Showing posts with label Rindu. Show all posts
Showing posts with label Rindu. Show all posts
Wednesday, December 2, 2020 0 comments

Pandemi Covid-19 dan Mendesaknya Internasionalisme Proletariat

Hingga tulisan ini disusun, tercatat sudah 2,5 juta lebih kasus infeksi dan 170 ribu korban meninggal di seluruh dunia karena pandemi Coronavirus desease 2019 (Covid-19). Dampak dari pandemi ini juga meluas ke berbagai sektor: ekonomi, politik, dsb.

Yuval Noah Harari menyatakan ini adalah krisis global terbesar dalam generasi kita yang datang secara mendadak. Tahun kemarin, mayoritas penduduk dunia belum mengenalnya. Kini, Covid-19 memperparah krisis sistemik  dalam kapitalisme yang sudah terjadi di tahun-tahun sebelumnya. Datangnya Covid-19 meluluhlantakkan perhitungan-perhitungan ekonom dalam menghadapi krisis sebelum datangnya Covid-19.

Bisa kita lihat melalui berbagai media, sendi-sendi penopang kehidupan manusia mulai mengalami kekacauan. Industri-industri kalang-kabut, kerugian dalam jumlah besar meluas, dan potensi sebagian besar bangkrut. Sementara itu, saat tulisan ini direview, jutaan buruh telah di-PHK [1] dan jutaan lainnya mengantri. Kita, mayoritas dari bagian penduduk dunia, berada dalam kondisi paling terancam (tertular virus, terkena PHK, tidak bisa memenuhi kebutuhan, dst.).

Tuesday, July 2, 2019 1 comments

Disebuah Caffe Itu


Pagi tidak datang dengan cara yang sama lagi—secangkir kopi hangat cukup meredakan kesendirian yang beku, setelah apa yang terjadi membuatku begitu kelu. Manusia yang tersesat di tubuhku adalah jiwa-jiwa yang mencari pelita. Memasrahkan diri dalam pengharapan, atau terperangkap dalam tanya bisu, atau jawab ambigu. Tak terkecuali seorang pemuda yang tengah menyesap kesepian di pusat jantungku itu. Tunggu, aku tidak pasrah; sepucuk perpisahan mematahkan asa—jadi kepingkeping tiada arti. Pada sepi, aku menyesap sesal dan emosi. Di jantung warung kopi, aku hanya berusaha menemukan diri lagi. Jangan salah paham.
Aku masih ingat senyum tawa yang kau semai di sepenjuru tubuhku, membuatku mual, kadang tergelitik, sebab setiap cikal cinta adalah akar dari arang asa. Dalam bingkai-bingkai rasa di sudut tubuhku tersimpan memori kenangan, yang mengkonversi tawa menjadi luka. Kau dan potongan hatimu--yang kini entah ke mana--turut diabadikan pada salah satu bingkai itu. Mungkin, kaulupa, wahai bangku dan meja plastik yang selalu menyamankan—Tiada yang abadi di dunia ini kecuali luka. Itu yang kini kaulihat di mataku. Itu yang kini hidup di dalam hidupku. Segala telah pudar. Hanya menjadi sekadar.
 
;