Realnya,
pas saya masuk KAMPUS, hal yang paling bikin saya seneng karena saya bisa lepas
dari rezim keluarga bapak saya, ya bisa di bilang gitu. Saat masih SMA, apa
yang dibilang kebebasan untuk berpikir dan bertindak itu tidak ada, semua orang
Jawa menurut pada sistem yang lama dan konservatif (menurut saya) dan akhirnya
nelen mentah-mentah aturan yang sebenarnya tidak mereka ngerti. Kalo kata
bahasa politiknya, orang tua Jawa itu adalah cerminan dari feodal anak-anaknya.
Ya sebenernya tujuannya baik, biar anak mereka sukses dengan didikan keras.
Tapi hal negatifnya, hal itu menjadi sebuah sistem balas dendam yang akan terus
berlanjut sampe keturunannya. Keras pendidikan di balas dengan keras pendidikan
juga, tapi kepada keturunannya. Kurang lebihnya kayak gitu.
Impian
saya bisa lepas dari cengkraman budaya konservatif ya karena sistem turun
temurun itu, saya tidak mau nantinya anak saya nerima pendidikan keras yang
konservatif seperti gitu, di atur tanpa ada kebebasan berpendapat sama sekali.
Semua anak harus menuruti perkataan orang tuanya. Apa yang terjadi dengan
Ibrahim, para sahabat nabi yang ortunya jahannam, Marx, Buddha, dan lain-lain
tidak pernah menuruti apa kata ortunya yang konservatif, tapi mereka bahkan
bisa menciptakan pengaruh yang besar bagi dunia.







