Saturday, January 19, 2019 0 comments

Di Kenanganmu Yang Terdalam


“Apa kabar?” menjadi pertanyaan paling rahasia saat ini. Sesuatu yang hanya bisa kuucapkan di waktu tertentu dan tidak semua orang tahu. Satu-satunya yang paling menahu hanyalah takdir. Ia yang menempatkanku di suatu jarak penglihatanmu yang buta. Di sanalah aku bisa bebas mencintaimu. Mendekap malamku yang kian dingin dan sesekali gigil tanpa demam.
Aku terus belajar melangkah tanpamu. Menyeruak gugur dedaunan sendirian, seperti di waktu-waktu silam. Ketika aku belum menemukanmu. Ketika aku belum tenggelam di samudra matamu yang paling dalam. Belajar melalui semua itu menjadi tantangan. Menjadi caraku untuk memahami seperti apa takdir bekerja.
Aku dan hujan sudah jarang sekali bertemu. Seusai aku harus meninggalkan tempatnya kerap bersemayam dan membangun kembali kehidupan di kota lama, sesuatu yang tidak ada kamu di dalamnya. Hingga takdir-lah yang menjadi tempat berkisah apa pun atau sesekali merutukinya yang seenaknya saja memutar-balikkan segalanya. Ia tidak pernah menanyaiku—beda dengan hujan.
Friday, January 11, 2019 0 comments

Mungkin Kamu Memang Benar


Andai, aku bisa mengerti semua yang kamu rasakan. Merasakan air mata dari celung matamu yang mulai menghitam. Andai, aku bisa mengerti bahwa alasanmu menjauh hanyalah karena kamu terlalu takut kita akan menemui kegagalan yang sama ketika mulai saling menautkan perasaan lagi.
Kita pernah punya masa lalu. Sekelumit waktu di mana kita saling memendam tanpa pengungkapan. Sekelumit waktu di mana kamu memutuskan untuk mengatakannya saat jarak sudah yakin untuk memisahkan. Kita sudah terlalu jauh untuk bicara. Dan sekarang, aku memberimu kesempatan kedua.
Kamu tahu? Aku percaya, jika seseorang memang ditakdirkan mengarungi samudra bersama, apa pun yang akan terjadi, sampan itu selalu tersedia untuk mereka di bibir dermaga. Tapi nyatanya, kamu lebih percaya pada ketakutanmu sendiri daripada perasaanmu. Kamu menghindar dan bilang ingin pergi. Sekerasnya kuteriakkan bahwa aku sudah memulai perjalanan kembali dan berharap kamu bisa menjadi bagian dari itu. Kamu diam saja.
Andai, aku bisa mengerti ketakutanmu itu. Merasakan penderitaan kala tetiap perasaan yang dipendam berbalik arah dan menyerang diri sendiri dari dalam. Aku tahu apa yang kamu rasakan. Aku hanya ingin bisa mengerti semua yang kamu rasakan dalam hidupmu. Sayangnya, kamu tak mengizinkanku untuk menapaki jalan yang sama denganmu.
Aku pernah menunggu sangat lama. Diam-diam. Aku pernah menautkan perasaan. Dalam-dalam. Aku tahu seperti apa rasanya menunggu tahun demi tahun hanya untuk memastikan di akhir bahwa ternyata semua itu sia-sia. Aku pernah berteman dengan Hujan. Tahu seperti apa rasanya ada teman yang menemani saat hati rasanya ingin patah berkeping. Mungkin benar, yang kamu butuhkan adalah teman untuk menepis rasa takut itu.
Mungkin benar ... yang kamu butuhkan itu Dia ....
Friday, January 4, 2019 0 comments

Aku Menemukan Tenang.


Usai.
Itu kata yang kamu ingin aku labuhkan, bukan? Setelah apa yang terjadi di antara kita—segala kisah yang menyisakan lelah—kamu memutuskan untuk melupa. Menuduhku sebagai penyebab air matamu takjua mengering.
Seandainya bisa kaulihat, di dalam hatiku setelah katamu itu, ombak-ombak mulai terbentuk. Ia bagai kekuatan yang bertenaga menghempas-hempas pemecah gelombang di pinggir laut: mulai mengganggu keangkuhanku yang tinggi, yang enggan mengaku salah. Ia sungguh semakin kuat, ketika kusadar, kamu sudah jauh lebih dulu mengalah.
Karena mencintaimu begitu sederhana, tetapi tidak sesederhana itu. Rumit? Ya, seperti itu perjalanan yang kita lalui selama ini. Ketika langkah kita masih jajar dan kata-kata menjadi sesuatu yang selalu kita rangkai—sebelum kamu mematahkannya dengan memilih pergi.
Jadi, sebenarnya siapa yang salah. Kamu atau aku?
Friday, December 28, 2018 0 comments

Padamu, Aku Ingin Menemukan Segalanya.


Kekasih, aku pernah menyimpan sepotong kenangan di balik bingkai matamu yang teduh dan basah - yang lantas gugur satu-satu bersama waktu. Sampai akhirnya aku berhenti melangkah. Sampai akhirnya, aku hanya menitipkan sekumpulan kata di jendela kamarmu. Kata yang kunamakan Aksara Hujan.
Menderu, parau kata-kata itu di sekujur tubuhku, setelah waktu demi waktu yang panjang; kukira kita telah lama hilang, sebab di sepasang lengan seseorang kau akan menempuh perjalanan panjang. Namun di sana, cinta hanya mementaskan tawa yang fana. Meremukkan segala padaku yang tersisa. Dan kini aku tidak tahu bagaimana cara menggunakan hati untuk memercayai kembali.
Di sanalah aku menjaga asa - cinta yang kau anggap fana dan remukkan perasaan dari sebuah kata pergi. Setiap sesak dan lelah. Kini, melalui kata-kata itu, aku menghidupkan jasad kenangan yang telah mati; yang telah baur di udara menjadi abu. Aku menghidupkan segala yang telah kubunuh ketika di sebuah persimpangan jalan, lelah itu bermuara pada kalah. Jalan di mana, kini aku melihatmu kembali berdiri di salah satu sisinya. Haruskah aku kembali memungut rindu yang telah gugur itu?
Monday, December 24, 2018 0 comments

Prancis: Gerakan Rompi Kuning dan Rezim Macron yang Rapuh


Mobilisasi gerakan rompi kuning menandai langkah penting dalam perkembangan perjuangan kelas di Prancis. Selama beberapa minggu terakhir ratusan ribu orang berpartisipasi dalam gerakan ini. Dituntun oleh kemarahan atas harga BBM yang baru-baru ini naik, dari hari ke hari mereka turun ke jalan dan berbenturan dengan polisi. 
Tekad mereka merupakan refleksi dari penderitaan dan kemarahan mereka. Kebijakan Presiden Emmanuel Macron menaikkan harga BBM adalah serangan bagi kelas pekerja, sementara yang kaya mengambil manfaat dari segala macam keringanan pajak, subsidi dan potongan harga lainnya. Gerakan ini memahami bahwa argumen “peralihan ekologi” yang digunakan rejim Macron hanyalah dalih lain untuk menjarah massa rakyat demi keuntungan bagi segelintir parasit kaya.
Friday, December 21, 2018 0 comments

Mengikhlaskanmu Pergi


Pertemuan menjadi alasan aku ingin mengubah setiap jejak di masa silam—setelah hati yang remuk oleh kepergian seseorang yang pernah kucintai begitu lama. Dan di suatu perputaran waktu yang baru, waktu mempertemukanku denganmu. Penantian ini cukup lama untukku, menyimpan segenap rasa dan kujaga cinta agar kelak aku mampu dipertemukan dengan seseorang yang tepat. Seseorang yang kelak akan menjadi bagian terbesar dalam hidupku.
Dulu, aku yakin bahwa cinta ditakdirkan bersemi tanpa nelangsa—akhir yang tiba oleh perbedaan yang semakin bentang. Dan, di jalan yang baru ini, aku mencoba melupakan segalanya dan menyesap secangkir teh—berharap seseorang akan duduk di depanku, bercengkerama hangat. Pada setiap malam yang bergeming, pada takdir yang terukir dan pada harapan yang melambung tinggi. Kulatunkan setiap doadoa yang kuperuntukkan padanya. Dia yang hadir mendatangi tempatku yang sulit untuk diketahui—hati.
Itulah kamu—seseorang yang lantas duduk di hadapanku dan bicara banyak tentang masa depan. Seseorang yang hadirnya tetiba, namun hangatnya lama terasa. Seseorang yang namanya tersemat di antara doaku di sepertiga malam. Di dalam perpisahan aku mati, pertemuan denganmu—menghidupkanku kembali. Biarkan perasaan ini tumbuh layaknya bunga bermekaran atas izin-Nya, yang kusimpan tanpa seorang pun tahu dalam setiap istikharah. Istikharah yang kulalui setelah kaudatang dan meminta ‘tuk menjadi imam dalam hidupku.
Thursday, December 20, 2018 0 comments

Babak Baru Revolusi Prancis


Situasi sosial dan politik Prancis bergerak dengan kecepatan yang sangat tinggi. Selama satu bulan terakhir Perancis dihadapkan dengan mobilisasi sosial besar-besaran. Demonstrasi dan bentrokan terjadi di mana-mana. Blokade jalan berlangsung selama berminggu-minggu di jalanan kota Paris. Para demonstran tanpa lelah terus berhadapan dengan represi polisi.
Dalam satu bulan gerakan rompi kuning telah menempatkan negara ini di ambang krisis revolusioner. Situasi ini semakin menarik lebih banyak elemen gerakan lain, seperti serikat-serikat buruh, mahasiswa, pelajar-pelajar SMA dan juga pekerja kerah putih. Elemen-elemen gerakan yang awalnya hanya menonton kini terlibat dan mendukung gerakan ini. Gerakan ini tumbuh dalam skala dan intensitasnya.
Universitas Paris Nanterre adalah salah satu kampus yang secara radikal memobilisasi mahasiswa dalam merespon demo rompi kuning. Di kampus ini mereka mengadakan rapat akbar yang menghasilkan resolusi yang radikal. Mereka menyatakan bahwa universitasnya akan ikut mogok. Rapat akbar yang digelar di Universitas Nanterre pada tanggal 10 Desember ini dihadiri sekitar 2000 orang, baik mahasiswa maupun pekerja kampus.
 
;