“Apa kabar?” menjadi pertanyaan paling rahasia saat ini. Sesuatu
yang hanya bisa kuucapkan di waktu tertentu dan tidak semua orang tahu.
Satu-satunya yang paling menahu hanyalah takdir. Ia yang menempatkanku di suatu
jarak penglihatanmu yang buta. Di sanalah aku bisa bebas mencintaimu. Mendekap
malamku yang kian dingin dan sesekali gigil tanpa demam.
Aku terus belajar melangkah tanpamu. Menyeruak gugur dedaunan
sendirian, seperti di waktu-waktu silam. Ketika aku belum menemukanmu. Ketika
aku belum tenggelam di samudra matamu yang paling dalam. Belajar melalui semua
itu menjadi tantangan. Menjadi caraku untuk memahami seperti apa takdir
bekerja.
Aku dan hujan sudah jarang sekali bertemu. Seusai aku harus
meninggalkan tempatnya kerap bersemayam dan membangun kembali kehidupan di kota
lama, sesuatu yang tidak ada kamu di dalamnya. Hingga takdir-lah yang menjadi
tempat berkisah apa pun atau sesekali merutukinya yang seenaknya saja
memutar-balikkan segalanya. Ia tidak pernah menanyaiku—beda dengan hujan.







