Shubuh menjelang, pikiran melayang, fantasi liar sungguh
jalang! Mungkin ungkapan ini yg cukup menggambarkan betapa syahdunya pukul
empat pagi. Ketika aku menikmati syahdu, sejenak aku bertanya, apakah Tuhan itu
materiil serta dimana keberadaan Tuhan? Bagaimana pula kita menerima-Nya secara
filosofis?
Jika Tuhan itu materiil, maka runtuhlah Materialisme
Dialektika itu sendiri. Tuhan tetaplah sebuah persepsi absolut yg hadir
menanggapi tiap keluh kesah, cinta, ketakutan, dan kekaguman manusia. Itulah
mengapa kepercayaan terhadap Tuhan lahir pertama-tama sebagai respon manusia
atas fenomena alam. Pada dasarnya, ketika manusia menjadi antithese dari alam,
maka manusia membutuhkan kawan - tempat bergantung - untuk mempertahankan
posisinya terhadap alam. Begitulah akhirnya Tuhan muncul sebagai jawaban atas
pencarian manusia akan kawan tersebut.







