Friday, May 29, 2020 0 comments

Memaknai Ulang Tentang Revolusi yang Cenderung ‘Berdarah-darah’

Kata ‘revolusi’ seringkali terdengar ketika seseorang semakin merasa jengkel atau bahkan ketika kekesalannya sudah memuncak akibat tindak-tanduk penguasa yang semakin tak mengenakan hati. Kata ini seakan menjadi obat dari segala keburukan dan segala kesewenang-wenangan, seakan-akan setelah revolusi maka sejarah berhenti untuk berputar kembali.

Revolusi yang dimaksud di sini adalah revolusi politik, revolusi-revolusi yang datang dengan wajah menakutkan karena ia membawa darah-darah untuk dikorbankan. Revolusi-revolusi seperti di Amerika, Prancis, Rusia, dan negara-negara lain yang kita barangkali sudah sangat familiar di buku sejarah.

Jika melihat dari anggapan umumnya, suatu perubahan yang besar dan cepat, maka siapa yang tidak tergiur revolusi jika dirinya termasuk dari golongan yang tidak beruntung? Membayangkan suatu tatanan yang lebih baik terasa begitu melegakan tetapi juga menyakitkan karena hal tersebut hanya berhenti sebagai harapan. Demonstrasi-demonstrasi yang belakangan terjadi tak luput dari harapan revolusi ini karena melihat bahwa tak ada harapan lagi untuk perubahan secara perlahan, harus ada aksi nyata yang signifikan.

Thursday, May 21, 2020 0 comments

Mitos ‘Marx Muda’ dalam Penafsiran-Penafsiran atas Naskah-Naskah Ekonomi-Filsafat tahun 1844 (Bagian III)

 

Superioritas, Patahan, atau Kontinuitas?

APAPUN disiplin akademik ataupun afiliasi politik mereka, para penafsir Naskah-Naskah Ekonomi-Filsafat tahun 1844 dapat dibagi ke dalam tiga kelompok. Yang pertama terdiri dari mereka semua yang, dengan mempertentangkan naskah-naskah Paris dengan Kapital, menekankan keutamaan teoretis karya yang lebih awal tersebut. Kelompok kedua secara umum menyepelekan signifikansi naskah-naskah tersebut, sementara kelompok ketiga condong pada tesis bahwa ada kesinambungan teoretis antara naskah-naskah tersebut dengan Kapital.

Mereka yang mengasumsikan pembelahan antara Marx ‘muda’ dan ‘dewasa’, dan berargumen tentang kekayaan teoretis yang lebih besar pada yang pertama, menampilkan Naskah-Naskah Ekonomi-Filsafat tahun 1844 sebagai tulisannya yang paling bernilai dan membedakannya secara tajam dengan karya-karyanya yang belakangan. Secara khusus, mereka cenderung untuk meminggirkan Kapital, seringkali tanpa mempelajarinya secara mendalam—buku dengan tuntutan yang lebih berat untuk dipelajari dibandingkan dengan sekitar dua puluh halaman pembahasan tentang kerja yang teralienasi dalam Naskah-Naskah Ekonomi-Filsafat tahun 1844, yang mengenainya hampir semua mengajukan perenungan-perenungan filosofis. Para perintis garis penafsiran ini adalah Landshut dan Meyer, kemudian segera disusul oleh Henri de Man.

Friday, May 15, 2020 0 comments

Mitos ‘Marx Muda’ dalam Penafsiran-Penafsiran atas Naskah-Naskah Ekonomi-Filsafat tahun 1844 (Bagian II)

 

Penafsiran awal dari (Naskah-naskah Ekonomi-Filsafat tahun 1844)

KETIKA pertama kali terbit pada tahun 1932, Manuskrip Ekonomi-Filsafat tahun 1844 menjadi salah satu materi utama pertentangan antara ‘Marxisme Soviet’ dan ‘Marxisme Barat’. Pengantar yang menyertai publikasi keduanya menghasilkan perbedaan pendekatan yang tajam. Viktor Adoratskii, direktur MEGA yang menggantikan David Ryazanov pada tahun 1931, setelah pembersihan Institut Marx-Engels (baru-baru ini berganti nama menjadi Marx-Engels-Lenin Institute), mempresentasikan tema manuskrip sebagai sebuah ‘analisis tentang uang, upah, bunga modal, dan sewa tanah’.

Sebaliknya, Landshut dan Meyer berbicara tentang sebuah karya yang ‘pada intinya sudah mengantisipasi Capital‘, karena ‘tidak ada ide baru yang fundamental’ yang nantinya muncul dalam oeuvre (karya-karya substansial) Marx. Manuskrip Ekonomi-Filsafat tahun 1844, tulis mereka, sebenarnya adalah karya utama Marx. Terlepas dari karakter yang jelas-jelas dipaksa dari klaim mereka bahwa manuskrip tahun 1844 adalah inti dari perkembangan pemikiran Marx, interpretasi ini segera mencapai kesuksesan besar dan bisa dilihat sebagai sumber asli dari mitos ‘Marx Muda/Young Marx’.

Herbert Marcuse juga menyatakan bahwa Manuskrip Ekonomi-Filsafat tahun 1844 memaparkan premis filosofis dari kritik Marx terhadap ekonomi politik. Dalam sebuah esai bertajuk ‘The Foundation of Historical Materialism’, yang pertama kali diterbitkan pada tahun 1932 di Die Gesellschaft, Marcuse berpendapat bahwa ‘penerbitan Manuskrip Ekonomi dan Filsafat yang ditulis Marx pada tahun 1844 (ditakdirkan) menjadi peristiwa penting dalam sejarah studi-studi Marxis.’,

Thursday, May 7, 2020 0 comments

Mitos ‘Marx Muda’ dalam Penafsiran-Penafsiran atas Naskah-Naskah Ekonomi-Filsafat tahun 1844 (Bagian I)

 


 Dua edisi dari 1932

Naskah-naskah Ekonomi-Filsafat tahun 1844 (Economic-Philosophic Manuscripts of 1884) adalah salah satu di antara tulisan-tulisan paling terkenal Marx, dan yang paling banyak diterbitkan di seluruh dunia. Tetapi meskipun buku ini telah memainkan peran utama dalam interpretasi keseluruhan pemikiran Marx, namun untuk waktu yang lama, buku ini tidak dikenal hingga kemudian terbit hampir seabad setelah penyusunannya.

Penerbitan naskah-naskah ini sama sekali bukan akhir dari cerita. Sebaliknya, penerbitannya telah memicu perselisihan yang panjang tentang karakter dari teks tersebut. Beberapa menganggapnya sebagai karya yang belum matang dibandingkan dengan kritik Marx selanjutnya tentang ekonomi politik. Yang lain menilainya sebagai landasan filosofis yang tak ternilai untuk pemikirannya, yang kehilangan intensitasnya selama bertahun-tahun saat ia mengerjakan penulisan Kapital.

Friday, May 1, 2020 0 comments

May Day: Arti Penting Persekutuan Kaum Muda dan Rakyat Pekerja

 

Dalam momentum May Day kali ini, kita akan menyaksikan kaum buruh di seluruh dunia berbondong-bondong keluar dari pabrik, meninggalkan mesin-mesin produksi, untuk memperingati perjuangan kaum buruh sebelumnya. Kaum buruh akan menunjukkan kekuatannya di hadapan pemilik modal. Menggetarkan jantung kelas pemodal berkali-kali lipat lebih kencang. Kelas pemilik modal, telah meninggalkan topeng suci semua jabatannya dengan penuh kekhidmatan. Pemilik modal, tidak bisa hidup tanpa mencuri jam kerja dan tenaga yang dicurahkan oleh kelas buruh. Dengan begitu, nasib pemilik modal sangat ditentukan oleh produk yang diciptakan rakyat pekerja.

Tepat 1 Mei 131 tahun yang lalu, sebuah momentum bersejarah bagi kaum buruh di seluruh dunia telah lahir. Saat dimana ratusan ribu kaum buruh dari berbagai sektor pekerjaan di Amerika Serikat pada tahun 1886 turun ke jalan. Dengan semangat luar biasa, kaum buruh menyerukan perjuangan untuk menuntut 8 jam kerja, dari jam kerja rata-rata hingga 18 sampai 20 jam. Momentum bersejarah tersebut kemudian dikenal sebagai Hari Buruh Sedunia, yang biasa disebut sebagai May Day.

Di Indonesia, peringatan May Day diperingati pertama kali di kota Surabaya tahun 1918 oleh Serikat Buruh Kung Tang Hwee Koan, yang juga tercatat dalam sejarah sebagai peringatan May Day pertama yang diperingati di Asia. Awalnya, peringatan May Day di Indonesia dijadikan sebagai medium perlawanan terhadap kolonialisme Belanda. Sejak tahun 1918 hingga 1926, peringatan May Day dilakukan oleh gerakan buruh saat itu dengan melakukan pemogokan-pemogokan besar, menuntut pengurangan jam kerja, upah yang layak, pemutusan hubungan kerja, dan sebagainya. Bukan hanya itu, gerakan buruh jugalah yang menjadi pelopor pemberontakan pertama secara besar-besaran di berbagai daerah melawan kolonialisme pada tahun 1927. Meskipun terjadi kekalahan dan diiringi dengan gelombang reaksi, hingga May Day dapat diperingati kembali pasca revolusi kemerdekaan tahun 1945. Peristiwa tersebut menunjukkan kepeloporan kelas buruh dalam melawan sistem yang menindas mereka. Demikianlah semangat awal adanya peringatan May Day.

Kini, peringatan May Day di berbagai negara talah kehilangan makna perjuangannya. Di Indonesia, Rezim Jokowi-JK mengeluarkan surat edaran Menteri Tenaga Kerja yang berupaya membatasi aksi kaum buruh dalam memperingati Hari Buruh Sedunia. Bahkan, beberapa hari sebelum May Day berlangsung, beberapa elit birokrasi serikat buruh di undang makan oleh Jokowi. Dampaknya, bisa kita saksikan beberapa serikat buruh seperti Serikat Pekerja Panasonic Gobel (FSPPG) menjadikan momentum May Day sebagai “Happy Day” yang kegiatannya akan di isi dengan olahraga, donor darah dan kegiatan fun outdoor lainnya [1]. Namun sebagian serikat buruh lainnya sepakat akan mengadakan aksi besar seperti Konfederasi Serikat Pekerja Indonesia (KSPI)[2] yang di perkirakan akan menurunkan sebanyak 500 ribu buruh untuk memperingati May Day kali ini. Meskipun beberapa waktu yang lalu, KSPI telah melakukan aksi besar dengan tuntutan rasis “tolak tenaga kerja asing” yang justru dapat melemahkan persatuan sesama kelas tertindas, kelas buruh sedunia.

enyimpangan makna dari peringatan May Day hingga kini adalah dampak dari hegemoni Negara borjuis yang terus saja mendistorsi ilmu pengetahuan. Mereka tidak menginginkan kelas buruh sebagai kekuatan produktif yang menggerakkan proses produksi mengetahui, bahwa May Day adalah sejarah perlawanan tanpa ampun kelas buruh melawan kelas penguasa (baca: borjuis) dan sistem yang menindas. Oleh karena itu, kita berkepentingan mengambil kembali semangat momentum May Day kali ini untuk membangun kekuatan kelas buruh dalam mewujudkan tatanan masyarakat yang lebih baik.

Kelas buruh merupakan kekuatan produktif yang berkepentingan mewujudkan revolusi sosialis. Hal ini dikarenakan kelas buruhlah yang bersentuhan langsung dalam proses produksi dan merasakan langsung penindasan sistem kapitalisme. Perkembangan kapitalisme diberbagai negara akan membuat kelas buruh semakin besar dan terkonsentrasi. Kapitalisme telah menyatukan kaum buruh di seluruh dunia. Berkembangnya industri, tidak saja bertambah jumlah; ia menjadi terkonsentrasi dalam jumlah yang lebih besar, kekuatannya tumbuh dan ia semakin merasakan kekuatannya. Sebagaimana dikatakan Marx bahwa “Kelas Buruh tidak memiliki tanah air”.

Bukan buruh Indonesia saja yang merasakan upah yang tidak layak, PHK, jam kerja yang lebih banyak, dan sebagainya. Namun buruh di seluruh dunia juga merasakan hal yang sama. Apapun suku, agama, jenis kelamin, dan di negara manapun berada kelas buruh akan dihisap tenaganya oleh pemilik modal dalam sistem kapitalisme. Oleh karenanya persatuan kelas buruh tidak bisa dibangun berdasarkan nasionalisme dan identitas tertentu, melainkan harus berdasarkan Internasionalisme Ploretar. Membangun persatuan kelas buruh diseluruh dunia.

Kalau buruh sedunia bersatu mogok menolak perang, pemerintahan kapitalis dan pemilik modal tidak akan punya satupun serdadu yang bisa mereka kirim ke garis depan; tidak akan ada senjata yang bisa terproduksi kalau buruh mogok; minyak yang dibutuhkan untuk kapal perang dan tank akan mengering karena buruh migas mogok. Perang Dunia II pun terjadi karena tidak adanya internasionalisme buruh yang kokoh, yang bisa mengatakan kepada buruh bahwa musuh mereka bukanlah buruh dari negeri lain, tetapi kapitalis seluruh dunia[3].

Bukan sembarangan Karl Marx mengatakan “Buruh Sedunia Bersatulah”. Pelajaran baik dari Internasionalisme kelas buruh dapat dilihat pada proses revolusi kemerdekaan Indonesia tahun 1945. Ini dibuktikan dengan banyaknya dukungan atas kemerdekaan Indonesia dari organisasi-organisasi buruh berbagai negara. Bahkan kelas buruh pelabuhan Australia telah ikut berperan dalam melakukan pemogokan untuk memboikot kapal-kapal pembawa persenjataan imperialis Belanda ke Indonesia setelah proklamasi tahun 1946.

Pembebasan kaum buruh tidak akan dapat diwujudkan dengan hanya membebaskan kaum buruh di satu-dua negara saja. Kaum buruh yang tidak menyatukan perjuangannya pada semangat internasionalisme hanya akan membawa perjuangan kaum buruh pada kepungan, gempuran dan serangan kelompok-kelompok borjuis dan pemilik modal. Maka menjadi keharusan dalam peringatan May Day kali ini sebagai kelas tertindas kita akan menyerukan perjuangan dan persatuan dibawah semangat internasionalime. Agar kelak seluruh kaum buruh di dunia dapat mendapatkan kemenangan hakiki yang berujung pada pembentukan negaranya kelas tertindas, Negara kelas pekerja.

Arti Penting Persekutuan Kaum Muda Dan Rakyat Pekerja

Di lain hal kita juga menyaksikan semakin banyak kaum muda yang tertarik dengan ide-ide pembebasan. Tidak jarang kita temukan gerakan kaum muda bersama kelas buruh dan kaum tertindas lainnya menyatukan diri, bergerak bersama untuk melawan tirani yang melanggengkan penindasan dimuka bumi. Namun, tidak jarang pula kita saksikan gerakan kaum muda, memisahkan dirinya dari perjuangan kelas buruh dan rakyat tertindas lainnya. Untuk itu, marilah kita mencari tahu lebih dalam, apa makna May Day bagi kaum muda dan arti penting persekutuan kaum muda dan rakyat pekerja.

Semangat baja dan militansi dalam menggerakkan roda sejarah, harus dipahami oleh segenap kaum muda. Camila Vallejo seorang revolusioner dari Chile pernah mengatakan bahwa “Kaum muda jika tidak revolusioner adalah cacat mental”. Kaum muda pada dasarnya adalah elemen yang dengan mudah menerima segala macam paham dan ide. Termasuk gagasan-gagasan dari ideologi borjuis, seperti rasis, seksis, hedonis, dan sebagainya. Sebagai akibat dari kesalahan dalam menentukan ideologi dan politik pejuangannya, kaum muda juga dapat menjadi bagian dalam melanggengkan penindasan terhadap rakyat. Dalam sejarahnya, kebanyakan kaum revolusioner menemukan jalan pada sosialisme dan perjuangan kelas buruh pada usia muda.  “Massa kaum revolusioner adalah kaum muda”, begitu kata Jhon Percy, Sekretaris Nasional Democratic Soialist Party (DSP) dalam sambutannya untuk Konferensi Nasional ke 29 Resistance, di Melbourne, tahun 2000.

Kaum muda juga telah menunjukkan dalam sejarahnya bahwa mereka merupakan kelompok sosial yang paling sensitif terhadap kekacauan sosial akibat anarki produksi kapitalisme. Pada tahun 1968, lapisan kaum muda mengubah kota-kota di Prancis menjadi lautan massa.  Demonstrasi-demonstrasi yang dilakukan oleh kaum muda di kampus meluas menjadi sebuah demonstrasi umum. Kekecewaan akibat kebijakan yang menghentikan kegiatan “studi anti-imperialis” dan displiner yang dikenakan kepada sejumlah mahasiswa, dengan segera merembet pada pemogokan di pabrik-pabrik. Dalam waktu sekejab demonstrasi kampus berubah menjadi pemogokan massa. Kejadian tersebut mengancam rezim yang berkuasa pada saat itu.

Begitupun di Rusia sebelum momentum bersejarah yang menggoncangkan dunia pada revolusi oktober 1917. Semangat kaum muda memiliki peran penting dalam menyebarkan ide-ide tentang pembebasan. Para pemuda dan mudi-kebanyakan dari mereka adalah mantan pelajar- dalam jumlah ribuan berangkat ke seluruh penjuru Rusia untuk mewartakan propaganda sosialis. Kekuasaan otokrasi yang korup dan bangkrut, birokrasi yang opresif, mistisisme dan konservatisme relijius yang merasuki semua hal, membangkitkan semua kekuatan hidup dalam masyarakat saat itu untuk memberontak. Pemberontakan melawan perbudakan ini mendorong para pelajar muda revolusioner untuk mencari jalan keluar. Dengan semangat “turun kebawah” kaum muda saat itu menunjukkan bahwa mereka tidak lahir sebagai birokrat-birokrat baru, melainkan sebagai prjurit-prajurit rakyat rusia.

Di Indonesia, bisa kita saksikan peran kepeloporan kaum muda sepanjang sejarah. Sebelum kemerdekaan, banyak kaum muda terpelajar yang mempelopori gerakan perlawanan terhadap kolonialisme. Seperti Semaun, Hatta, Kartini, Tan Malaka dan banyak lagi pemuda lainnya yang menyatakan kebencian, bahkan meninggalkan asal-usul kelas keluarganya sebagai seorang bangsawan. Banyak kaum muda militan yang juga menjadi pelopor dalam mendorong kemerdekaan Indonesia tahun 1945. Peran historis kaum muda, bukan hanya melulu tentang perjuangan militan untuk membebaskan rakyat dari penindasan.

Kaum muda dan mahasiswa juga mempunyai catatan sejarah yang buruk pada tahun 1965 bersama militer dan CIA Amerika dalam melakukan kontra revolusi, mereka memiliki pengaruh besar dalam melegitimasi pemenjaraan dan pembantaian jutaan rakyat yang dituduh komunis, serta membuka jalan rezim militer orde baru untuk berkuasa disertai dengan masuknya kapitalis internasional menguasai sumber daya alam. Kaum muda dan mahasiswa jugalah yang mempelopori jatuhnya rezim militer orde baru pada tahun 1998, dengan mobilisasi yang menjadi senjata utama, bersama rakyat lainnya mereka berhasil memaksa rezim militer untuk turun dari kekuasaan, sehingga kran demokrasi cenderung lebih terbuka hingga sekarang ini.

Namun sekarang, semangat dan konsistensi saja tidaklah cukup. Sejarah telah mencatat betapa berbahayanya kaum muda yang hanya memiliki semangat dan konsistensi dalam melegitimasi kekuasaan rezim militer kontra revolusi pada tahun 1965. Kaum muda dan mahasiswa sekarang harus memiliki landasan ideologi dan politik tepat. Teori yang dimaksud tentu saja adalah Sosialisme Ilmiah, yang berlandaskan pada perjuangan kelas buruh. Sebagaimana dikatakan sebelumnya, kelas buruh adalah kekuatan tenaga produktif yang berkepentingan mewujudkan masyarakat adil dan makmur secara ilmiah, menumbangkan tatanan masyarakat kapitalis melalui revolusi sosialis.

 

Makna May Day Bagi Kaum Muda

Dalam momentum May Day kali ini, sudah seharusnya digunakan oleh kaum muda bersama kelas buruh sedunia menembus sekat-sekat kebangsaan memperkuat persatuan revolusioner untuk mewujudkan tatanan masyarakat baru. Menuntut kesejahteraan ekonomi seperti upah yang layak, jam kerja yang lebih pendek, cuti haid maupun melahirkan bagi perempuan, subsidi dan fasilitas yang baik, dan sebagainya. Selain itu juga berkepentingan merebut kendali politik dari kapitalis dengan membangun dewan-dewan buruh atau dewan Rakyat, sebagai embrio dari pembentukan Negara kelas pekerja.

Hal ini penting dilakukan oleh kaum muda bersama kelas buruh. Terkhusus pada mahasiswa di berbagai universitas, yang notabane jutaan lulusannya di berbagai belahan dunia akan menjadi kelas tertindas baru (buruh) yang dihisap tenaganya untuk akumulasi modal kapitalisme. Jutaan mahasiswa setelah lulus tentu akan menggantungkan nasibnya di berbagai institusi kapitalis besar (termasuk negara), tidak akan ada cukup lowongan bagi mahasiswa untuk menjadi manajer atau kelas penindas baru. Oleh karena itulah perjuangan yang dilakukan oleh kaum muda/mahasiswa dan kelas buruh tidak dapat dipisahkan. Selanjutnya, kelas buruh dan kaum muda revolusioner (pemuda mahasiswa, pemuda buruh, pemuda tani, dsb) yang sadar kelas, perlu mengintegrasikan dirinya kepada pembangunan organisasi muda sosialis dan partai revolusioner. Dengan organisasi demikian, kelas buruh akan mendapatkan jalan dalam melawan musuh-musuh kelasnya, merebut demokrasi seutuh-utuhnya, menuju tatanan masyarakat adil dan makmur: Sosialisme.

Selamat Memperingati Hari Perlawanan Kelas Buruh!

Kaum Muda Revolusioner dan Kelas Buruh Sedunia Bersatulah!

Bangkitkan Semangat Internasionalisme!

Bangun Organisasi Muda Sosialis dan Partai Revolusioner!

 

[1] http://www.antaranews.com/berita/623850/buruh-sambut-may-day-is-a-happy-day

[2] http://bisnis.liputan6.com/read/2927505/500-ribu-buruh-bakal-turun-ke-jalan-pada-peringatan-mayday

[3] http://www.militanindonesia.org/analisa-politik/8412-internasionalisme-yang-terlupakan-dalam-hari-buruh-internasional.html

 

Monday, April 27, 2020 0 comments

Bagimu Kejulidanmu, Bagiku Monetisasiku

 

            RIA Ricis pamit. Ria Ricis kembali. Selanjutnya apa? Ria Ricis pamit sambil sumpah pocong tak akan kembali lagi? Lakukanlah. Dan kembalilah lagi tanpa tahu malu.

Saya jamin, penonton Ria Ricis tetap membeludak.

Kita hidup di hari-hari yang menjengkelkan. Ria Ricis bukan satu-satunya influencer kondang yang lidahnya lebih licin ketimbang arena ice skating. Kita punya Awkarin yang, wow, pernah menghadiahkan akun media sosialnya kepada dirinya sendiri. Ada pula Atta Halilintar yang mengelabui warganet dengan keisengan yang seolah-olah spontan namun sudah disiapkan di muka.

Kalau ketiganya sudah pensiun kelak—yang, sayangnya, mungkin bisa lebih lama dari hidup Anda—kita dipastikan punya banyak penggantinya.

Berulang kali saya mendapati teman-teman saya geleng-geleng dengan cita-cita entah keponakan, entah anak tetangga mereka. Anda, pasti, sudah bisa menebaknya. Pangkal masalahnya selalu sama: anak-anak ini bercita-cita menjadi YouTuber.

“Adek, mau jadi apa kalau sudah besar nanti?” teman saya suatu hari bertanya kepada keponakannya.

“YouTuber!” sang keponakan membalas tanpa tedeng aling-aling.

Teman saya kontan kecewa—mungkin dia awalnya berharap mendapati cita-cita klise ingin menjadi pilot, dokter, insinyur, atau SJW.

Persoalannya, di hari-hari ini, kejengkelan kita dengan YouTuber pengemis perhatian sama sekali tidak punya arti. Anda bisa merampas masa depan seseorang di kantor atau bidangnya dengan kejulidan—dengan menggunjingkan penuh dengki keburukan-keburukannya bersama para kolega. Anda, sekurang-kurangnya, dapat merampas ketenangan hidupnya. Akan tetapi, hal yang sama tak berlaku untuk para selebritas digital. Kejulidan justru mengganjar mereka dengan reputasi dan, pada akhirnya, mempertebal koceknya.  

Berapa banyak, toh, orang yang tetap memutar video Ria Ricis, Awkarin, Atta Halilintar meski sekadar untuk marah-marah belaka? Di antara kita saja, saya yakin, tak sedikit, dan dengannya kita sudah menyumbangkan secuil umur kita untuk menonton iklan di lamannya. Anda julid dan merasa sudah melakukan sesuatu dengan memaki-maki para selebritas digital? Mereka, bisa jadi, malah punya prinsip hidup digital yang jauh mengangkangi segenap kejulidan Anda—“bagimu kejulidanmu, bagiku monetisasiku.”

Ada beberapa orang yang saya benci hingga ke ubun-ubun di jagat Twitter. Salah satunya ialah Tengku Zulkarnain. Kombinasi rutin antara ujaran kebenciannya dengan kesemerawutan berbahasanya benar-benar membuat saya ngegas. Dan terka saja apa yang terjadi: Twitter terus-menerus menjejalkan cuit-cuitnya ke linimasa saya terlepas saya tak mengikutinya.

Twitter, saya yakin, membaca durasi waktu saya membaca cuitnya yang lebih lama ketimbang cuit-cuit lain. Tak ingin membuat laman awal YouTube saya cemar dengan video para influencer tak bermutu, saya biasanya sekuat tenaga menghindari memencet unggahan mereka. Begitu YouTube mendapati saya singgah ke laman video Atta Halilintar, katakanlah, ia takkan henti menjajakan video-videonya yang tak saya perlukan (persis telemarketing asuransi Sukatelpon).

Rupanya, di Twitter saya lengah. Saya secara naluriah terpantik, membaca cuit Tengku Zulkarnain dengan saksama, marah, lalu membacanya lagi, lalu ingin mendebatnya, lalu lagi-lagi membacanya. Meskipun pada akhirnya saya hanya membalasnya dengan peta sebuah daerah di Prancis, algoritme Twitter sudah telanjur membaca kecenderungan saya berkutat dengan provokasi Tengku Zulkarnain. Mereka, mungkin, langsung menerka saya akan berlama-lama dengan penuh sukacita di Twitter bila saya terpapar terus-menerus cuit semacam.

Dan Twitter, saya mesti mengakui dengan berat hati, tak sepenuhnya keliru. Cuit-cuit yang diselundupkannya secara gelap ke linimasa saya acap berhasil membuat saya berlama-lama di platformnya (meski tidak dengan penuh sukacita). Menyusul Tengku Zulkarnain, linimasa saya pun disusupi dengan cuitan-cuitan Haikal Hassan Baras dan Mustofa Nahrawardaya. Nyaris semuanya sukses memancing emosi dan perhatian penuh saya yang mahal.

Dan, bukan kebetulan seharusnya bertepatan dengan penerapan siasat algoritmik semacam ini, Twitter mulai mencetak keuntungan. Keuntungan di dunia media baru setara dengan waktu yang dihabiskan pengguna—tak peduli mereka menghabiskannya dengan kerelaan hati atau tidak. Kini saya memang berkubang di Twitter lebih lama—acapkali sambil murka menyaksikan influencer bermulut limbah. Mungkin demikian juga dengan Anda.

Di hari-hari yang menjengkelkan ini, Anda sebenarnya tak bisa membanggakan kejulidan sebagai benteng perlawanan warganet. Sistem pertahanan dan keamanan berbasis kenyinyiran warganet? Omong kosong. Kelakuan semacam justru menjadikan warganet mangsa empuk para influencer, perusahaan platformnya namun, lebih tepatnya lagi, kapitalisme surveilans. Untuk apa membaca pesan muak warganet kalau persekongkolan gawat ini punya akses membaca segenap aktivitas warganet di dunia maya—durasi melihat, jumlah kunjungan, kata kunci kegemaran, dan lain-lain? Untuk apa meratapi pedasnya kritik warganet kalau ia justru bisa dieksploitasi guna menagih perhatian konstan mereka?

Dalam struktur yang demikian, Atta Halilintar sesungguhnya berhak sesumbar menggoda Anda menggunakan kata-kata Thanos, sang titan ungu. “I am inevitable.” Atta akan mendatangi kehidupan Anda, yang sebagian besar akan dihabiskan di depan layar, lagi dan lagi. Semakin besar keinginan Anda untuk menyingkirkannya, ia semakin tak mungkin tersingkir dari kehidupan Anda. Tengku Zulkarnain takkan hilang dari kehidupan saya di masa mendatang. Semakin banyak kritik dan kecaman yang diterimanya, semakin santer namanya. Ia semakin merasa diperlakukan bak pahlawan dan calon martir—sementara para pembencinya tergulung dalam ekosistem digital Twitter.

Kita tak sendirian. Warganet di mana-mana sedang berlari dalam roda hamster yang sama. Roda hamster yang membesarkan influencer yang mengecer keisengan provokatif dan tipu muslihat. Roda hamster yang boleh jadi telah mendudukkan Donald Trump di kursi kepresidenan.

Fakta menyedihkan untuk menutup tulisan yang sudah di pengujung paparannya ini? Kita belum punya Iron Man yang dapat merampas dari tangan kekuatan jahat ini kuasa atas eksistensi daring kita.

Yang kita punya adalah kejulidan semata

.***

Thursday, April 23, 2020 0 comments

Apa Sekarang Kita Sudah Jadi Marsose di Papua?

 

DALAM sebuah foto yang legendaris, pasukan infanteri Reich Ketiga melintasi Arc de Triomphe di hari kejatuhan Paris. Pemerintah republik kabur kocar-kacir ke negeri jiran. Teritori utara Prancis diduduki tentara Reich Ketiga dan belahan selatan diurus pemerintahan kacung di bawah Maréchal Philippe Pétain.

Sementara itu, gerakan bawah tanah terorganisir bekerja secara kucing-kucingan dari intaian Gestapo yang luar biasa durjana. Tak sedikit pula penduduk koloni-koloni Prancis yang menyandang senjata (boleh jadi dengan terpaksa), menyabung nyawa untuk membebaskan “negeri induk” mereka dari okupasi.

 
;