Showing posts with label Agama. Show all posts
Showing posts with label Agama. Show all posts
Friday, February 5, 2021 0 comments

'Front Pembela Islam’ yang Sesungguhnya

 

 BELUM lama ganti tahun, Indonesia sudah ribut lagi. Pemerintah membubarkan Front Pembela Islam (FPI), organisasi yang selama beberapa tahun terakhir menjadi pion penting dari arus populisme Islam di Indonesia dan aktor kunci mobilisasi gerakan Islam setelah Reformasi 1998. Mereka tidak pernah—dan tidak berkeinginan—untuk jadi partai politik. Namun, kekuatan mereka diperlukan oleh siapapun rezim politik yang ingin bermain dalam pentas politik Indonesia. Mereka menjadi kekuatan pemukul yang efektif terhadap siapapun yang dianggap mengancam rezim, mulai dari kelompok yang dilabeli “liberal”, “komunis”, hingga kelompok-kelompok minoritas keagamaan.

Laporan Wikileaks menunjukkan bahwa FPI banyak menerima dana dari Polri, dan jejaring intelijen nasional, yang tentu tidak pernah diafirmasi secara resmi baik oleh penyandang dana maupun yang diberi dana.

Sejarah dan rekam jejak FPI bisa dibaca di berbagai laporan riset hingga Wikipedia, tapi ada satu hal menarik: mengapa mereka menggunakan istilah ‘front’, yang sebenarnya awal mulanya berakar dari gagasan gerakan komunisme dan kelompok kiri dalam melawan fasisme di awal abad ke-20?

Wednesday, September 2, 2020 0 comments

Agama adalah Candunya Orang-orang

 PERNAH dengar kutipan di atas? Kutipan terkenal itu diambil dari pembukaan salah satu paragraf dalam artikel Karl Marx yang berjudul A Contribution to the Critique of Hegel’s Philosophy of Rights (1843). Kalimat ini sering ditemui di beberapa literatur dari yang kekiri-an hingga yang kekanan-an. Seakan menjadi quotes identik dan selalu tersemat apabila mengingat nama Marx. Namun apa betul beliau menyatakan demikian? Soal intensi atau perasaan pribadi beliau, saya cuma bisa bilang wallahu a’lam bish-shawab. Pada kenyataannya memang tertulis demikian. Lantas apa dengan begitu kita ikut mengiyakan bahwa agama adalah candu bagi orang-orang? Karena kontroversial bukan kepalang pernyataan tersebut, apalagi di sini, di Indonesia. Di sinilah letak persoalan obrolan kita, soal kutip mengutip. Sebelum kita menjawab pertanyaan tadi, mari ngobrol sedikit soal kutipan atau biasa disebut quotes.
Friday, June 28, 2019 0 comments

Fungsi Agamawan di Bumi Oligarki



DALAM riuh rendah perdebatan sosial politik menjelang pemilihan umum 2019 ini, salah satu tema yang menjadi perbincangan cukup serius adalah isu lingkungan hidup. Dalam debat pasangan calon presiden dan wakil presiden, jual beli serangan satu kubu terhadap kubu yang lain juga menyangkut persoalan ketimpangan kepemilikan lahan di beberapa wilayah (kebanyakan di Pulau Sumatera dan Kalimantan). Setiap capres-cawapres berupaya mempersalahkan paslon lain atas ketidakadilan dalam kepemilikan dan pengelolaan lahan tersebut. Para penonton, pemirsa, pendengar, pembaca, dan pendukung bersorak sorai setelah paslon dukungannya berhasil memaparkan data-data lahan milik paslon lawan di depan publik.
Sayangnya, tidak banyak orang memahami bahwa pemilu hanyalah skenario politik pembohongan yang sistematik tentang realitas ketidakadilan struktural. Hanya sedikit dari warga negara Indonesia yang mengetahui betapa besar ketimpangan kepemilikan lahan, bukan antara kubu paslon yang satu dengan paslon yang lain, melainkan antara dua kubu paslon dengan masyarakat lokal yang kian tersisih. Sangat sedikit warga yang memahami aksi ngibul di panggung sandiwara debat pilpres sebagai upaya menutupi kenyataan bahwa kedua kubu paslon sama-sama merupakan tuan atas tanah yang jumlahnya berhektar-hektar di Kalimantan dan Sumatera.
Monday, September 4, 2017 0 comments

AGAMA SASTRA


Sastra-ungkapan hati soal hakikat keadaan yang dituangkan dalam kata-kata ataupun tindakan yang penuh romantisme-memang mampu mengguncang kehidupan. Karena berawal dari sastra lah kita kan menemukan filsafat dan ilmu pengetahuan. Coba perhatikan bagaimana Homer menceritakan kisah Troya yang akhirnya menjadi sejarah tak terbantahkan ketika kota tersebut ditemukan reruntuhannya di pesisir Turki. Lalu seberapa pentingkah sastra kita ini? bagi para sastrawan, sastra adalah suatu agama yang mampu mengubah cara pandang kita terhadap dunia. Dalam dunia kata-kata yang bermakna dalam, kita bukanlah Islam, Kristen, Yahudi, ataupun Hindu dan Buddha karena agama-agama tersebut mempunyai klaim kebenaran absolut yang tak terinterpretasikan secara vulgar karena ada hukum Tuhan yang melarangnya. Agama-agama itu membatasi kita dalam mengungkapkan segala hal yang perlu diungkapkan karena kita takut akan neraka dan menginginkan surga.
Bukan surga itu yang kita inginkan, surga yang masih berbentuk khayalan para agamawan. Namun, surga kata-kata yang kita ciptakan sehingga membuat orang bisa merasakan apa yang kita rasakan. Bukan neraka itu yang kita takutkan, tetapi sebuah neraka yang membunuh kata-kata para sastrawan sehingga ia mampu tuk berkata “ketahuilah bahwa di alam kubur suaraku akan lebih lantang”. Agama itu cukuplah disimpan sebagai bentuk hubungan intim kita dengan Tuhan. Bagi kita, kebenaran yang absolut hanyalah milik para pengarang. Namun, kebenaran itu bisa berupa kebenaran parsial ketika ia diinterpretasikan oleh para penikmat karena sastra adalah hal yang paling universal yang pernah kita kenal.
Tuesday, July 4, 2017 0 comments

Sarekat Islam Semarang Dibawah Kepemimpinan Semaun


Semaun Dan Sedikit Mengenai Sarekat Islam
Semaun, nama tersebut dikenal oleh masyarakat sebagai salah satu pendiri aliran Komunisme pribumi di Indonesia. Karena dari tangannya lah, Komunisme di Indonesia berkembang begitu pesat hingga keruntuhannya di tahun 1965. Semaun bersama Darsono, pertama kali memimpin Sarekat Islam seksi Semarang tahun 1917. Berkat kepiawaiannya, Sarekat Islam Semarang menjadi organisasi revolusioner pertama yang beranggotakan pribumi di Indonesia disamping ISDV.
Tetapi Semaun tidaklah sendiri, Sneevliet adalah orang yang pertama kali menyebarkan paham Komunisme di Indonesia bersama para bekas anggota SDAP dari Belanda. Selain, itu terdapat Adolf Baars yang merupakan seorang jurnalis yang pandai bahasa Jawa dan Indonesia. Pada 1917, Baars menjadi pionir dalam terbitnya koran sosialis pertama berbahasa Indonesia yang bertajuk Soeara Merdika. Maret 1918, Baars juga menerbitkan Soeara Ra’jat yang kelak menjadi jurnal teori PKI[1].
Tuesday, May 9, 2017 0 comments

PKI: Perjuangan Ekonomi Politik Dalam Melawan Imperialisme Paska Proklamasi Hingga Tahun 1949

Pki: Perjuangan Ekonomi Politik Dalam Melawan Imperialisme Paska Proklamasi Hingga Tahun 1949[1][1]
PKI adalah sebuah partai revolusioner yang menjadi salah satu tonggak dari perjuangan rakyat di Indonesia dalam melawan Imperialisme. PKI menjadi musuh utama dari pergerakan-pergerakan kaum kanan seperti Masyumi, PSI, bahkan Amerika Serikat karena PKI berhasil menanamkan kesadaran kelas ke tubuh rakyat Indonesia bahwa kaum kanan yang mendukung perkembangan Imperialisme adalah kaum yang menghisap darah rakyat. Bagaimana PKI dengan pesatnya memperjuangkan ekonomi politik kerakyatakan paska proklamasi hingga tahun 1949 dalam melawan Imperialisme?

Lahirnya PKI Sebagai Anak Zaman
Lahirnya suatu partai revolusioner tidak pernah lepas dari lahirnya satu kelas yang dibelanya, yaitu kelas buruh. Begitupun juga dengan PKI, lahir di awal abad 20 sebagai pembela terdepan dari kelas buruh Indonesia yang pada saat itu masih berumur sangat muda. Walaupun masih berumur muda, namun kelas buruh Indonesia telah mampu bergerak secara militan dan disiplin dalam pertempurannya melawan kelas-kelas borjuasi yang pada saat itu juga masih berumur muda.
Wednesday, April 26, 2017 0 comments

Marxisme dan Islam


Pengaitan antara Komunisme dengan Atheis menjadi suatu polemik yang umum di Indonesia. Stigma ini di ciptakan bahkan secara radikal sehingga rakyat Indonesia yang pada dasarnya berprinsip “gotong royong” akhirnya tidak lagi demikian. Pancasila yang merupakan Sosialisme ala Indonesia pun akhirnya di selewengkan menjadi suatu ideologi yang dekat dengan Liberalisme. Masyarakat Pancasila yang di bentuk orde baru akhirnya menjadi masyarakat totaliter dan dogmatis terhadap Pancasila yang bahkan tidak murni lagi maknanya. Tap MPR No. 25/1966 sengaja di bentuk agar pengaruh Amerika yang justru menjauhkan kita dari agama masuk ke Indonesia.
Lalu paham kita yang Sosialisme akhirnya di jauhkan, kita menjadi suatu masyarakat yang individualis, teralienasi akibat materi, dan akhirnya tidak lagi bersifat manusia. Masyarakat kita tak ubahnya seperti mesin pencetak uang bagi negara-negara Liberalisme yang maju. Hal ini tidak pernah di sadari oleh masyarakat kita sendiri karena masyarakat kita di biarkan awam dan buta akan politik. Kembali ke topik awal. Islam adalah sebuah agama yang mayoritas pemeluknya ada di Indonesia. Ketika negara ini masih dalam proses menuju tahap negara, Islam adalah penggerak mayoritas serta basis perjuangan yang paling potensial. Salah satu organisasi massa Islam yang paling besar dan juga menjadi tonggak awal pergerakan adalah Sarekat Islam.
Tuesday, April 18, 2017 0 comments

Islam Politik: Bolehkah Agama Berpolitik?


Sejak runtuhnya kekhilafahan Utsmaniyah, kaum sekuler mengumandangkan kejayaannya. Tetapi beberapa pemikir Islam modern kembali mengumandangkan Islam politik, seperti Jamaluddin El Afghani dan Muhammad Abduh. Keduanya membuat konsep Pan Islamisme yg belakangan menjadi kiblat bagi pergerakan Sarekat Islam. Tak ketinggalan, Hasan Al Banna dan Sayyid Qutbh pun mendirikan Ikhwanul Muslimin di Mesir dan mulai bersaing dengan partai sekuler Mesir. Tetapi rupanya Lenin dan kawan-kawannya di Komintern meyakinkan kita bahwa Pan Islamisme sesungguhnya bentuk Imperialisme agama. Apakah benar demikian? Kebijakan Komintern tersebut - pada akhirnya - membuat pergerakan Sarekat Islam pecah. Hasan Sho'ub, Muhammad Thaha, dan beberapa pemikir Islam lainnya sependapat dengan tesis Komintern tersebut. Menurut mereka sudah seharusnya Islam jauh dari politik.
Tuesday, April 11, 2017 0 comments

Propaganda Anti Mistisme Dan Takhayul

Indonesia, negara yang mempunyai penduduk terbesar di dunia ke – 4 mempunyai heterogenitas yang sangat tinggi. Di negara kepulauan itu, kita dapat menemukan kurang lebih 600 suku dengan bahasa dan kebudayaannya masing-masing. Apa yang paling membuat unik adalah Indonesia bahkan mempunyai kurang lebih 600 kepercayaan tradisional yang bersandarkan pada Animisme dan Dinamisme. Masyarakat Indonesia yang dogmatis akhirnya membuat kepercayaan tradisional tersebut menjadi budaya yang sangat melekat di setiap individu anggota masyarakatnya.
Rupanya, kepercayaan tradisional yang melekat dalam-dalam itu menjadi sebuah alasan utama mengapa terjadi sinkretisme agama di Indonesia. Kita mengetahui bahwa Hindu di Indonesia, baik Kaharingan, Dharma, Tengger, dan yang lainnya berbeda dengan Hindu di tempat asalnya, India. Begitu juga Kristen di Jawa bahkan berbeda dengan Katholik di Vatikan, belum lagi HKBP yang juga berbeda dengan Protestan di Eropa. Yang paling parah adalah Islam, karena Islam memiliki bentuk sinkretis yang paling banyak. Di setiap daerah di Indonesia yang mempunyai beragam kepercayaan tradisional akhirnya mempunyai bentuk ajaran Islam sinkretis yang berbeda-beda pula. Setidaknya hal inilah yang menjelaskan mengapa Islam di Indonesia dinilai sangat bernilai mistisme.
Thursday, April 6, 2017 0 comments

Pan Arabisme dan Baathisme


Mungkin tidak ada pahlawan Arab yang paling berani selain Nabi Muhammad SAW, Umar Ibn Khattab, Khalid Ibn Walid, Gamal Abdul Nasser, dan Saddam Husein. Salah satu dari mereka merupakan presiden Mesir yang berhasil menggulingkan dua kekuasaan sekaligus yaitu Raja Farouk I dan presiden Mesir pertama, Jenderal Muhammad Naguib. Gamal Abdul Nasser, mungkin pantas disebut pahlawan Arab ketika cita-citanya yaitu mempersatukan seluruh tanah Arab di gulirkan. Beliau berani menasionalisasi Terusan Suez di tahun 1956. Prestasi terbesarnya ialah ia berhasil membentuk Republik Persatuan Arab bersama Presiden Syria, Syukri Al Quwatli. Sikap Nasser dan kemenangannya di dalam Perang Suez tersebut membuatnya menjadi panutan banyak pemerintahan oposisi di negara-negara Arab termasuk Irak.
Sentimen pro Nasser juga banyak diserukan di Syria sehingga Partai Baath yang berkuasa pada masa itu di bawah kepemimpinan Syukri mendekati Nasser untuk mencoba persatuan kedua negaranya. Persatuan tersebut juga dimaksudkan untuk mengurangi pengaruh Partai Komunis di Syria serta menaikkan popularitas Partai Baath di kalangan rakyat. Sedangkan para pebisnis Syria berharap agar persatuan ini dapat mereka manfaatkan untuk menggarap pasar Mesir yang potensial. Beberapa keuntungan yang telah di prediksi oleh Syria akhirnya membuat Partai Baath menggebu-gebu ingin bersatu dengan Mesir di bawah kepemimpinan Nasser nantinya.
Wednesday, March 29, 2017 0 comments

“Pemahaman Agama Sebagai Filsafat Dalam Perspektif Materialime”


Agama merupakan sesuatu yang sangat sakral untuk di perdebatkan dan di kritik, namun tampilnya Descartes dan Kant membuka jalan atas kritik agama yang juga menjadi jalan pengubah keadaan sosial politik di Eropa pada masa itu. Sebelum tampilnya mereka berdua sebagai seorang filsuf, Eropa di liputi kegelapan agama yang sangat pekat sehingga setiap aspek kehidupan merupakan bagian dari agama. Eropa diliputi dengan ajaran bahwa semua berasal dari Tuhan dan akan kembali kepada Tuhan. Pemikiran ilmiah seperti pemikiran Galilean dan Copernican di berangus habis demi melanggengkan kekuasaan agama di Eropa.
Bagaimana dengan dunia timur? Di dunia lama, agama dijadikan alat kekuasaan bagi para kaum Feodal untuk melegalkan monarki absolut. Sering kita dengar bahwa para raja di dunia timur merupakan titisan Dewa ataupun Tuhan, maka bagi siapa yang menentang kerajaan, dia akan mendapat hukum Tuhan yang absolute. Yang demikian merupakan pemerintahan bentuk Monarki Teokrasi. Beda lagi, ketika Feodal di berangus sejak adanya Revolusi Perancis, agama di jadikan alat untuk melanggengkan kekuasaan atas ekonomi masyarakat. Maka tidak heran kita menyatakan bahwa agama adalah alat penindasan kaum bawah.
Friday, March 24, 2017 0 comments

Kritik Terhadap Penyalahgunaan Hukum Agama Untuk Superioritas Moral


Pukul 4, hampir seluruh asrama di salah satu wisma terbangun dengan wajah pucat. Mereka bergegas mengambil wudhu untuk melaksanakan sholat Shubuh di musholla samping wisma. Dalam waktu singkat, musholla penuh dengan mahasiswa yg sholat berjama'ah dengan ekspresi wajah mengantuk. Sesekali mereka menutup mulut mereka saat menguap dan menutup mata mereka karena masih lelah berkedip. Setelah sholat, mereka menandatangani absen sholat dan selanjutnya absen tersebut menjadi catatan ibadah yg akan dinilai setiap akhir bulan. Di tempat yg berbeda, hari Minggu menjadi serasa berat untuk dialami mahasiswa Kristen karena mereka dengan berat hati bangun pagi untuk melaksanakan ibadah di gereja.
Sama halnya dengan wisma sebelumnya, mereka juga menandatangani absen sebagai pertanggungjawaban ibadah mereka di hadapan kepala yayasan. Kedua wisma tersebut dikenal karena keshalehan para mahasiswanya yg rajin melaksanakan ibadah. Apakah itu dengan terpaksa atau tidak, tidak menjadi persoalan si kepala yayasan. Yg menjadi persoalan adalah tentang bagaimana citra tersebut pada akhirnya mendatangkan profit bagi si kepala yayasan. Wisma yg dipenuhi pemuda shaleh yg demikian biasanya diincar oleh para orang tua yg menginginkan anaknya shaleh jua.
 
;