatannya tertanggal 17 Juli 1969:
"Saya kira, orang-orang yang tidak mau berpikir bebas itu telah menyianyiakan hadiah Allah yang begitu berharga, yaitu otak"
"Saya berdoa agar Tuhan member petunjuk pada orang-orang yang tidak menggunakan otaknya sepenuhnya. Dan, saya pun sadar bahwa para pemikir bebas itu adalah orangorang yang senantiasa gelisah. Kegelisahan itu memang dicarinya. Dia gelisah untuk memikirkan macam-macam hal terutama hal-hal yang dasariah dengan semata-mata berpijak pada objektivitas akal."
Pada saat yang sama, ia mengakui bahwa ada kontradiksi yang tak terelakan antara sikapnya menerima agama sebagai kebenaran yang diwahyukan dan percobaan berpikir sebebasbebasnya.
----
Ini diakuinya pada catatannya tertanggal 9 Maret 1969:
"Dalam kenyataannya, dalam praktik berpikir sekarang ini, kita tidak berpikir bebas lagi. Bila menilai sesuatu, kita sudah bertolak dari suatu asumsi bahwa ajaran Islam baik dan paham-paham lain di bawahnya lebih rendah."
Wahib mencoba masuk ke dalam jantung persoalan ini, sambil membuat pengakuan terangterangan:
"Kadang-kadang hatiku berpendapat bahwa, dalam beberapa hal, ajaran Islam itu jelek. Jadi ajaran Allah itu, dalam beberapa bagian, jelek dan beberapa ajaran manusia, yaitu menusia-manusia besar, jauh lebih baik. Ini akal bebasku yang berkata."
"Akal bebas yang meronta-ronta untuk berani berpikir tanpa disertai ketakutan akan dimarahi Tuhan. Dan hanya kepercayaanku akan adanya Tuhan serta bahwa Qur‟an itu betul-betul dari Tuhan serta Muhammad itu betul-betul manusia sempurna, maka aku pada resultante terakhir tetap berpendapat bahwa Islam itu secara total baik dan sempurna. Akalku sendirilah yang tidak mampu meraba kesempurnaan tadi."
Kekeliruan-kekeliruan dan cacat-cacat yang ditemukan akal dalam Islam harus diakui dengan kejujuran yang sama. Inilah yang diakui dalam catatannya pada 8 Juni 1969:
"Inilah saat yang paling baik bagi saya untuk meningkatkan democratic attitude (sikap demokratis – Red), walaupun saya tidak berpendapat bahwa Islam itu tak sepenuhnya demokratis. Terus terang saya mengakui bahwa, dalam hal ini, sampai sekarang saya belum seorang Muslim yang utuh. 
"Saya tidak akan berpura-pura mengingkari bahwa saya menolak bunyi suatu hukum islam: “Bahwa seorang Islam yang tidak shalat itu harus dihukum.”
"Saya pikir, salah satu sikap seorang demokrat ialah tidak melakukan terror terhadap orang yang mau bersikap lain."
"Ada baiknya kita ingat bahwa mengucapkan assalamu’alaikum tidak terus berarti Islam; mengaji yang keras hingga didengar orang banyak tidak terus berarti Islam; menulis dengan arab tidak terus berarti Islam; sok ikhlas, sok khusyuk tidak terus berarti Islam; mengobral ayat-ayat Qur‟an tidak terus berarti Islam; pidato pakai shalawat tidak terus berarti Islam. "
"Demikian pula menyerang gadis pakai kerudung tidak terus berarti modern; meremehkan pentingnya shalat tidak terus berarti modern; membela ateime tidak terus berarti modern; mengkritik umat Islam tidak terus berarti modern; membela orang-orang berdansa tidak terus berarti modern."
Satu-satunya ruang yang tersisa untuk dipercayai adalah pribadi. Akhirnya, di atas pundak pribadilah tanggung jawab menemukan kebenaran harus diletakkan. Inilah arah kemana pikiran-pikiran Wahib bergerak, ketika pada 8 September 1969 ia menulis:
"Tuhan, aku ingin tanya, apakah nilai-nilai dalam agama-Mu itu tetap atau berubah-ubah. Tuhan, mana sajakah dari ajaran-Mu yang betul-betuk merupakan fundamen yang tak bisa berubah-ubah lagi, yang harus menjadi pedoman dalam perkembangan nilai-nilai dalam masyarakat?
"Saya kira, pemasangan ijma‟ dalam deretan sumber pembinaan hukum berupa Qur‟an, Sunnah dan ijma sudah bukan waktunya lagi. Dalam dunia yang cepat berubah dan individualisme makin menonjol, cukuplah dengan Qur‟an dan Sunnah. Dan biarkanlah tiap orang memahamkan Qur‟an dan sunnah itu menurut dirinya sendiri. Nah, kalau nilai-nilai yang berlaku dalam masyarakat itu berkembang, seharusnyalah hukum-hukum Islam itu berkembang. "
"Halal dan haram saat ini seharusnya tidak sama dengan halal dan haran pada tiga atau empat abad yang lalu atau bahkan pada masa nabi hidupkarena itu, seharusnya ada banyak hadits nabi atau bahkan ayat al-Qur‟an yang tidak dipakai lagi, karena memang tidak diperlukan dan madharat (kerusakan -red) yang dikuatirkan di situ sudah tidak ada lagi, berhubung nilai-nilai baru yang kini berlaku dalam masyarakat."
"Saya sadari bahwa perubahan nilai-nilai moral tentunyamembawa perubahan dalam keboleh jadian madharat atau manfaat yang ditimbulkannya."
"Karena hukum Islam itu, saya kira, berpedoman pada madharat dan manfaat, maka seharusnyalah hukum-hukum moral dalam Islam itu juga berubah sesuai dengan perubahan nilai-nilai moral masyarakat di atas. "
"Lantas, apakah hal yang begini justru akan menimbulkan kebingungan-kebingungan bahkan pergeseran-pergeseran dalam kalangan umat Islam, karena kelihatan tidak ada kepastian hukum?"
"Kebingungan-kebingungan dan pergeseran-pergeseran itu biasa, jadi tak perlu dihindari karena menyusun nilai-nilai yang lebih baik."
"Hanya siapa yang aktif mencipta, menggunakan kesempatan sebaikbaiknya dalam dinamika masyarakat itulah, yang akan menjadi obor masyarakat."
Thursday, March 3, 2016 0 comments

​Wujud Dalam Diri Manusia

Manusia mempunyai beberapa wujud dalam dirinya:
  1. Raga, adalah wujud material yg menjadi wadah bagi makhluk-makhluk immaterial dalam dirinya. Raga itu adalah batas bagi kebebasan seorang manusia yg memang harus dilampaui, karena raga itu adalah ujian yg harus diselesaikan. Manusia sesungguhnya akan hidup sejati setelah ia mampu melawan raganya. Di alam semesta, raga bukanlah hal material yg seharusnya membatasi roh untuk menjalani tugasnya, namun raga hanyalah sebuah wadah yg tidak boleh mengganggu jalannya aktivitas roh. Namun seringkali raga membatasi roh untuk menjalani tugasnya di alam semesta.
  2. Roh, adalah sosok immaterial yg menempati raga. Roh manusia membutuhkan raga untuk menjalani persaksiannya di dunia. Roh menjadi bentuk sejati dari manusia yg abadi, sehingga jika ada yg berkata manusia itu fana, maka ia belum memahami dirinya siapa. Roh menjadi wujud immaterial - Tuhan yg mencerminkan diri - dalam raga yg menjalani tugas sebagai "Khilafatul fil Ardh" di Bumi. Maka sebagai manusia, kita bukanlah agen yg merusak tatanan alam semesta, namun sebaliknya. Dalam alam semesta, roh adalah sebuah entitas yg bersyahadat sepanjang waktu fananya.
  3. Khodam, adalah cerminan dari diri kita yg immaterial. Ada dua tugas yg dijalankan oleh khodam: sebagai cerminan atas diri yg akan selalu menuruti kehendak roh manusia dan sebagai penjaga alamiah, yg melindungi raga dari sesuatu yg tidak disukai oleh kita. Namun, sewaktu-waktu roh dan raga tidak sejalan, maka khodam akan mengikuti kehendak roh kita, karena sejatinya khodam tahu siapa yg harus diikutinya.
  4. Qarin', adalah sosok immaterial yg menyerupai kita. Terkadang Qarin' adalah sosok jin penjaga kita yg biasanya menghisap energi kita. Qarin' juga terkadang mewujud menjadi suara hati kecil kita, maka dar itu, Qarin' adalah penasehat kita. Terkadang Qarin' menguasai kita sehingga dalam diri kita bisa muncul dominan emosional dan nafsu. Namun, jika kita mampu menguasai Qarin', kita akan merasa bijak dalam memahami dan melakukan sesuatu. Qarin' bersifat sama dengan roh kita sehingga Qarin' dan Qalbu kita selalu menjadi penimbang atas saran-saran dari malaikat dan jin yg bersifat syaithan.
  5. Malaikat, ada enam malaikat yg berada dalam diri kita. Dua malaikat yaitu Raqib dan Atid bertugas sebagai pencatat semua hal yg raga dan roh kita lakukan di dunia. Raqib dan Atid dengan sukarela menulis diary kehidupan kita sampai sedetil-detilnya. Diary tersebut menjadi catatan pertanggungjawaban kita atas persaksian kita di alam semesta. Catatan tersebut juga menjadi catatan pembanding atas perjanjian kita atas Zat Tuhan sebelum kita dilahirkan ke dunia. Empat malaikat lainnya ialah malaikat penjaga yg berdiri di tiap sisi raga kita. terkadang empat malaikat penjaga tersebut memberikan saran-saran positif sehingga aktivitas-aktivitas roh kita di dunia menjadi positif.
  6. Jin yg bersifat Syaitan, ialah entitas immaterial yg sering memberikan saran-saran negatif dalam diri kita.
  7. Qalbu, pada dasarnya Qalbu ialah suara diri kita sendiri yg bersifat immaterial. Jika mulut adalah indra material, maka Qalbu adalah indra immaterialnya. Qalbu juga merupakan zat Tuhan yg hidup dalam diri manusia yg sering menjadi penimbang saran bersama Qarin'.

Ini sumbernya dari diriku sendiri. Kalau ada saran dan kritik silahkan disampaikan :)
Friday, January 15, 2016 3 comments

Resensi Novel Tere Liye - Hujan

Judul                   : Hujan
Penulis                : Tere Liye
Penerbit              : Gramedia
Cetakan              : 1, Januari, 2016
Tebal                  : 320 Halaman


Novel HUJAN ini memang istimewa. Tema yang diusung gak sesederhana tema novel romantis kebanyakan. Porsinya tak hanya untuk seputar cinta remaja melainkan ada bumbu-bumbu ilmiahnya. Kamu pernah nonton film divergent atau hunget games? Nah kurang lebih seperti itu latar belakangnya. Masa depan dengan teknologi mutakhir dan kehancuran gitu. Pas pertama kali baca mungkin akan sedikit membosankan (mungkin karena saya gak terlalu suka bacaan ilmiah mungkin ya? hehe) tapi semakin dibaca kok semakin asik. Serius. Penggambaran tere liye tentang teknologi dan penjelasan ilmiah lainnya dibuat sederhana tapi bener-bener membuat pembacanya mengerti.
Tokoh yang diusung tidak terlalu banyak. Tokoh utamanya bernama Lail, perempuan yang menjadi yatim piatu karena bencana alam yang tejadi kala itu. Ada kepedihan yang terasa ketika perempuan berusia 13 tahun menyaksikan sendiri ibunya yang tidak selamat. Lail nanti akan menjadi perawat. Nanti juga akan ada tokoh Esok, Maryam, dan Claudia.
Wednesday, December 23, 2015 0 comments

Ringkasan Buku Sarinah “Kewajiban Wanita dlm Perjuangan Republik Indonesia”

hi…
Kali ini mau posting resensi buku yang sudah jarang sekali ditemuin di toko – toko buku, jangankan di toko buku mau dicari di loak pun sudah jarang sekali ditemukan ada yang jual. Kenapa buku ini perlu untuk ditulis lagi resensinya? karena buku yang ditulis oleh Bung Karno ini merupakan kaca benggala kita sebagai perempuan Indonesia dalam melihat bagaimana kondisi permpuan di masa lalu, bagaimana kita semua mengetahui sejarah patriarki dan matriarki, bagaimana seharusnya perempuan melihat perjuangan kaumnya sendiri dalam kehidupan sosial masyarakat, bagaimana perempuan Indonesia dapat melanjutkan perjuangan-perjuangan itu dengan pisau analisis yang tajam, bagaimana perempuan Indonesia dapat terbebas dari belenggu yang diciptakan oleh peradaban.
enjoy it…
Soal Perempuan (Realitas Kehidupan Perempuan Indonesia)
Pandangan Sukarno tentang perempuan Indonesia diawali dari paparan realitas kehidupan perempuan Indonesia yang masih banyak mengalami pengekangan, penindasan dan pembodohan. Paparan tersebut didasarkan pada pengalaman-pengalaman Sukarno yang dicontohkannya dalam beberapa fenomena mendasar, terutama tentang pengalamannya atas pengekangan-pengekangan yang terjadi terhadap perempuan Indonesia akibat persepsi yang salah terhadap peran isteri dalam kehidupan rumah tangga.
Saturday, September 19, 2015 1 comments

Resensi Novel PULANG - karya Tere Liye

Judul : Pulang
Penulis : Tere Liye
Editor : Triana Rahmawati
Penerbit : Republika
Tebal Buku : iv + 400 hal; 13.5x20.5 cm
Kota Terbit : Jakarta
Tahun Terbit : 2015
Harga : Rp. 59.000 
 "Aku tahu sekarang, lebih banyak luka di hati bapakku dibanding di tubuhnya. Juga mamakku, lebih banyak tangis di hati Mamak dibanding di matanya."
"Sebuah kisah tentang perjalanan pulang, melalui pertarungan demi pertarungan, untuk memeluk erat semua kebencian dan rasa sakit." 
Adalah Bujang, putra dari Samad dan Midah. Dia tinggal bersama kedua orang tuanya di Bukit Barisan, jauh dari perkotaan dan hidup dengan sederhana. Bujang tidak pernah makan bangku sekolah. Meski demikian, Midah, mamak Bujang dengan penuh ketekunan mengajarkan Bujang membaca dan menghitung. Tak lupa ia mengajari Bujang mengaji, adzan, sholat, dan sebagainya. Namun, tiap kali Bujang diajar tentang pelajaran agama, Bujang selalu dipukuli Samad, bapak Bujang.
Suatu hari, Tauke Muda, sahabat dari Samad, datang mengunjungi Bukit Barisan. Tauke Muda beserta rombongan datang dari kota untuk sebuah misi menangkap babi hutan yang mengganggu perkebunan warga. Dalam misi ini, Tauke Muda mengajak Bujang untuk bergabung bersamanya. Samad pun mengijinkan. 
Saat perburuan babi hutan sudah berada di puncaknya, saat itulah ketakutan Bujang akan apapun telah menghilang. Ia dengan membabi buta menyerang 'Raja Babi Hutan' demi menyelamatkan Tauke Muda yang sudah terdesak. 
Sunday, March 1, 2015 4 comments

Resensi Novel “Bulan” karya Tere Liye


Identitas Novel
Judul                     : BULAN (novel Bumi Seri #2)
Penulis                  : TERE-LIYE
Penerbit                : Garamedia Pustaka Utama
Tahun Terbit        :  2015
Tebal halaman      : vi+351
Namanya Seli, usianya 15 tahun, kelas sepuluh. Dia sama seperti remaja yang lain. Menyukai hal yang sama, mendengarkan lagu-lagu yang sama, pergi ke gerai fast food, menonton serial drama, film, dan hal-hal yang disukai remaja.
Tetapi ada sebuah rahasia kecil Seli yang tidak pernah diketahui siapa pun. Sesuatu yang dia simpan sendiri sejak kecil. Sesuatu yang menakjubkan dengan tangannya.

Namanya Seli. Dan tangannya bisa mengeluarkan petir.
Tuesday, January 20, 2015 0 comments

Resensi Novel Raditya Dika - KOALA KUMAL (Review)

Judul : Koala Kumal
Penulis : Raditya Dika
Penerbit : Gagasmedia
Tahun Terbit : 2015
Halaman : 250 hlm
Harga : Rp 59,500
Sinopsis : Selain main perang-perangan, gue, Dodo, dan Bahri juga suka berjemur di atas mobil tua warna merah yang sering diparkir di pinggir sungai samping kompleks. Formasinya selalu sama: Bahri dan gue tiduran di atap mobil, sedangkan Dodo, seperti biasa, agak terbuang, di atas bagasi. Kadang kami tiduran selama setengah jam. Kadang, kalau cuaca lagi sangat terik, bisa sampai dua jam. Kalau cuacanya lagi sejuk dan tidak terlalu terik, kami biasanya sama-sama menatap ke arah matahari, memandangi langit sambil tiduran.
     Kalau sudah begini, Bahri menaruh kedua tangannya di belakang kepala, sambil tiduran dia berkata, ‘Rasanya kayak di Miami, ya?’ ‘Iya,’ jawab gue. ‘Iya,’ jawab Dodo. Kami bertiga gak ada yang pernah ke Miami. Koala Kumal adalah buku komedi yang menceritakan pengalaman Raditya Dika dari mulai jurit malam SMP yang berakhir dengan kekacauan sampai bertemu perempuan yang mahir bermain tombak.
Saturday, November 1, 2014 1 comments

[Preview Film] TimeLine 2014 film Thailand

Judul                : Timeline
Info                 : http://www.imdb.com/title/tt3222720/
Release Date   : 13 Februari 2014 (Thailand)
Genre              : Romance
Stars                :  Jarinporn Joonkiat, Jirayu Tangsrisuk, Piyathida Woramusik (Full Cast)
Rating IMDB  : 7.6 

Malam minggu yang kelabu untuk dilalui oleh para jomblo, upss. Malam minggu ini jadwal untuk menonton film terbaru, film yang katanya bikin nangiis trus galau maksimal. film ini berjudul “Timeline”, dilihat dari judulnya sih kalian pasti bakal mikir film ini tentang time line yang ada di facebook. Hmmm nggak salah sih memang judul film ini berkaitan dengan time line facebook pemeran utamanya. Tapi jangan menilai sebuah film dari judulnya broo, kalo habis lihat film nya pasti galau maksimal trus nagih nonton lagi. Hehhehheh Oke langsung saja yaa Putra ceritain gimana cerita film timeline.
Film ini dimulai dari cerita tentang sepasang kekasih muda yang baru saja menikah yang cewek namanya Mat(kepanjangan dari maMAT, hehehheh) yang cowok suaminya Mat(ya iya lah, hehhehehe Putra nggak tahu namanya soalnya nggak dikasih tau namanya), sepasang kekasih yang bahagia nan romantic. Lalu, si cowok bilang bahwa umurnya nggak lama lagi untuk menemani si Mat menjalani kehidupan. Setelah itu si mat ngilang(nggak diceritaiin bahwa si cowok meninggal atau ilang diculik alien, entahlah).

Lalu diceritaiin Mat punya anak yang namanya Tan. Saat tan sudah lulus sma, si mat pengen anaknya si tan kuliah ngambil jurusan pertanian, tapi si tan sudah mendaftarkan dirinya di jurusan jurnalistik tanpa sepengetahuan ibunya, lalu ada adegan si mat ngambek nggak bicara sana anaknya selama 100 tahun (lebay parah, pdhl film nya aja Cuma 2 jam). Lalu si mat mengijinkan anaknya untuk sekolah di jurusan jurnalistik yang ada dikota Bangkok, saat si tan meninggalkan ibunya sendirian untuk kuliah ke Bangkok, disini adeganya sangat haru banget(siap-siap tisu banyak).
Thursday, October 2, 2014 0 comments

Resensi Novel Tere Liye: RINDU

Judul buku            : Rindu
Penulis                : Tere Liye
Penerbit                : Penerbit Republika
Jumlah halaman    : 544 halaman
Cetakan pertama  : Oktober 2014


          “apalah Arti memiliki, Ketika diri kami sendiri bukanlah milik kami?”
Apalah arti kehilangan, ketika kami sebenarnya menemukan banyak saat kehilangan, dan sebaliknya, kehilangan banyak pula saat menemukan? Apalah arti cinta, ketika kami menangis terluka atas perasaan yang seharusnya indah? Bagaimana mungkin, kami terduduk patah hati atas sesuatu yang seharusnya suci dan tidak menuntut apapun?
Friday, August 8, 2014 0 comments

Resensi Novel Amelia (Si Anak Kuat)

Akhirnya setelah lama tak membaca novel, karena sibuk baca buku-buku bertema sejarah. Setelah selesai membaca buku yang menurut ku langka karna sulit didapet, dengan penuh perjuangan ahkirnya barangnya datang juga, buku biografi presiden pertama RI, yang ditulis oleh Chindi Adams yang berjudul “Bung Karno Penyambung Lidah Rakyat Indonesia”. Oke cukup sampai disini basa basinya, 3 bulan yang lalu aku sempat tergila-gila dengan novel-novel karya bang Tere Liye, dan aku sempat membuat 3 resensi novelnya (Burian, Pukat, dan Eliana)3 buku dari serial anak-anak mamak.
Novel ini sebenrnya sudah lama aku beli, tapi karna ada buku-buku yang menarik untuk disesaikan dulu bacanya. Novel ini berjudul “Amelia” . bukunya cukup menghibur dan ringan bahkan hanya perlu waktu 5 jam untuk menyelesaikanya, heheheh bacanya fasttrack. Oke langsung aja ya kita kupas novelnya.

Judul                     : Amelia, Serial Anak-Anak Mamak Buku-1
Penulis                   : Tere Liye
Penerbit                : Republika
Cetakan                 : I, Oktober 2013
Tebal                    : vi, 392 Halaman
Novel Amelia, serial anak-anak mamak merupakan seri pertama namun terbit pada sesi terakhir, mengapa? Jawabanya saya tidak tahu, yang tahu hanya tuhan dan bang Tere Liye saja, hahahaha. Bang Tere liya mengisahkan tidak selamanya anak bungsu itu berperilaku cengeng, manja dan tidak bisa diatur. Buktinya pada sosok Amelia, yang terlahir dengan perilaku yang kuat, tidak pernah menyerah, sekalipun situasinya menyadaekanya bahwa anak bungsu pada akhirnya akan tetap menjadi “penunggu rumah” dan sejauh apapun ia pergi, takdir akan membawanya kembali.
Monday, April 7, 2014 0 comments

Resensi Novel Eliana (Si Anak Pemberani)

Setelah membaca novel pukat seminggu yang lalu, langsung estafet baca novel selanjutnya dari serial anak-anak mamak karangan bang tere liye. Oke langsung aja kita bedah bukunya.

Judul Buku                   : Eliana
Penulis                         : Tere Liye
Penerbit                      : Republika Penerbit
Tahun Terbit               : Agustus 2011
Jumlah Halaman         : iv+ 519 Halaman
Novel ini berkisah seorang anak bernama Eliana, anak sulung mamak. Di novel ini menggambarkan sosok eliana yang mempunyai rasa ingin tahu yang tinggi, proses belajar yang baik, menyatu dengan kepolosan, kenakalan, hingga isengnya dunia anak-anak, petualangan hebat, pengorbanan, dan pemahaman tentang kehidupan tumbuh dari wajah-wajah ceria  terus melekat sehingga mereka dewasa.
Tuesday, April 1, 2014 0 comments

Resensi Novel Pukat (Tere Liye) Serial Anak-anak Mamak

Sebenernya sih baca novel ini sudah dari 3 minggu yang lalu setelah selesai membaca novel Burlian, sehabis membaca aku langsung jatuh hati dengan keluarga yang diceritakan didalam novel. Langsung nyomot buku selanjutnya dirak buku, yups aku ngambil buku berjudul ‘Pukat’, keasikan baca baru samapi bab 4 aku keinget kalo besok lusa sudah ujian tengah semester, dan ujian pertama adalah statistik(alamak baru ujian pertama sudah yang susah aja ’nangis sambil nelen linggis’).
Karena Ujian tengah semester berlangsung sekitar 10 harian maka tertunda lah baca ini novel. Dah ini lah resensinya hehhe Cuma mau berbagi kepada kalian untuk ikut membaca novel fantastis ini.


Identitas Novel
Judul                     :  PUKAT (Serial Anak Anak Mamak)
Penulis                   :TERE-LIYE
Penerbit                 : REPUBLIKA
Tahun Terbit                    :  2010
Tebal halaman         : vi+351

Monday, March 3, 2014 0 comments

Resensi Novel Burlian (Tere Liye) Serial Anak-anak Mamak

Wah sudah 1 minggu ini aku membaca buku yang sangat mengesankan disela-sela waktu kuliah dan tugas-tugas yang menggunung. seperti karya bang tere liye lainya buku yang berjudul ”BURLIAN” ini  sangat menarik bagi ku, karena kita diseret kedalam dunia anak-anak yang menyenangkan, rasa keingin tahuan yang besar dan pada dunia tanpa pemikiran-pemikiran terlebih dahulu sebelum bertindak yang malah menimbulkan rasa keragu-raguan untuk bertindak.
Seperti awal bulan yang lalu, saat jadwal rutinku ke salah satu toku buku besar di kota bandung(sebut aja Gramedia), saat masuk langsung disuguhkan dengan tumpukan buku bestseller, aku mengambil salah satu buku, dilihat dari covernya buku ini memang kurang menarik karena gambar sampulnya yang kurang menjual(menurut saya). Karena disampul bukunya ada nama pengarangnya bertuliskan Tere Liye, maka dengan rasa penasaran langsung membuka bukunya, lalu aku menemukan tulisan “Kamu selalu menjadi anak yang Special burlian”.
 
;